Pelajaran dari Sensei (3)
Hari pertama sensei masuk kelas.
Peraturan yang perlu diperhatikan adalah tidak boleh telat, ga boleh angkat HP dan dilarang ke toilet pada jam pelajaran. Tuing… Masa sih seketat itu. Emang, hasrat pipis bisa diatur-atur? Begitulah beberapa teman meributkan peraturan sensei. Iya juga sih, tapi aku ga ada masalah, aku bisa mengaturnya.
Hari berikutnya, hadirin alias partisipan mulai berkurang jumlahnya. Ada laporan kalau kelasnya terlalu ketat dan pelajarannya terlalu cepat. Memang, kecepatan pengajaran sensei di luar kebiasan guru-guru lain, bahkan di luar kebiasaan English native speaker. Katanya untuk membiasakan kami dengan Jepang yang sesungguhnya. Gubrak… jadi Jepang begini? Boleh nggak mengundurkan diri dari beasiswa ini? ![]()
Di hari yang berbeda, beberapa orang mulai pindah ke kelas lain yang mengajarkan subjek lain karena ketinggalan, sensei mulai curhat kalau dia diberitahu panitia untuk mengganti atau memperlambat metode pengajarannya. Memang, sensei ini super duper bersemangat dan kami menyebut dia Energizer. Kadang ketika kepala sudah pusing (Atama gong-gong, dalam bahasa Jepangnya), si sensei masih bersemangat aja. Suit… suit…
Sensei selalu mengajar dengan persiapan matang. Sekali, pernah kami belajar tentang jam, dia membuat sebuah jam dari karton berikut penunjuk jam dan menitnya. Jam itu bukan main rapinya. Jadi, semalaman sepulang dari sini dia membuat itu? Ck… ck… hebat. Kami dikasi PR selembar saja, kadang ogah ngerjain di kamar. Alasannya capek dan “kan udah belajar seharian di kelas”.
Pandangannya tentang global warming pun membuatku malu sebagai bangsa Indonesia yang seringkali kurang peduli. Suatu hari dia menanya begini “ini AC dan lampu kelas pernah dimatikan ga ya?” dilanjutkan dengan “tape ini juga stand-by terus yah?” sambil mencabut colokan-colokan listrik dan mematikan semua lampu kelas setiap kali kami bubaran. Alasannya sangat mudah dan biasa kita dengar, untuk menghemat sumber daya dan mengurangi penyebab global warming. Coba kalau semua orang Indonesia berpikir gitu, mungkin pemadaman lampu bergilir ga perlu terjadi.
Aku merasa otak sih ga beda jauh, mungkin saja volume otak kita lebih besar, tapi tingkat displin dan semangatlah yang membedakan. Kesadaranku pun masih jauh di bawah mereka. Aku sadar global warming tapi aku tidak melakukan yang seharusnya. Apakah aku gambaran orang Indonesia kebanyakan?

