Cemas Menjelang iBT TOEFL
Delapan orang siswa akan dikirimkan ke “medan perang” TOEFL iBT besok. Kami menyebutnya The “10-Mayers”, para pejuang alias korban pertama menuju medan perang. Dasar pemilihannya sederhana, bukan skor, bukan kemampuan tapi kartu kredit. Siapa yang punya kartu kredit duluan, didaftar duluan. Malangnya, aku memberikan kartu kredit di tempat pertama.
Okey, kita mulai ceritanya dari awal saja.
Sekitar minggu ketiga program karantina ini, kami dimintai mengumpulkan kartu kredit (bagi yang punya) dan bagi yang belum punya akan dibuatkan oleh Bank Mandiri. Bank Mandiri pun berhasil membuat kartu kredit secepat mungkin. Tapi tetap saja, aku mendapatkan bagian pertama di pendaftaran.
10 Mei tinggal beberapa jam lagi. Rasanya aku ingin muntah membayangkannya saking stressnya. Kata teman-teman yang tergabung dalam the 10-Mayers, aku lah paling santai, hem… padahal “nggak tahu dia”. Aku sering menangis diam-diam, hehehehe…
Sekarang tekanan semakin berat, semakin dipikir semakin nggak bisa mikir, suer… Kenapa sih program ini membuatku jadi nervous banget? Nggak biasa-biasanya aku setegang ini. Habis mereka membuatnya seolah-olah seperti ujian hidup dan mati, surga neraka karena biaya pendaftarannya yang relatif mahal (ehm, mahal ding = Rp 1.400.000 an).
Ingin rasanya bertaruh, tapi dalam hati saja (tar kejegal UU perjudian lagi), kalau di antara delapan orang ini, yang paling nggak stresslah nilainya paling tinggi. Nah, masalahnya sekarang aku adalah orang yang “kelihatan” paling nggak stress. Tolong digarisbawahi kelihatannya, karena sebenarnya aku-LAH yang paling stress, ya tapi paling pintar menyembunyikan.

