High Pressure, Frustated

Day 4 (28 Maret 2008)

18.25
Ketidakmampuan ditambah dengan kebosanan membuatku semakin tertekan. Ini adalah kombinasi yang sempurna. Mungkin lebih sempurna jika ditambah suasana horror gedung tempat kami tinggal.

Panitia pelatihan ini dimodali dengan modal yang tinggi. Rasanya tidak etis untuk menolak kesempatan emas ini. Ke Jepang meneruskan program S2 adalah mimpiku sejak lama. Membayangkan Tokyo yang adalah dunia “lain” bagiku, universitas yang kutuju, dan beberapa teman bermata sipit adalah gambaran yang sudah lama memenuhi kepalaku. Awalnya seperti mimpi kosong, tapi lama-kelamaan mimpi itu menunjukkan dirinya.

Wajarkah kalau sekarang aku mengeluh? Tidak dan tidak akan pernah wajar. Tapi bolehkanlah aku menuliskannya, karena rasanya sudah di berkumpul di ubun-ubun.

Inilah kegiatanku sehari-hari:
06.00 Absen pagi di sekretariat (di mana sih absen sepagi ini?), mandi, berkemas, dst.
07.00 Sarapan
08.00 Course I: Reading
10.00 Coffee Break
10.15 Course II: Listening
12.15 Makan siang
13.15 Course III: Writing
15.15 Coffee Break
15.30 Course IV: Speaking
17.30 Courses Finished
19.00 Makan Malam
21.00 Absen malam (absen lagi)

Dan begitulah juga keesokan harinya. English is our blood. Apapun itu artinya. Read the rest of this entry »

Asrama, Hari Pertama

Day 1 (24 Maret 2008)

6.12 am
Masuk Asrama,

Kesan kamar yang jarang ditinggali sangat terasa. Pertama masuk saja, rasanya kusam dan kurang terurus. Anehnya, aku bisa tidur nyenyak, padahal biasanya tidak bisa tidur dalam kamar baru, tapi sungguh di luar dugaan tidurnya bisa senyenyak itu.

Pagi ini aku terbangun dari tidur dan bisa menghirup udara segar. Baru saja kudongakkan kepalaku ke luar pintu, aku melihat mas Dwi di beranda kamarnya. Mas Dwi adalah kakak kelas yang juga mengikuti program S2 ini. Jadi kami berada dalam asrama karantina yang sama.

Berhubung aku belum mandi dan kamar mandi masih dipakai oleh teman sekamarku (Mbak Titi), rasanya nggak salah menulis dulu. Laptop ini kubeli khusus untuk acara beginian, di mana aku akan kesepian tanpa kompi dan bunyi mp3.

Huf… Mari memulai hari yang bersemangat. Tuhan, bantu Irene ya!

Dilema Perempuan

lambang perempuanKetika seorang perempuan single menginjak usia 25 tahunan, orang-orang disekitarnya akan bertanya begini
“Kapan kawin? Udahlah, ga perlu lama-lama, ntar keburu tua”

Pertanyaan itu semakin mengiang ketika usia bertambah 26, 27, 28,, 29 apalagi 30 dst., dunia sekitar semakin memanas. Ditambah intimidasi jam biologis seorang wanita hamil. Apa mereka nggak tahu kalau Halle Berry melahirkan normal di usia 39?

Atau, ketika kamu menemukan seorang yang tepat (dari sudut pandangmu) dan memperkenalkan dengan keluarga besar, maka muncul pertanyaan baru “kok si”anu” sih? nggak ada yang lain apa?”

Tapi pertanyaan itu tidak juga akan berakhir setelah menikah. Contoh pertanyaannya benar-benar klasik “udah isi belum?”. Pertanyaan ini terdengar asing di telinga orang Sumatera, karena artinya tidak denotatif. Maksud dari pertanyaan ini adalah “udah hamil belum?”

Dari pengalamanku, setelah menikah 3 bulan aku sudah mendengar pertanyaan serupa berpuluh kali. Padalah seperti kita tahu bersama, aku harus menunda kehamilan untuk menempuh pendidikan S2 yang mewajibkan untuk tidak hamil terlebih dulu. Awalnya aku menerangkan panjang lebar sebab musabab penundaan kehamilan dan masalah “kenapa belum isi” kepada setiap orang yang bertanya.

Pada pertanyaan keberapa puluh, akhirnya aku menyerah dan menjawab singkat “belum”.
Ternyata rentetan pertanyaan berikutnya lebih panjang lagi?
“kenapa belum isi?”
“kecapean ya?”
“udah periksa dokter belum?”

ditutup dengan…
“Cepetan dong, tar usianya keburu tua” (loh kok terdengar seperti bunyi sebelum menikah ya?)

