Review: Wall-E

Film yang sudah kutunggu sejak lama.

Film ini sarat akan makna, mulai dari pesan lingkungan hidup yang kental sampai drama percintaan yang manis. Sedikit berkata banyak berbuat.

Directed by Andrew Stanton;
Written by Mr. Stanton and Jim Reardon,
Semua Umur

Ketika bumi telah habis terekploitasi oleh manusia, bumi pun ditinggalkan begitu saja. Bumi kini penuh dengan sampah. Ada dua mahluk yang masih tinggal di situ, seekor kecoa dan Wall-E, robot pembersih sampah yang lupa dimatikan pemiliknya.

Wall-E bisa mengidentifikasi barang-barang dan fungsinya, bahkan dia bisa mempelajari emosi manusia melalui sebuah video film “Holly, Dolly!”. Film tua dengan koregrafi yang sangat menarik hati Wall-E.

Petualangan dimulai ketika sebuah roket mendarat dekat tempat tinggal Wall-E dan meninggalkan robot pendeteksi bernama Eve. Awalnya sih, Eva kejam, tanpa ampun menembak semua yang dianggapnya mencurigakan, kecuali si kecoa. Tapi akhirnya Eva luluh dengan kebaikan Wall-E. Wall-E jatuh cinta pada Eva sejak pandangan pertama. Terobsesi dengan film “Hello, Dolly!”, Wall-E berusaha memegang tangan Eva, tapi selalu gagal.

Misi Eva selesai saat Wall-E memberikan tumbuhan yang baru ditemukannya. Ketika itu terjadi, Eva langsung off dan menghubungi pesawat induknya. Sementara itu, Wall-E tetap menjaganya dari petir dan hujan. Sampai akhirnya, pesawat roket itu menjemput Eva. Baca selengkapnya »

The Dark Knight

Starring: Christian Bale, Heath Ledger, Aaron Eckhart, Michael Caine, Maggie Gyllenhaal, Gary Oldman, Morgan Freeman
Produced by Emma Thomas, Charles Roven, Christopher Nolan.
Executive producers, Benjamin Melniker, Michael E. Uslan, Kevin De La Noy, Thomas Tull.
Directed by Christopher Nolan
Durasi: 152 menit
Action - PG (Parent Guide)

Film ini secara keseluruhan lumayan untuk ditonton, karena actionnya seru dan mengasikkan. Apalagi film ini diperankan oleh Heath Ledger yang meninggal belum begitu lama sebelum film ini ditayangkan di bioskop-bioskop. Film ini sangat dinanti oleh penggemarnya di seluruh dunia. Tapi salah satu kelemahan film ini yang sangat mengganggu adalah ketidaklogisan beberapa adegan. Di antaranya adalah kehebatan Joker yang tidak masuk akal bisa melawan seluruh perangkat kepolisian dan Batman sendiri.

Joker (Heath Ledger), dalam operasinya, seringkali membunuh partnernya sendiri untuk kepentingan pribadi. Jadi kenapa masih banyak orang yang mau menjadi antek-anteknya. Dalam film ini dijelaskan kalau semuanya karena Joker membayar mereka. Joker tidak memakai peralatan canggih seperti Batman, hanya senjata dan peledak, tapi kenapa dia begitu hebat, melebihi Batman sendiri. Baca selengkapnya »

Review: August Rush

Starring: Freddie Highmore, Keri Russell, Jonathan Rhys Meyers, Terrence Howard, Robin Williams
Directed by Kirsten Sheridan
Written by Nick Castle and James V. Hart
Parental Guide (Menonton dengan bimbingan orang tua)

Louise and August Rush

Louise and August Rush


August Rush, diperkenalkan dengan nama asli Evan Taylor, adalah seorang anak yang tinggal di panti sosial karena ditinggalkan orang tuanya. Dia diberkahi talenta musik yang sangat tajam. Dengan talenta itu juga dia ingin menemukan ibu dan ayahnya yang diyakininya pasti bisa bermusik seperti dirinya.

Dia terlahir dari dua orang pemusik (Louise dan Layla) yang saling mencintai tapi bertemu hanya dalam semalam. Louis adalah vokalis dan gitaris band sedangkan Layla adalah pemain selo. Bakat musik ini pula yang diwariskan mereka kepada August Rush.

Kepergian August Rush dari rumah mempertemukannya dengan Wizard (Robin Williams) seorang penampung anak jalanan yang sering mengamen di jalanan. Sayang sekali, Wizard yang terlihat sangat baik tidak mau melepaskan August Rush karena takut kehilangan mata pencahariannya. Baca selengkapnya »

Review Film-Film Favorit

Inilah sejumlah film-film favoritku dari dahulu sampai sekarang. Mungkin review singkat ini tidak akan sanggup memuat seluruh film kesukaanku, tapi paling tidak beberapa film cukup mewakililah. Jika di lain waktu, kalau ada kesempatan, aku akan membuat kelanjutannya.

