Kereta Ekspres yang Tak Ekspres

Perjalanan Serpong-Palmerah terasa sangat panjang karena keterlambatan KRL Sudirman pagi ini. Fuih…

Biasanya KRL Ekspres Sudirman berangkat 06.20 WIB dari Serpong dan tiba di Palmerah sekitar 06.50 WIB. Tapi ntah karena alasan apa, keberangkatan ditunda sampai 06.30. Pengumuman keterlambatan kudengar sehabis membeli tiket.

Rasanya tak akan berpengaruh banyak dengan 10 menit keterlambatan. Tapi pada kenyataannya keterlambatan 10 menit molor menjadi 17 menit. Memang setelah 10 menit, suara nang-ning-neng-nong-neng terdengar dari pengeras suara stasiun, tapi tetap saja kereta tidak bergeming. Lima belas menit, pintu ditutup dan dibuka lagi, berulangkali sampai 17 menit berlalu. Barulah setelah penyiksaan 17 menit, kereta perlahan berangkat. Sepertinya, pengaretan waktu ini untuk memberikan waktu pada penumpang KRL Depok yang seharusnya berangkat 06.30.

Bagian yang tidak mengenakkan adalah ketika KRD (kereta diesel) datang dari arah Rangkas Bitung 06.30. Setelah 2 menit berhenti, KRD melaju mendahului kereta yang ekspres ini.

Ingin sekali rasanya bertanya kepada petugas pemeriksa tiket kenapa hari ini terlambat sekali, tapi mungkin karena penumpang yang berjubel sebagai akibat akumulasi 2 kereta sekaligus (KRL Sudirman dan Depok), maka petugas ogah memeriksa tiket.

Biasalah, aku paling tidak bisa bertoleransi dengan waktu, apalagi ini bersinggungan dengan pemotongan penghasilan, ;) . Tiba di Palmerah, kulirik jamku. Jarum panjang sudah di angka 07.10, apakah aku sanggup sampai kantor 07.30?

Kucoba menangkap bayangan teman-teman yang biasa bersamaku naik taksi, tapi nihil, semuanya tidak ada. Tanpa membuang waktu, kupanggil abang ojek yang sudah melambaikan helmnya. Syukur banget tuh abang memacu motornya secepat kilat. Ya, setara kilat-lah,:p buktinya aku sampai di kantor 07.25 padahal harus muter via Kuningan karena jalur Plaza Semanggi ke Sudirman ditutup.

Yay…
Pada PJKA, tolong jangan terlambat lagi ya. Deg-deg-an nih.

27 Dresses

27 dresses

27 dresses 1

Sutradara: Anne Fletcher
Ditulis oleh: Aline Brosh McKenna
Pemain: Katherine Heigl, James Marsden, Edward Burns, Malin Akerman
Durasi: 107 min
DEWASA

Film drama komedi romantis yang menyentuh. Ide ceritanya biasa tapi cara penyampaiannya membuat film ini menarik.

Pernah menjadi pengiring pengantin? Aku pernah, tapi tidak lebih dari sekali. Jane yang diperankan Katherine Heigl dalam film ini telah menjadi pengiring pengantin 27 kali dan belum pernah menjadi pengantinnya sendiri. 27 gaun dikoleksinya di dalam sebuah lemari yang sudah overload.

Seorang penulis-Kevin Doyle tertarik melihat kebiasaan Jane yang unik, terlebih malam ketika mereka bertemu, Jane menghadiri dua pernikahan sekaligus. Ketertarikan ini memunculkan ide untuk menulis tentang Jane di surat kabar tempatnya bekerja. Liputan pun dimulai dengan memfoto 27 gaun pengiring pengantin itu. Read the rest of this entry »

Seputar Indonesia, 7 Maret 2008

Sebagai seorang lulusan/alumni, ingin rasanya membahas kolom “Kilas” di koran Seputar Indonesia hari ini

Halaman 14

MENKEU JADIKAN STAN SEBAGAI BLU

Jakarta (SINDO)-Departemen Keuangan (Depkeu) akan menjadikan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) menjadi badan layanan umum (BLU) yang memiliki di lingkungan Depkeu. “Kita sedang memproses STAN menjadi BLU yang memiliki kewenangan dan keleluasaan untuk mengumpulkan dana sendiri” kata Menkeu Sri Mulyani Indrawati ketika melantik Ani Ratnawati sebagai Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Depkeu di Jakarta kemarin.

