Hobi Bolos
Penyakit baru yang tidak bisa dikendalikan mendadak timbul. Aku kok jadi suka bolos ya.
Pertama, aku tahu banget kalau bolos itu salah. Kedua, aku tidak bisa mengurangi kebiasaan ini apalagi menghilangkannya. Ketiga, aku tidak tahu menahu asal muasal penyakitku.
Kebosanan selalu menjadi alasan utamaku, padahal kalau ditilik secara detail, aku sebenarnya tidak sebosan itu. Tapi apa yang harus kulakukan?
Kemarin, setelah lulus dari tes pertama IBT, kami diberi pilihan untuk tidak mengikuti tes kedua. Tapi karena aku terlanjur berjanji pada diriku untuk mengambil kesempatan kedua ini terlepas dari nilai yang kuperoleh, maka aku mendaftar IBT lagi. Aku menyerahkan semua persyaratan (kartu kredit dan KTP) dengan tambahan harapan, aku bisa lebih bersemangat mengikuti program persiapan S2 ini.
Semangat sih naik, tapi tidak sebesar yang kubayangkan. Godaan untuk bolos tetap lebih membara dan menang mudah menghadapi semangatku. Keinginan melewatkan kelas begitu menarik hati, buktinya ketika aku melakukannya, ada kepuasan dan bukan rasa bersalah. Lengkap sudah.
Sekarang hari Kamis 12 Juni 2008, pukul 13.24, istirahat siang usai dan saatnya masuk kelas lagi. Tapi rasanya tidak lengkap tanpa bolos. Sebagian hatiku (sebagian kecil) meminta untuk segera bergegas, tapi sisanya begitu tertarik melihat posisi bantal dan bonek-boneka di atas tempat tidur. Pasti empuk merebahkan badan sesaat saja. Rasa kantuk yang jarang ada mendadak bisa ada, padahal tidur sih cukup banget. Tak heran grafik berat badanku condong meningkat,
.
Tapi baiklah, aku akan berjuang melawan pikatan maut ini. Bagaimana caranya ya?

