Analisis Seorang Awam
Kecewa melihat keadaan negara yang morat-marit, aku berusaha menganalisis kejadian-kejadian terakhir di Indonesia dengan caraku sendiri di sini. Ini hanyalah sebuah pendapat pribadi.
Pagi-pagi kubuka laptop dan langsung on-line untuk membaca berita di detik.com. Miris campur heran membaca berita teratas di situ. Demo “mahasiswa” anarkis di Sudirman dan beberapa tempat lainnya menghiasi hampir sehalaman penuh detik.com. Mahasiswa kuberi tanda petik karena saking tidak percayanya. Pertama, benar nggak sih mereka itu mahasiswa? Kalau benar, aku sebagai mantan mahasiswa yang baru saja lulus patut mengatakan “Malu dong mahasiswa! Kalau kalian benar-benar membela rakyat, tolong jangan buat susah rakyat dengan kemacetan dan rasa takut atau ketidaknyamanan”. Kalian sebagai kaum intelektual harusnya menyumbangkan pikiran bagaimana pemecahan logis atas ketimpangan APBN sekarang ini, bukan hanya tuntutan-tuntutan.
Tapi, masalahnya adalah “benarkah mereka mahasiswa yang asli?”. Aku curiga kalau mereka itu adalah orang-orang tunggangan, yang dibayar sejumlah uang untuk makan sehari dan rokok, mengenakan jas almamater sebagai samaran, untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu (tujuan sang penunggang tentunya). Mereka bilang itu permainan politik menjelang pemilihan presiden dan wakil presiden 2009. Politik apa itu? Aku nggak pernah dengar jenis politik begitu.
Lihat saja, ketika “demo yang anarkis” meraja di sana sini, kepercayaan terhadap pemerintah sekarang ini akan semakin menurun dan otomatis orang akan mencari alternatif capres lain. Itulah yang mereka inginkan secara sederhana. Tapi pedulikah “capres” yang demikian terhadap kepentingan rakyat? Menurutku tidak, cara mereka menjawab itu. Kalau begitu, “capres” mana yang benar dan tidak? Entahlah. Akibat terakhir yang kurasakan sebagai rakyat adalah kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan, dan golput akhirnya menjadi sebuah opsi.
Akibat dalam segi ekonomi malah menambah pukulan atas negara ini. Demo anarkis beruntun menurunkan kepercayaan investor asing, bahkan investor pribumi. Ketidakamanan negara ini adalah faktor krusial dalam menentukan prospek sebuah investasi. Bayangkan, jika anda investor asing yang disuruh memilih lokasi investasi. Jelaslah anda akan memilih tempat aman tanpa kerusuhan. Anda tidak ingin berurusan dengan asuransi akibat pengerusakan-pengerusakan dll. selagi hal itu bisa ditiadakan.
Kerusuhan-kerusuhan ini seperti kebiasaan buruk yang didukung oleh peserta awam. Sekali pernah kami melintasi sekelompok orang berdemo di DPR. Kami penasaran demo apa sih, jadi kami menanyakan salah satu peserta demo yang berdiri di belakang yang terlihat cukup antusias berteriak. “Demo apa sih Bang?”. Tahu nggak jawabnya apa, “Nggak tau Mbak, tadi disuruh ngeramein aja”. Bah… Untunglah demo-nya nggak anarkis, kalau nggak, kami sudah dipukul kali yak.
Belum ada Presiden di Indonesia dalam sejarah yang bisa menyelesaikan tugasnya tanpa cacat cela atau apa pun lah namanya. Semuanya dijegal dari posisinya. Ada yang diasingkan, digulingkan atau dianggap tidak kompeten. Terakhir, hak angket diedarkan di DPR untuk menunjukkan “kebohongan publik” pemerintah saat ini. Kenapa sih, kita tidak sama-sama mencari solusi bagaimana mengatasi kenaikan harga minyak dunia saja? Kenapa harus egois memikirkan kelompok politik masing-masing? Bukankah tujuan kita adalah kesejahteraan rakyat?
Sebagai orang yang bekerja di bidang ini, aku merasa pemerintah telah mengambil langkah yang berani tapi (pasti) sulit diterima oleh rakyat. Karena untuk jangka pendek, langkah untuk mengurangi subsidi minyak-lah yang paling memungkinkan saat ini, meskipun aku kurang bisa memahami kebijakan-kebijakan pemerintah lainnya seperti BLT (subsidi orang yang masih belum bisa kukomentari) karena kelemahan-kelemahan yang sulit diantisipasi oleh pemerintah sendiri.