Menkeu minta agar perubahan STAN menjadi BLU tidak semata-mata didasari keinginan memperoleh kewenangan dan keleluasaan mengumpulkan dana sendiri. “Saya mencurigai banyak pihak ingin perubahan jadi BLU itu, lebih karena tidak ingin direpotkan masalah keuangan negara dalam proses budgeting, bukan karena secara murni ingin membentuk BLU untuk memberikan pelayanan,” katanya.

Menurut Menkeu, walaupun ke depan ada peluang lulusan STAN tidak bekerja di Depkeu, sebagian besar lulusan akan tetap bekerja di lingkungan Depkeu.” Jadi kalau mau lihat kualitas STAN, lihat kualitas Depkeu. Kalau institusi ini (Depkeu) masih dimaki-maki dan dinilai jelek, ya itulah kualitas STAN,” katanya.

Selesai membaca paragraf terakhir, aku terhenyak. Sebelumnya aku meminta maaf tentang bahasan ini. Ini hanyalah buah pemikiranku sebagai bentuk kekurangsetujuan dengan pernyataan di paragraf terakhir. Read the rest of this entry »

Betapa Menakutkan Wajahku

Jam komputer sudah menunjukkan pukul 15.05 WIB, rasanya waktu sangat cepat berlalu. Ternyata sedari tadi aku sudah menghabiskan waktu di depan monitor, seliwar-seliwer mencari data dan kembali lagi ke depan monitor dengan tidak lupa mencantelkan headphone untuk mendengar lagu-lagu kesukaan. Jari tangan pegal di setiap ruasnya karena sudah kerja keras memencet tombol-tombol keyboard berjam-jam.

Sesekali kubuka site kepegawaian, manatau ada pengumuman diklat bahasa untuk persiapan program S2-ku. Tapi mataku berhenti di satu pengumuman lain. Hmmm… wawancara program S2 lagi. Ah, program yang kuikuti sungguh lamban pergerakannya. Pengumuman ini malah membuatku semakin lesu. Read the rest of this entry »

Dear Mom,

Siang itu Ibu tidak pergi ke sekolah untuk mengajar, cuti katanya, demi mengurus tetek-bengek pernikahanku. Senang rasanya mendapatkan perhatian sebegitu besar. Kami menuju pasar kain untuk memilih “uis nipes” yang akan dipakai pada hari H nanti. Warna-warni uis beragam, tapi ternyata bukan itu penilaian utama. Ibuku lebih mengerti kain itu dibandingkan aku. Jadi, kubiarkan dia memilihkannya untukku. Pilihannya jatuh pada sebuah kain merah bergaris warna-warni yang harganya empat ratus ribu rupiah. Menurutku harga itu cukup mahal buat sehelai kain begitu, tapi setelah tahu bagaimana pembuatannya, barulah aku mengerti.

Lama memilih, kami pun akhirnya kelaparan. Sebelumnya, aku memaksa ibu untuk membeli kain itu dulu baru makan. Jika seandainya kain yang tepat belum terbeli, kami bertekad tidak makan dulu. Kasian juga melihat Ibu yang kelaparan. Kami berdua singgah di warung makan kecil tempat makan kami waktu aku kecil dulu. Detik-detik terasa cepat berlalu, aku sangat menikmati saat-saat makan kami.

Itu hanya sepotong kecil persiapan pernikahanku yang sangat melibatkan ibu. Pesta pernikahan telah selesai, tapi ingatan-ingatan persiapan pernikahan jauh lebih berkesan dari sekedar pesta. Ketika semua anggota keluarga heboh membeli tiket pulang dari seluruh penjuru Indonesia, Lampung-Surabaya-Manokwari dengan harga peak-season yang menjulang, ketika perhiasan tidak sempat dibeli dan harus dipinjam dari Kak Erika, ketika kakak dan orang tua sibuk membagikan undangan yang jumlahnya hampir seribu itu, ketika jam kerja pun kadang dikorbankan demi melipat undangan, ketika lembur malam diperpanjang demi menunggu hantaran jas yang mepet, ketika malam menjelang pernikahan jam tidur harus dipotong… semuanya itu sangat membekas di ingatan. Read the rest of this entry »

Halaman 5 dari 33« Pertama...«34567»...Terakhir »