NOTTING HILL
Notting HillTidak diragukan lagi, inilah film yang kutonton berulang kali sejak aku masih SMA. Pertama kali aku tertarik adalah karena menonton OST-nya yang berjudul You’ve Got Away (Shania Twain). Film ini sangat romantis dan mungkin mimpi banyak lelaki karena bisa mendapatkan seorang artis terkenal dengan hanya bermodalkan ketulusan hati. Hugh Grant selalu mempesona ketika memerankan seorang pria kalem yang apa adanya. Logat “school boy”-nya yang kental pas dengan kepribadian yang diperankannya. Julia Robert pun tak kalah bagus mengimbangi peran Hugh Grant.

Kenapa film ini begitu membekas?
Aku menonton film ini di saat aku masih SMA. Harus kuakui, gejolak remaja yang penuh emosi ikut menjadi pendukung kesukaanku pada Notting Hill. Tapi, sekarang tetap saja aku suka menontonnya. Ada bagian-bagian yang sanggup membuatku tersentuh dan bahkan menangis, meskipun aku sudah menontonnya keberapapuluh kali. ;)

FORREST GUMP
Film ini kocak, berisi, kreatif dan sarat pesan. Sepertinya tidak ada yang mengatakan film ini gak bagus.

Forrest Gump adalah anak yang ber-IQ di bawah rata-rata dan hidup bersama seorang ibu yang sangat melindunginya, meskipun kadang salah melangkah. Tidak diterima di lingkungan sekolahnya tidak membuat dia mundur. Forrest Gump kemudian jatuh cinta kepada Jenny teman sekolahnya. Cinta itu terus bertumbuh sampai mereka kuliah. Masa lalu Jenny yang kelam membuat kehidupan percintaannya menjadi berantakan di masa kuliah. Jenny pergi dan datang kepada Forrest sesuka hatinya.

Ketulusan hati, keluguan dan positive thinking kemudian membawanya kepada kesuksesan. Beberapa lambang dan kejadian bersejarah ikut dibawa ke film ini, seperti lambang Apple-Mac, smiley, dan beberapa sejarah Amerika. Kreatif banget deh…

Istilah yang sangat terkenal dari film ini adalah “Run Forrest, Ruuuunnn…”. Film ini adalah film non Hollywood yang memenangkan Academy Award-Best Picture.

Kenapa film ini begitu membekas?
Aku menonton film ini waktu kuliah. Udah basi sih… tapi aku kan belum pernah menonton sebelumnnya dan aku begitu terpesona dengan Tom Hanks. Gile, dari mana ya ide sebagus itu.


LOVE ACTUALLY

Film Hugh Grant lainnya yang berisi beberapa cerita cinta yang digabung dengan manis. Film ini bahkan dicontoh oleh salah satu film Indonesia di tahun 2008. Film ini didukung oleh beberapa artis Inggris yang terkenal dan hasilnya bagus banget.

Setting waktu: Desember (Christmas). Persiapan seputar natal membuat film ini penuh salju dan (tetap) keromantisan.

Seorang anak sekolah yang tidak berani menyatakan perasaannya, Perdana Menteri yang jatuh cinta kepada pelayan makanannya, seorang penulis yang baru saja dihianati oleh pacarnya dan menemukan cinta baru, sebuah pernikahan yang terguncang oleh kehadiran orang ketiga yang tak lain adalah sekretaris sang suami dan cerita-cerita lainnya. Ditambah dengan kehadiran Mr. Bean yang kocak.

Dua jempol untuk film ini, sangat menyentuh, padat berisi.

Apa yang membuat film ini begitu membekas?
Cerita paling mengesankan adalah adegan seorang pria akhirnya mau mengungkapkan isi hatinya dengan membuat tulisan-tulisan di atas karton putih, meskipun si cewe-nya udah menikah.

Review: Tri Mas Getir

Pemain: Tora Sudiro, Indra Birowo, Vincent “Club 80s”, Titi Kamal

Kenapa film Indonesia sekarang mutunya semakin menurun? Sepertinya, tidak ada kata pujian yang bisa dikatakan lagi, saking jeleknya. Apa selera kita orang Indonesia memang segitu rendahnya sampai-sampai film Indonesia biasanya, kalo nggak horor, mesum (dari judul aja ketahuan), atau cerita cinta murahan.

Film yang satu ini nggak ketinggalan. Keinginan untuk membuktikan bahwa hipotesis atau dugaan di atas tidak benar, mendorong kami menonton film Tri Mas Getir yang mengusung nama-nama artis papan atas di Indonesia. Ternyata hipotesis itu benar seratus persen. Nama besar artis-artis ini hanyalah nama. Papan promo yang besar terpampang di sudut-sudut jalan Jakarta tidak akan berhasil menaikkan penjualan tiket film ini.

Senin malam, 14 Juli 2008 di BSD Plaza, kami menyaksikan film ini. Kukira film ini akan berhasil membangunkanku dari kantuk. Tiga puluh menit pertama, sungguh membosankan, aku tidak mendapatkan alur film ini sama sekali. Kosong… film ini ga berisi.

Jadi, rasanya aku tidak perlu membuat resensi film ini di sini. Lebih baik, teman-teman tidak usah menyaksikannya, karena hanya buang-buang uang.

Tiga kata untuk film ini: kosong, bingung dan rancu.