Tapi teman-teman, apapun itu bunyinya, jangan mau ambil pusing. Sebagai orang dewasa, kita adalah perempuan mandiri dalam mengambil keputusan. Di sekitar kita ada banyak orang yang peduli, sekedar peduli, seolah peduli atau bahkan supaya terkesan peduli. Kadang mereka berucap, tidak beberapa menit langsung lupa.

So, tetap semangat dalam menjalani hidup!

Bertempur Melawan Waktu

Waktu bergulir begitu cepat, bersaing dengan kesibukan yang semakin terasa menekan. Target-target berat dipasang untuk memburu waktu yang takkan pernah menunggu.

Pekerjaan di kantor hampir berakhir, tapi ternyata waktu yang menipis membuatku harus bertempur untuk menyesuaikan target dan jadwal. Besok semua pekerjaan kantor harus selesai dan itu tandanya genderang kuliah dibunyikan. Badan pasti sulit beradaptasi dengan kejutan baru ini. Kuliah lagi?

Aku adalah tipe manusia yang tidak bisa melampaui sebuah perjalanan hidup tanpa perjuangan. Jika aku tidak berusaha aku pasti gagal. Doorprize saja aku tidak pernah dapatkan sampai akhirnya memecahkan rekor pas perpisahan kemaren. Itu pun karena yang diberi hadiah 5 di antara 9 orang, :)). Anyway, rasanya doorprize dan perjuangan tidak terlalu berhubungan, tidak perlu dibahas lebih lanjut.

Untuk bisa lulus ujian, aku tidak akan lulus tanpa belajar. Otakku tidak cukup bervolume menghadapinya tanpa belajar. Apalagi hapalan, aku pasti mati kutu. Masih kuingat waktu 3 SD aku disuruh hapal perkalian. Dan seperti dugaan, aku pun kena pukul berkali-kali #-o. Aku sangat menyesalkan sistem pendidikan seperti itu karena semakin sering dipukul aku bukannya makin rajin tapi makin buntu dengan sedikit trauma. Aku kemudian bisa menghapalnya ketika bertemu dengan seorang guru Matematika kelas 5 SD dengan sistem pengajaran logika. Kenapa perkalian ini begini dan begitu dan aku hapal dengan sendirinya. Read the rest of this entry »

Jya Matta Ne

hiraganaJudulnya aneh ya? Itu bahasa Jepang yang artinya “sampai bertemu lagi”, setidaknya begitulah Rere (guru Jepunku - Saikou (^o^)d ) pernah mengajariku.

Dream comes true. Waktu SMA aku bercita-cita meneruskan kuliah seperti banyak orang, terselip keinginan untuk kuliah di luar negeri. Keinginan itu tinggallah keinginan karena pada saat itu perekonomian keluarga tidak memungkinkan, mencari beasiswa pun aku belum tahu caranya.

Sekarang, kesempatan itu terbuka. Dulu pernah aku melamar ke program S2 di kantor, tapi terbentur kurangnya masa kerja 7 hari. Alasan yang aneh, tapi lupakan saja. Pokoknya tahun ini, aku berhasil ke dalam program S2 yang sama. Aku bahkan sempat meminta doa teman-teman melalui blog ini ketika ujian berlangsung. Terima kasih ya sudah mendoakanku.

Program ini memungkinkanku menapakkan kaki di Jepang, kota yang bagiku sangat eksotis (alasannya kenapa eksotis aku pun tidak tahu jelas, :p ). Mungkin karena komik, kartun mulai doraemon, ultraman sampai naruto dkk yang sangat kusuka itu. Atau mungkin juga karena kesukaanku pada novel Memoirs of Geisha yang begitu menonjolkan kebudayaan Jepang (Lagi-lagi kejadian ini mengingatkanku pada Rere. Apa mungkin ya Re, kita mengalami isi novel “40 Days in Europe” yang nggak kalah menarik itu).

Seperti mimpi yang bergulir dan disambut kenyataan, Jepang sudah di depan mata (yah, setahun maksimal sudah harus di Jepang, masih lama juga sih.). Rasanya masih seperti mimpi tapi perjuangan baru akan dimulai.

Terima kasih Tuhan, Engkau menjadikan semu indah pada waktunya. Biarlah apapun yang Engkau berikan padaku ini akan kembali padaMu sebagai sebuah kemuliaan. Aku tahu aku tidak sendiri menapaki jalan yang masih asing bagiku, tapi ada Engkau yang akan mengiringi langkahku, memegang tanganku. Biarlah sukacita ini tidak membawa kesombongan tapi biar nyata bahwa ini adalah karyaMu dalam hidupku. Terpujilah namaMu di atas segala nama.

Jya Matta Ne

Halaman 4 dari 33« Pertama...«23456»...Terakhir »