My Parents
Seorang wanita berangkat pagi sekali untuk mengejar waktu ke sekolah dasar tempat ia bekerja. Dia meninggalkan kesibukan paginya di rumah. Belum jauh melangkah, jalanan mulai macet. Ada sekerumunan orang di persimpangan jalan, di depan SMP, riuh membicarakan sesuatu yang berada di tengah. “Mungkin kecelakaan” duganya.
Buru-buru dipicu rasa ingin tahu, dia menerobos kerumunan, secercah kekhawatiran menjalari hatinya “mungkinkah itu anakku? ooh tidak, anakku gak mungkin di sini, pastilah dia sudah masuk ke gerbang sekolah sedari tadi” sembari dia menoleh ke arah gerbang kecil sekolah yang sudah ditutup.
Setiba di tengah, dia terjongkok kaget melihat sesosok anak perempuan tergeletak bersimbah darah tak jauh dari bangkai motor yang terguling. Dia bertanya dalam hatinya “Kenapa? Kenapa? Kenapa semua orang hanya mengerumun tapi tidak menolong?”.
Melupakan waktu yang telah memaksanya pergi tadi, dia mengangkat sosok asing berseragam SMA yang diterlantarkan itu. Beberapa orang memperingatkan dia kalau dia tidak perlu melakukannya, karena sia-sia saja. Belum sempat kata-kata itu terserap, dia sudah menaiki angkutan umum ke Rumah Sakit terdekat.
Seragam guru yang dipakainya bernoda darah. Harapan untuk pergi ke sekolah sirna sudah. Sedikit kelegaan boleh diraihnya, pertama, bukan anaknya yang kecelakaan. Kedua, anak perempuan yang ternyata berseragam SMA korban kecelakaan itu selamat, meskipun belum sadar sepenuhnya. Belum lama dia menikmati kelegaannya, segerombol orang menghampiri yang ternyata sebagian berseragam polisi, sisanya adalah keluarga korban.
Yang didapatnya bukan ucapan terima kasih, tapi hinaan dan interogasi panjang seolah dialah pelaku kecelakaan itu. Belum lagi keluarga korban merasa diberatkan kalau anaknya dirawat di Rumah Sakit yang membebankan biaya besar untuk perawatan.
Keesokan harinya, pihak sekolah dasar pun tak mau mengerti dengan alasan ketidakhadirannya kemarin. “Pokoknya setahu kami, anda tidak sakit, sehat walafiat dan tidak ada urusan penting lainnya”.
Kata hati telah menggerakkan kaki dan tangannya untuk menolong anak perempuan itu. Terbayang wajah anaknya. “Bagaimana jika dia yang ada di sana dan tidak ada seorang pun yang menolong?”. Pastilah sedih sekali.
Kata hati jugalah yang membuatnya bertahan di saat semua orang memojokkannya. Orang banyak yang berkerumun itu benar, tidak ada gunanya. Tapi bagi dia itulah resiko mengikuti kata hati. Insting ibu telah menarik dia mengulurkan tangan.
Dia memang ibu yang baik, tegar dan teladan.
Aku bisa melihat di guratan wajah yang ditoreh hari-hari dan kebandelanku. Tapi, tetap saja dia sayang.
And I can say it proudly,
SHE is my MOM…
LOVE YOU MOM…
hai kak irene..
slm kenal dari adikmu jeffry..
aku lulusan smunsaka thn 2006..
Just say, Mejuah-juah to my impal. GBU
Mejuah-juah man kam mpal… GBU2