Pelajaran dari Sensei (3)

Hari pertama sensei masuk kelas.
Peraturan yang perlu diperhatikan adalah tidak boleh telat, ga boleh angkat HP dan dilarang ke toilet pada jam pelajaran. Tuing… Masa sih seketat itu. Emang, hasrat pipis bisa diatur-atur? Begitulah beberapa teman meributkan peraturan sensei. Iya juga sih, tapi aku ga ada masalah, aku bisa mengaturnya.

Hari berikutnya, hadirin alias partisipan mulai berkurang jumlahnya. Ada laporan kalau kelasnya terlalu ketat dan pelajarannya terlalu cepat. Memang, kecepatan pengajaran sensei di luar kebiasan guru-guru lain, bahkan di luar kebiasaan English native speaker. Katanya untuk membiasakan kami dengan Jepang yang sesungguhnya. Gubrak… jadi Jepang begini? Boleh nggak mengundurkan diri dari beasiswa ini? ;)

Di hari yang berbeda, beberapa orang mulai pindah ke kelas lain yang mengajarkan subjek lain karena ketinggalan, sensei mulai curhat kalau dia diberitahu panitia untuk mengganti atau memperlambat metode pengajarannya. Memang, sensei ini super duper bersemangat dan kami menyebut dia Energizer. Kadang ketika kepala sudah pusing (Atama gong-gong, dalam bahasa Jepangnya), si sensei masih bersemangat aja. Suit… suit… Baca selengkapnya »

Pelajaran dari Sensei (2)

Hari ini, Sensei Haruko membawa mie jepang yang terasa asing di lidah. Tapi karena ini adalah pengalaman berharga, aku mencoba memakannya dan eng-ing-eng… enak bo, kecuali wasabi yang rasanya terlalu menyengat.

Diiringi lagu “furaido” (in english:P Pride) dan Kokoro No Tomo (pasti taulah), satu per satu helai mie masuk dengan lancar ke mulutku. Katanya, kalo di Jepang, makan tanpa bersuara itu menunjukkan makanan yang ditawarkan ga lezat. Jadi harus makan bersuara. Slurup… slurup… nyam-nyam-nyam.

Kejadian beberapa bulan lalu pun berulang.
November 2007, kami bertiga mencoba masakan Jepang di sebuah restoran di Ratu Plaza. Ini kali pertamaku mencicipi makanan “yang benar-benar” Jepang. Enak sih enak, tapi sepulang dari sana, aku sempoyongan. Apa ada unsur sake ya di makanan itu? Ketika kukonfirmasi ke temanku, katanya sih nggak. Jamur merang atau jamur apalah namanya yang mungkin telah mengganggu keseimbanganku. Seharian rasanya sungguh ga enak. Baca selengkapnya »

Pelajaran dari Sensei (1)

Belajar Jepang ternyata mengasyikkan juga. Pertama, nambah pengetahuan bahasa yang pasti terpakai nantinya. Kedua, mengenal budaya Jepang yang ternyata, sangat jauh berbeda dengan kita.

Kami berkenalan dengan Sensei (guru) Haruko (yang artinya: anak musim semi) sebagai native speaker di kelas kami tiga minggu lalu. Kesan pertama, kami merasa dia terlalu tegas dalam menerapkan aturan dan tepat waktu (so pasti).

Karena hitung-hitung ini latihan menuju Jepang, aku pun bertahan di kelas Bahasa Jepang ini. Awalnya kelas kita beranggotakan 30 (tiga puluh) orang, belakangan jumlahnya terdepresiasi menjadi 15 (lima belas) orang. Selidik punya selidik, ternyata karena pengajaran sensei yang sangat cepat yang membuat beberapa anggota mundur. Sehari saja tidak mengikuti pelajaran, rasanya sudah tertinggal beberapa bab. Baca selengkapnya »

Two Important Things In My Life

Dua cita-cita seorang perempuan sepertiku dalam hidup terjadi hampir bersamaan. Kata orang cita-cita ini sulit untuk berjalan beriringan, tapi aku memimpikan keduanya.

Pertama adalah mimpiku membentuk keluarga, punya anak dan hidup bahagia. Mimpi kebanyakan orang di muka bumi. Mimpi keduaku yang mungkin akan bentrok dengan yang pertama adalah keinginanku meneruskan Strata Dua di Luar Negeri.

Kalau dilihat sekilas mungkin terlihat “Dimana bentroknya?”, tapi yang membuatnya berat adalah syarat yang harus kupenuhi untuk memperoleh Strata Dua itu cukup berat. Baca selengkapnya »