Bertempur Melawan Waktu
Waktu bergulir begitu cepat, bersaing dengan kesibukan yang semakin terasa menekan. Target-target berat dipasang untuk memburu waktu yang takkan pernah menunggu.
Pekerjaan di kantor hampir berakhir, tapi ternyata waktu yang menipis membuatku harus bertempur untuk menyesuaikan target dan jadwal. Besok semua pekerjaan kantor harus selesai dan itu tandanya genderang kuliah dibunyikan. Badan pasti sulit beradaptasi dengan kejutan baru ini. Kuliah lagi?
Aku adalah tipe manusia yang tidak bisa melampaui sebuah perjalanan hidup tanpa perjuangan. Jika aku tidak berusaha aku pasti gagal. Doorprize saja aku tidak pernah dapatkan sampai akhirnya memecahkan rekor pas perpisahan kemaren. Itu pun karena yang diberi hadiah 5 di antara 9 orang,
. Anyway, rasanya doorprize dan perjuangan tidak terlalu berhubungan, tidak perlu dibahas lebih lanjut.
Untuk bisa lulus ujian, aku tidak akan lulus tanpa belajar. Otakku tidak cukup bervolume menghadapinya tanpa belajar. Apalagi hapalan, aku pasti mati kutu. Masih kuingat waktu 3 SD aku disuruh hapal perkalian. Dan seperti dugaan, aku pun kena pukul berkali-kali
. Aku sangat menyesalkan sistem pendidikan seperti itu karena semakin sering dipukul aku bukannya makin rajin tapi makin buntu dengan sedikit trauma. Aku kemudian bisa menghapalnya ketika bertemu dengan seorang guru Matematika kelas 5 SD dengan sistem pengajaran logika. Kenapa perkalian ini begini dan begitu dan aku hapal dengan sendirinya.
Sekarang, aku akan kembali ke dunia kuliah, dengan perjuangan yang sama. Apakah tampangku akan tetap begini atau akan tambah kerutan sana-sini?
Rasanya aku akan tetap terlihat muda, karena selain volume otak yang tak seberapa, aku adalah orang yang suka hidup sibuk (atau sok sibuk sekalipun
). Kesibukan itu membuat hidup terasa lebih hidup. Di saat seperti itu, waktu menjadi teman dekat.
Tapi jika berbicara tentang waktu sehubungan pekerjaanku, aku bisa mengatakan bahwa kali ini sang waktu begitu angkuh. Ku harus berlomba dengannya sementara dia berlari meninggalkanku beberapa langkah.
Senin depan, aku akan meninggalkan kebiasaan yang sudah kujalani selama setahun. Berangkat kantor dengan KRL Ekspres, bekerja di depan komputer, pemaparan, mengelola surat-menyurat, bersendagurau dengan teman sekantor dst, terus pulang ke rumah dengan cara yang sama, mengejar KRL Ekspres. Sedih juga sih… Ketika kupandang wajah teman-temanku seruangan, kubik-kubik kecil tempat kami bekerja dan semua hal yang ada di ruangan ini, ada kehilangan. Tak kuduga setahun ini berhasil membuatku merasa begini. Padahal belum tentu juga aku tidak kembali, aku mungkin saja kembali dalam 6 bulan ke depan, menunggu semester baru universitas yang akan kutuju.
Kadang kita tidak menyadari seberapa besar pengaruh sesuatu yang mungkin selama ini kita abaikan sampai kita kehilangannya.

