Oct
9
Terlalu egoiskah aku karena memutuskan sekolah setelah menikah?
Inilah perenunganku:
Aku memperoleh pertanyaan-pertanyaan berikut dari sebuah milis yang kuikuti
- Apakah angan-angan saya akan mengembangkan bakat saya, perangai dan kebutuhan emosional yang sudah ditanamkan Tuhan dalam diri saya?
Ini pertanyaan yang sangat sulit dijawab.
Cita-cita ini benar mengembangkan bakatku, tapi untuk mengembangkan perangai dan emosional, aku belum tahu pasti. Bukankah setiap tingkatan dan masa dalam hidup adalah saat untuk mengembangkan perangai dan emosi?
- Apakah angan-angan saya merugikan atau merampas sesuatu dari orang lain? Kalau iya, itu artinya angan-angan itu tidak sesuai kehendak Tuhan.
Cita-cita ini akan menunda waktuku memiliki seorang keturunan. Apakah ini bisa dikategorikan merampas “sesuatu” dari orang lain? suamikukah?
- Bersediakah saya memperbaiki hubungan dengan orang-orang lain, bila saya masih menyimpan dendam atau sakit hati, apapun alasannya, karena emosi yang keliru tersebut akan menjauhkan saya dari Tuhan, sumber segala kreativitas. Lagi pula suatu angan-angan mustahil dapat terwujud tanpa adanya hubungan baik antar manusia.
Aku bersedia
- Apakah angan-angan ini benar-benar saya dambakan dengan segenap hati? Angan-angan tidak dapat diwujudkan oleh pribadi yang bimbang, melainkan hanya dengan kebulatan tekad dan hati.
Tuhan tahu seberapa besar aku mendambakan ini sejak lama, dan aku tidak bimbang. Yang kubimbangkan adalah orang-orang yang terimbas dengan konsekuensi penundaan keturunan tadi.
- Bersediakah saya dengan sabar menantikan waktu yang diatur oleh Tuhan
Aku bersedia
- Berapa tingginya angan-angan saya? Semakin tinggi angan-angan itu, semakin banyak orang akan menarik manfaat daripadanya, semakin besar pula kemungkinan bahwa angan-angan itu dari Tuhan.
Menurutku angan-angan ini tinggi, tapi semoga banyak manfaat yang bisa dinikmati oleh orang lain dari cita-cita ini.
Aug
21
Cerita di bawah ini tentang Brian Moore yang berusia 17 tahun, ditulis olehnya sebagai tugas sekolah. Pokok bahasannya tentang sorga itu seperti apa. “Aku membuat mereka terperangah,†kata Brian kepada ayahnya, Bruce. “Cerita itu bikin heboh. Tulisan itu seperti sebuah bom saja. Itulah yang terbaik yang pernah aku tulis.†Dan itu juga merupakan tulisannya yang terakhir.
Orangtua Brian telah melupakan esai yang ditulis Brian ini sampai seorang saudara sepupu menemukannya ketika ia membersihkan kotak loker milik remaja itu di SMA Teays Valley, Pickaway County, Ohio.
Brian baru saja meninggal beberapa jam yang lalu, namun orangtuanya mati-matian mencari setiap barang peninggalan Brian: surat-surat dari teman-teman sekolah dan gurunya, dan PR-nya. Hanya dua bulan sebelumnya, ia telah menulis sebuah esai tentang pertemuannya dengan Tuhan Yesus di suatu ruang arsip yang penuh kartu-kartu yang isinya memerinci setiap saat dalam kehidupan remaja itu. Tetapi baru setelah kematian Brian, Bruce dan Beth, mengetahui bahwa anaknya telah menerangkan pandangannya tentang sorga. Baca selengkapnya »
Aug
12
Temukan rahasia 90/10.
Ini akan mengubah hidup Anda. Rahasia 90/10 sungguh luar biasa! Sangat sedikit orang yang mengetahuinya dan menggunakannya. Hasilnya? Jutaan orang menderita stress yang tidak perlu, pencobaan, masalah, dan luka hati.
