Internet Masuk Asrama

Rasanya pengen teriak oi, akhirnya ada internet di asrama yang nan kelam ini. Jadi bisa menyapa teman-teman lagi deh. Paling tidak, selama 4 bulan ke depan aku bisa cas-cis-cus lagi nih.

Mungkin beberapa saat ke depan, aku akan mencoba menulis dalam Bahasa Inggris, melatih kemampuan tak seberapa ini. Teman-teman kasih masukan dong (sedikit memaksa). Ga apa-apa kan, janji tulisannya pasti mudah dicerna karena masih miskin pengetahuan. Bukan bermaksud sombong, tapi beneran ingin berlatih saja.

Aku punya banyak cerita nih…
Simak terus ya blognya… sambil berlatih Bahasa Inggris.

Now, let’s talk in English.
See you

Kembali ke Peradaban

Ini adalah kali pertama aku menyentuh internet setelah 2 minggu di kurung di asrama. Sebentar menyentuh peradaban, rasanya gimana gitu. Email unread menumpuk sampe ribuan, friend-request di fs pun banyak menumpuk (seolah-olah, aku tenar banget yah).

Halow semua… Apakah kalian merindukan aku? Tentu tidak, kan postingannya terus ada, meskipun sebenarnya bukan aku yang uplod, aku cuma ngetik doang terus minta bantuan abang buat di-uplod.

Hari ini adalah satu-satunya hari tanpa kuliah Bahasa Inggris yang semakin hari kok rasanya semakin membosankan. Apalagi ditambah embel-embel target yang hampir mustahil, rasanya semakin menyesakkan.

Tapi tunggu dulu, ini adalah kesempatan dalam hidup. Kenapa harus diributkan? Cita-cita telah jadi nyata, eh… malah mengeluh. Puhhh! Jauh-jauh deh tu keluhan. Tapi sungguh hari ini menyenangkan, bayangkan aja, peradaban gitu loh, internet, teve dan udara bebas. :)) (Macam betuuulll) Baca selengkapnya »

High Pressure, Frustated

Day 4 (28 Maret 2008)

18.25
Ketidakmampuan ditambah dengan kebosanan membuatku semakin tertekan. Ini adalah kombinasi yang sempurna. Mungkin lebih sempurna jika ditambah suasana horror gedung tempat kami tinggal.

Panitia pelatihan ini dimodali dengan modal yang tinggi. Rasanya tidak etis untuk menolak kesempatan emas ini. Ke Jepang meneruskan program S2 adalah mimpiku sejak lama. Membayangkan Tokyo yang adalah dunia “lain” bagiku, universitas yang kutuju, dan beberapa teman bermata sipit adalah gambaran yang sudah lama memenuhi kepalaku. Awalnya seperti mimpi kosong, tapi lama-kelamaan mimpi itu menunjukkan dirinya.

Wajarkah kalau sekarang aku mengeluh? Tidak dan tidak akan pernah wajar. Tapi bolehkanlah aku menuliskannya, karena rasanya sudah di berkumpul di ubun-ubun.

Inilah kegiatanku sehari-hari:
06.00 Absen pagi di sekretariat (di mana sih absen sepagi ini?), mandi, berkemas, dst.
07.00 Sarapan
08.00 Course I: Reading
10.00 Coffee Break
10.15 Course II: Listening
12.15 Makan siang
13.15 Course III: Writing
15.15 Coffee Break
15.30 Course IV: Speaking
17.30 Courses Finished
19.00 Makan Malam
21.00 Absen malam (absen lagi)

Dan begitulah juga keesokan harinya. English is our blood. Apapun itu artinya. Baca selengkapnya »

Asrama, Hari Pertama

Day 1 (24 Maret 2008)

6.12 am
Masuk Asrama,

Kesan kamar yang jarang ditinggali sangat terasa. Pertama masuk saja, rasanya kusam dan kurang terurus. Anehnya, aku bisa tidur nyenyak, padahal biasanya tidak bisa tidur dalam kamar baru, tapi sungguh di luar dugaan tidurnya bisa senyenyak itu.

Pagi ini aku terbangun dari tidur dan bisa menghirup udara segar. Baru saja kudongakkan kepalaku ke luar pintu, aku melihat mas Dwi di beranda kamarnya. Mas Dwi adalah kakak kelas yang juga mengikuti program S2 ini. Jadi kami berada dalam asrama karantina yang sama.

Berhubung aku belum mandi dan kamar mandi masih dipakai oleh teman sekamarku (Mbak Titi), rasanya nggak salah menulis dulu. Laptop ini kubeli khusus untuk acara beginian, di mana aku akan kesepian tanpa kompi dan bunyi mp3.

Huf… Mari memulai hari yang bersemangat. Tuhan, bantu Irene ya!

Dilema Perempuan

lambang perempuanKetika seorang perempuan single menginjak usia 25 tahunan, orang-orang disekitarnya akan bertanya begini
“Kapan kawin? Udahlah, ga perlu lama-lama, ntar keburu tua”

Pertanyaan itu semakin mengiang ketika usia bertambah 26, 27, 28,, 29 apalagi 30 dst., dunia sekitar semakin memanas. Ditambah intimidasi jam biologis seorang wanita hamil. Apa mereka nggak tahu kalau Halle Berry melahirkan normal di usia 39?

Atau, ketika kamu menemukan seorang yang tepat (dari sudut pandangmu) dan memperkenalkan dengan keluarga besar, maka muncul pertanyaan baru “kok si”anu” sih? nggak ada yang lain apa?”

Tapi pertanyaan itu tidak juga akan berakhir setelah menikah. Contoh pertanyaannya benar-benar klasik “udah isi belum?”. Pertanyaan ini terdengar asing di telinga orang Sumatera, karena artinya tidak denotatif. Maksud dari pertanyaan ini adalah “udah hamil belum?”

Dari pengalamanku, setelah menikah 3 bulan aku sudah mendengar pertanyaan serupa berpuluh kali. Padalah seperti kita tahu bersama, aku harus menunda kehamilan untuk menempuh pendidikan S2 yang mewajibkan untuk tidak hamil terlebih dulu. Awalnya aku menerangkan panjang lebar sebab musabab penundaan kehamilan dan masalah “kenapa belum isi” kepada setiap orang yang bertanya.

Pada pertanyaan keberapa puluh, akhirnya aku menyerah dan menjawab singkat “belum”.
Ternyata rentetan pertanyaan berikutnya lebih panjang lagi?
“kenapa belum isi?”
“kecapean ya?”
“udah periksa dokter belum?”

ditutup dengan…
“Cepetan dong, tar usianya keburu tua” (loh kok terdengar seperti bunyi sebelum menikah ya?)

Tapi teman-teman, apapun itu bunyinya, jangan mau ambil pusing. Sebagai orang dewasa, kita adalah perempuan mandiri dalam mengambil keputusan. Di sekitar kita ada banyak orang yang peduli, sekedar peduli, seolah peduli atau bahkan supaya terkesan peduli. Kadang mereka berucap, tidak beberapa menit langsung lupa.

So, tetap semangat dalam menjalani hidup!