Salju di Nagoya

Apartemen, 24 Januari 2009

Salju di Nagoya nggak banyak, turun seperti hujan dan tidak menumpuk. Setelahnya langit langsung cerah.

Inilah salju pertamaku. Kalau dipegang saljunya langsung cair seperti es serut yang halus.

menjelang-hujan-salju Baca selengkapnya »

Berbelanja di Akanoren

23 Januari 2009

akanorenSebenarnya ini bukan kali pertama berbelanja di Akanoren. Kemaren, sehabis diantar Shimizu dari Nagoya Daigaku (MeDai), kami sempat berbelanja di Hyaku En (100 Yen)nya. Tapi bedanya, kali ini kami tidak ditemani oleh seorang Jepang atau seorang pendamping dan kami belanja di supa (supermarket). Kami hanya berdua, Hani dan aku ingin membeli sayur dan perlengkapan dapur yang lainnya.

Bingung benar mencari bahan-bahan di tempat ini, apalagi tulisannya semua dalam kanji. Temanku muslim, jadi dia harus lebih teliti memilih makanan, apakah ada kandungan babi atau tidak. Sampai di tempat sayur, kami kaget, wuuuiii… harganya bo, kalo dirupiahkan mahal banget. Tapi ingat satu perintah “Ketika belanja, jangan pernah merupiahkan harga, tar stress”. Tetep aja otomatis kami merupiahkannya. Baca selengkapnya »

Perkembangan Terbaru

20 Januari 2009 (Selasa)
08.45
Apato

Shimizu menjemput kami, padahal aku belum mandi. Gimana mau mandi sedingin ini. Saat itu aku belum menyadari ada air hangat. Jadi langsung caw ke kampus buat orientasi dsb dsb.

Butuh waktu sekitar 15 menit berjalan kaki ke subway terdekat (Aratama Bashi), 10 menit di atas subway (coba kuingat apa saja stasiunnya, Mizuho Undojo-Sogo Rihabiri Center-Yagoto-Yagoto Nisseki-Nagoya Daigaku). Nagoya Daigaku (Universitas Nagoya) adalah tujuan akhir dengan exit door 1. Caile… hapal. Dari stasiun Nagoya Daigaku, butuh 5 menit lagi mencapai gedung GSID.

Pertemuan kami dengan para staff lumayan menjelaskan apa itu GSID, apa yang harus dilakukan, kapan ujian dilaksanakan, dst. Hari itu juga kami bertemu dengan para senpai (senior) kami setelah Shimizu san meninggalkan kami dan berjanji datang lagi dua minggu mendatang. Mereka menjelaskan lebih jauh, apa saja yang diperlukan seperti membeli tiket berlangganan subway, sepeda dan barang-barang elektronik. Kami juga diberitahu bahwa apato kami itu sangat mahal dan jauh dari kampus, jadi kami memutuskan untuk pindah dalam waktu dekat.

Siangnya, kami mencoba makan di kantin kampus yang persis terletak di seberang gedung GSID. Ada makanan halal di sana. Tapi tetap aja rasanya masih aneh di lidah. Aku memilih ayam dan nasi. Ada rasa apa gitu yang belum pas, hehehe… Baca selengkapnya »

Welcome To Japan (Yokoso Japan)

Lembar baru dalam hidup mulai kubuka. Jepang menjadi rumah ketigaku setelah Kabanjahe dan Jakarta.

Jakarta, 18 Januari 2009 (Minggu)
18.30 – 20.30

Aku tiba di bandara ditemani keluarga yang mengantarkan sampai ke terminal E. Rasanya bercampur aduk, terlebih-lebih ketika harus menyadari “this is the time”. Sebenarnya aku sudah berjanji dalam hati untuk tidak menangis saat itu, tapi suasana bandara itu membuatku meneteskan air mata juga.

Kami berangkat bertiga, aku-Huda-Hani. Rasanya seperti melepaskan sebagian kulitmu dan pergi tanpa kemungkinan memakai kulit itu lagi. Apakah gambaran itu terlalu tragis. Nggak juga, karena sakitnya sama seperti itu, hanya saja sakit dalam hati.

Daniel-Irene

Rere-Iren-Rahel

Jumlah pengantarku termasuk banyak, ada mertua, eda sekeluarga, Rere, Rahel dan si abang tentu saja. Yang menangis cuma aku, tapi aku melihat mata-mata mereka memerah saat aku memasuki pintu airport. Oh iya, aku melihat Rahel meneteskan air matanya, thanks ya buat kadonya. Buat Lasma juga yang sudah datang ke rumah buat bantu-bantu mengepak barang, buat Rere dengan kado, oleh-oleh wayang dan hantarannya. Jadi terharu kalau ingat ini lagi. Rasanya: “ternyata banyak orang mengasihiku”. Baca selengkapnya »

Pasar Kabanjahe Terbakar

Tiga hari yang lalu, tepatnya jam 2 dini hari, Pasar Kabanjahe yang biasanya kami sebut dengan Pajak Kabanjahe kotaku terbakar. Rasanya agak janggal, pasar yang tidak dihuni pada malam hari itu bisa terbakar sampe 1000-an kios di waktu-waktu orang sedang terlelap. Apa yang membuatnya terbakar ya? Biarlah yang berwajib yang mengungkapnya.

Pasar ini sudah ada sejak aku kecil di sana. Pasar ini juga merupakan bagian sejarah hidupku dan Kabanjahe. Banyak orang kehilangan kios berikut barang-barangnya.

Aku sempat mengambil foto pasar Kabanjahe ketika pulang ke sana dan berbelanja pakaian tanggal 13 – 17 Desember 2008.

pasar-kabanjahe-2008-1

pasar-kabanjahe-2008-2

pasar-kabanjahe-2008-3

Rp 70 juta/bulan dari bisnis di internet? Klik di sini dan temukan caranya!