Tampaknya tak ada yang beres dalam hidup ini. Setiap hari merupakan hari yang buruk. Hal-hal tak menyenangkan selalu terjadi. Stress yang terus menerus, tak ada sukacita, dan hubungan persahabatan yang retak. Waktu dipenuhi kekuatiran, kemarahan yang meretakkan persahabatan, hidup tampak suram dan tak dapat dinikmati sepenuhnya. Tak ada kawan. Hidup menjadi membosankan.
Apakah anda begitu? Bila ya, jangan patah semangat. Anda bisa berubah! Pahamilah dan gunakanlah rahasia 90/10. Ini akan mengubah hidup Anda.
Bagaimana rahasia itu?
10% hidup Anda adalah yang terjadi pada Anda yang tak dapat Anda hindari. Namun 90% hidup Anda ditentukan oleh bagaimana Anda menyikapi dan bereaksi terhadap yang 10% itu. Baca selengkapnya »
Jul
22
Hari pertama sensei masuk kelas.
Peraturan yang perlu diperhatikan adalah tidak boleh telat, ga boleh angkat HP dan dilarang ke toilet pada jam pelajaran. Tuing… Masa sih seketat itu. Emang, hasrat pipis bisa diatur-atur? Begitulah beberapa teman meributkan peraturan sensei. Iya juga sih, tapi aku ga ada masalah, aku bisa mengaturnya.
Hari berikutnya, hadirin alias partisipan mulai berkurang jumlahnya. Ada laporan kalau kelasnya terlalu ketat dan pelajarannya terlalu cepat. Memang, kecepatan pengajaran sensei di luar kebiasan guru-guru lain, bahkan di luar kebiasaan English native speaker. Katanya untuk membiasakan kami dengan Jepang yang sesungguhnya. Gubrak… jadi Jepang begini? Boleh nggak mengundurkan diri dari beasiswa ini? 
Di hari yang berbeda, beberapa orang mulai pindah ke kelas lain yang mengajarkan subjek lain karena ketinggalan, sensei mulai curhat kalau dia diberitahu panitia untuk mengganti atau memperlambat metode pengajarannya. Memang, sensei ini super duper bersemangat dan kami menyebut dia Energizer. Kadang ketika kepala sudah pusing (Atama gong-gong, dalam bahasa Jepangnya), si sensei masih bersemangat aja. Suit… suit… Baca selengkapnya »
Jun
27
Kecewa melihat keadaan negara yang morat-marit, aku berusaha menganalisis kejadian-kejadian terakhir di Indonesia dengan caraku sendiri di sini. Ini hanyalah sebuah pendapat pribadi.
Pagi-pagi kubuka laptop dan langsung on-line untuk membaca berita di detik.com. Miris campur heran membaca berita teratas di situ. Demo “mahasiswa” anarkis di Sudirman dan beberapa tempat lainnya menghiasi hampir sehalaman penuh detik.com. Mahasiswa kuberi tanda petik karena saking tidak percayanya. Pertama, benar nggak sih mereka itu mahasiswa? Kalau benar, aku sebagai mantan mahasiswa yang baru saja lulus patut mengatakan “Malu dong mahasiswa! Kalau kalian benar-benar membela rakyat, tolong jangan buat susah rakyat dengan kemacetan dan rasa takut atau ketidaknyamanan”. Kalian sebagai kaum intelektual harusnya menyumbangkan pikiran bagaimana pemecahan logis atas ketimpangan APBN sekarang ini, bukan hanya tuntutan-tuntutan.
Tapi, masalahnya adalah “benarkah mereka mahasiswa yang asli?”. Aku curiga kalau mereka itu adalah orang-orang tunggangan, yang dibayar sejumlah uang untuk makan sehari dan rokok, mengenakan jas almamater sebagai samaran, untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu (tujuan sang penunggang tentunya). Mereka bilang itu permainan politik menjelang pemilihan presiden dan wakil presiden 2009. Politik apa itu? Aku nggak pernah dengar jenis politik begitu. Baca selengkapnya »