Pelajaran dari Sensei (2)
Hari ini, Sensei Haruko membawa mie jepang yang terasa asing di lidah. Tapi karena ini adalah pengalaman berharga, aku mencoba memakannya dan eng-ing-eng… enak bo, kecuali wasabi yang rasanya terlalu menyengat.
Diiringi lagu “furaido” (in english
Pride) dan Kokoro No Tomo (pasti taulah), satu per satu helai mie masuk dengan lancar ke mulutku. Katanya, kalo di Jepang, makan tanpa bersuara itu menunjukkan makanan yang ditawarkan ga lezat. Jadi harus makan bersuara. Slurup… slurup… nyam-nyam-nyam.
Kejadian beberapa bulan lalu pun berulang.
November 2007, kami bertiga mencoba masakan Jepang di sebuah restoran di Ratu Plaza. Ini kali pertamaku mencicipi makanan “yang benar-benar” Jepang. Enak sih enak, tapi sepulang dari sana, aku sempoyongan. Apa ada unsur sake ya di makanan itu? Ketika kukonfirmasi ke temanku, katanya sih nggak. Jamur merang atau jamur apalah namanya yang mungkin telah mengganggu keseimbanganku. Seharian rasanya sungguh ga enak.
Awal 2008, aku-Rere-Lasma bertiga makan sushi di Plaza Semanggi, sekedar ingin tahu rasa sushi gimana sih. Rere yang sudah berpengalaman memesankan sushi pilihan (katanya enak). Sushinya sih enak, nasinya pulen dan isinya pas, tapi… wasabi-nya itu loh bikin lidah jumpalitan. Tidak lama, aku pun mulai merasa tidak enak di sekujur badan. Ahha, tidak ada jamur, tidak ada campuran sake, jadi apa yang membuatku begini?
Nah, itulah yang terjadi hari ini. Istirahat siang tadi kupakai untuk tidur sebentar karena kepala rasanya sedikit berat. Alhasil, ketika bangun aku melihat putaran-putaran besar, kecil, sedang, bergantian. Pusing tenan. Gile, jamur ga ada, sushi juga ga, ada apa gerangan antara aku dan masakan Jepang.



Add to del.icio.us