Review: Tri Mas Getir

Pemain: Tora Sudiro, Indra Birowo, Vincent “Club 80s”, Titi Kamal

Kenapa film Indonesia sekarang mutunya semakin menurun? Sepertinya, tidak ada kata pujian yang bisa dikatakan lagi, saking jeleknya. Apa selera kita orang Indonesia memang segitu rendahnya sampai-sampai film Indonesia biasanya, kalo nggak horor, mesum (dari judul aja ketahuan), atau cerita cinta murahan.

Film yang satu ini nggak ketinggalan. Keinginan untuk membuktikan bahwa hipotesis atau dugaan di atas tidak benar, mendorong kami menonton film Tri Mas Getir yang mengusung nama-nama artis papan atas di Indonesia. Ternyata hipotesis itu benar seratus persen. Nama besar artis-artis ini hanyalah nama. Papan promo yang besar terpampang di sudut-sudut jalan Jakarta tidak akan berhasil menaikkan penjualan tiket film ini.

Senin malam, 14 Juli 2008 di BSD Plaza, kami menyaksikan film ini. Kukira film ini akan berhasil membangunkanku dari kantuk. Tiga puluh menit pertama, sungguh membosankan, aku tidak mendapatkan alur film ini sama sekali. Kosong… film ini ga berisi.

Jadi, rasanya aku tidak perlu membuat resensi film ini di sini. Lebih baik, teman-teman tidak usah menyaksikannya, karena hanya buang-buang uang.

Tiga kata untuk film ini: kosong, bingung dan rancu.

Review: Hancock

Hancock dan Ray
Genre: Action/Adventure
Starring: Will Smith, Jason Bateman, Charlize Theron, Eddie Marsan
Director: Peter Berg
Screenwriter: Vy Vincent Ngo, Vince Gilligan
Producer: Akiva Goldsman, Michael Mann, Will Smith, James Lassiter

DEWASA (sarat adegan kekerasan)

Film ini bercerita tentang super hero yang gagal mengimplementasikan diri sebagai super hero yang biasanya disukai bahkan diidolakan orang banyak.

Sebenarnya aku kurang suka sosok Will Smith dalam film super hero begini, karena aku lebih menyukai dia di film seperti “Pursuit the Happiness” atau “I Robot” dsb, tapi bukan di Hancock.

Film ini berusaha memasukkan banyak hal sekaligus ke dalam sebuah cerita, jadilah film dengan banyak klimaks. Pertama, peranannya sebagai superhero yang awalnya tidak disukai. Kedua, alasan kenapa dia bisa sampai menjadi super hero. Ketiga, masa lalu Hancock yang sebenarnya dan keempat, kisah cinta segitiga. Fiuh… terlalu kompleks.

Diawali dengan aksi Hancock memberantas kejahatan, film ini berhasil memukauku. Beberapa adegan lucu diselipkan dengan manis. Baca selengkapnya »

Gosip: Bu Sri Mulyani

Tolong maklum tulisan ini dibuat ketika aku sangat buntu dengan persiapan TOEFL IBT yang akan diadakan Sabtu ini, 12 Juli 2008. Ntah kenapa penyakit STAN ku, kebut semalam, kambuh dengan sekenanya. Jadilah gosip ringan ini menjadi bahan pembicaraan.

Jangan berharap gosip tentang Ibu Sri Mulyani ini tentang perekonomian atau kawan-kawannya. Aku sedang tidak ingin berpikir, berbicara, menulis tentang ekonomi, uang atau akuntansi apalagi pajak.

Tadi baru browsing-browsing dan nonton TV, rasanya ada yang aneh pada Ibu Menteri Keuangan kita ini. Apa yaaa… hmmm…
Ahha, Ibu Menkeu kok kurusan ya… :)) hihihihi…
Pusing harga BBM kali, atau stress ngurusin dua posisi sekaligus?

Terlepas dari ketidaksukaanku akan keputusan-keputusannya yang kontroversial seperti membuat STAN jadi berbayar (kayak kartu GSM aja ya) dan lain-lain, aku mengaguminya juga dalam hal kekerasan hatinya menaikkan harga BBM, dan kerja kerasnya di kabinet (ga ongkang-ongkang kaki doang gitu), sampai-sampai dia dinobatkan menjadi Menkeu terbaik, cewe pula. Keren ga tuh? Waaah… kagum.

Apalagi sekarang ibu kurusan, bagi-bagi resep dong Bu caranya kurusan. :))

Alergi Apaan Sih?

Hari ini aku harus mendekam di rumah, dengan bercak merah di sekujur tubuh mulai dari wajah sampai jari-jari kaki. Ditambah dengan gatal-gatal, maka lengkaplah penderitaan ini. Ada sisi positifnya juga sih, aku jadi tidak perlu ke kelas romusha di asrama. ;)

Sampai sekarang aku belum bisa menebak apa gerangan yang menyebabkan alergi ini. Yang pasti, gatalnya berhasil membuatku seperti orang yang nggak mandi tujuh hari-tujuh malam. Garuk sana garuk sini, ga sopan. Aku ga makan aneh-aneh, dari kemaren rasanya biasa saja, pagi makan telor siang makan rendang dan malam soto ditambah pisang sale. Tidur malam jumpalitan karena rasanya sungguh tidak enak.

Akhirnya, aku menarik kesimpulan jangan-jangan alergi ini adalah alergi makanan enak. Bingung… Memang sih, aku minum obat dari dokter, tapi masa sih alerginya belakangan. Itu juga ga masuk akal.

Saat aku menulis post ini, aku berada di kamarku yang nyaman dengan angin sepoi-sepoi alami dari luar jendela. Bisa enak juga kalau alergi begini ya? Tapi nggak mau terulang kedua kali.

NB. Jangan-jangan alergi “kabar buruk” lagi. (Baca post sebelumnya)

Pupus Sudah

Mimpiku bersekolah bersama suami ke Jepang pupus sudah. Panitia Monbukagakusho menyatakan dia gagal di seleksi administrasi. Mungkin karena terlambat atau mungkin juga karena proposal yang kurang bagus. Penjelasan terinci sudah tidak penting lagi.

Aku tidak ingin menyalahkan suamiku atas ini, karena sesungguhnya dia pun tidak se-”semangat” aku. Hiks. Sepertinya aku terlalu memaksakan diri ya, memintanya mendaftarkan diri ke Jepang sementara dia begitu ingin S2 di tempat lain?

Kekecewaanku ini tidak bisa kusembunyikan. Fuih, rasanya seperti mengubur mimpi tujuh tahun dalam sehari. Sedikit berlebihan, tapi beneran rasanya memang seperti itu.

Kucoba bersikap dewasa, mengambil sisi positif dari kejadian ini. Dengan begini, kami bisa mengawasi KPR yang baru saja kami layangkan, atau mengontrol pembangunan rumah tersebut, kalau kredit ini gol. Tapi sungguh, aku masih berat untuk perpisahan dua tahun, meskipun sebenarnya aku sudah bersiap untuk kemungkinan ini sejak lama.

Kenapa juga aku memaksakan kehendakku bersama ke Jepang? Toh awalnya tidak ada rencana bersama dan jelas ini mimpiku, bukan mimpinya. Egois!

Menjadi egois itu ternyata bisa berujung kesedihan begini ya.

Rp 70 juta/bulan dari bisnis di internet? Klik di sini dan temukan caranya!