Dear Mom,

Siang itu Ibu tidak pergi ke sekolah untuk mengajar, cuti katanya, demi mengurus tetek-bengek pernikahanku. Senang rasanya mendapatkan perhatian sebegitu besar. Kami menuju pasar kain untuk memilih “uis nipes” yang akan dipakai pada hari H nanti. Warna-warni uis beragam, tapi ternyata bukan itu penilaian utama. Ibuku lebih mengerti kain itu dibandingkan aku. Jadi, kubiarkan dia memilihkannya untukku. Pilihannya jatuh pada sebuah kain merah bergaris warna-warni yang harganya empat ratus ribu rupiah. Menurutku harga itu cukup mahal buat sehelai kain begitu, tapi setelah tahu bagaimana pembuatannya, barulah aku mengerti.

Lama memilih, kami pun akhirnya kelaparan. Sebelumnya, aku memaksa ibu untuk membeli kain itu dulu baru makan. Jika seandainya kain yang tepat belum terbeli, kami bertekad tidak makan dulu. Kasian juga melihat Ibu yang kelaparan. Kami berdua singgah di warung makan kecil tempat makan kami waktu aku kecil dulu. Detik-detik terasa cepat berlalu, aku sangat menikmati saat-saat makan kami.

Itu hanya sepotong kecil persiapan pernikahanku yang sangat melibatkan ibu. Pesta pernikahan telah selesai, tapi ingatan-ingatan persiapan pernikahan jauh lebih berkesan dari sekedar pesta. Ketika semua anggota keluarga heboh membeli tiket pulang dari seluruh penjuru Indonesia, Lampung-Surabaya-Manokwari dengan harga peak-season yang menjulang, ketika perhiasan tidak sempat dibeli dan harus dipinjam dari Kak Erika, ketika kakak dan orang tua sibuk membagikan undangan yang jumlahnya hampir seribu itu, ketika jam kerja pun kadang dikorbankan demi melipat undangan, ketika lembur malam diperpanjang demi menunggu hantaran jas yang mepet, ketika malam menjelang pernikahan jam tidur harus dipotong… semuanya itu sangat membekas di ingatan.

Hari ini, kutelepon ibu. Aku biasa meneleponnya dan biasa pula teleponku tak diangkat berhubung hpnya ditaruh di kamar sementara dia di luar kamar. Terhitung 3 Februari 2008 ibu pensiun dari kegiatannya sebagai PNS, mengajar di sebuah SD Inpres. Aku menelepon sebenarnya untuk menceritakan “mata bengkakku” yang sudah tiga hari ini tidak kunjung sembuh. Suara ibu terdengar berat karena flu. Dia bercerita kalau di awal masa pensiunnya dia merasa sepi, padahal anak-anak Kak Erika, cucunya yang sekarang tinggal di rumah, pasti ribut dan tidak mungkin menjadi penyebab kesepiannya.

Kubayangkan jika aku yang jadi ibu, pastilah sangat sepi. Kemaren saja cuti 5 hari, aku bosan setengah mati kalau tidak ada kerjaan yang menarik.

Ibu adalah inspirasi yang selalu mendorongku melakukan hal terbaik. Ntah kekuatan apa yang telah ditanamkannya padaku sampai aku bisa melanglang buana sampai di Jakarta dan meraih cita-citaku. Padahal aku si bungsu yang dulu sangat manja dan tergantung pada kakak-abang dan ortu.

Sekali pernah kuceritakan maksudku meneruskan pendidikanku ke Luar Negeri, ibu memandangku heran. Aku tidak bisa menebak pikirannya saat itu, mungkin dia merasa heran kenapa aku merasa tidak cukup di Jakarta dan harus ke Luar Negeri. Tapi dia tetap mendukungku, mempercayakan padaku segala keputusan yang penting bagi hidupku. Dan, aku yakin seyakin-yakinnya, dia mendoakan setiap langkah yang telah dan akan kutempuh.

Dulu, waktu aku masih tinggal di Sumatera, kami sering doa makan sekalian doa syafaat di depan meja makan, mendoakan langkah hidup dan masa depan. Doa itu dibuat bergiliran. Ketika pertanyaan sebelum makan dilemparkan “giliran siapa berdoa?”, kami akan serempak menjawab “BAPAAAAK!!!” :)) Bapak selalu jadi korban utama tanpa alasan yang jelas. Ibu hanya senyum-senyum kalau itu terjadi.

Seringkali aku ragu apakah aku bisa menjadi seperti ibuku? Menjadi 90% ibu pun pasti sulit, apalagi persis seperti dia. Ibu tegas dan tidak ragu dalam bertindak, meskipun gerakannya berkecepatan di bawah rata-rata :). Apapun kata orang, aku tahu kenapa ayahku memilihnya menjadi istri dan ibu kami.

Terima kasih atas semua pengabdian, kerja keras dan doa itu. Kami sangat bangga punya ibu sepertimu.

Related posts

10 Comments so far

Leave a comment Subscribe to Comments RSS Trackback this entry

  1. March 6, 2008 7:01 am

    jadi kangen ama ibu nih,…:(:(

    btw, salam kenal ya,..

  2. March 6, 2008 7:20 am

    Salam kenal juga Delita, namanya unik deh… :)>-

  3. March 6, 2008 10:26 am

    mengharukan… :((

  4. March 6, 2008 2:15 pm

    unik ya? nama pemberian oppung :)
    btw, irene asal kabanjahe ya?
    kakaku ada jg yang tinggal di sana

  5. March 6, 2008 3:29 pm

    Iya, asalku dari Kabanjahe, aku tinggal di belakang PLN Kabanjahe. Kaka Delita tinggal dimana?

  6. March 6, 2008 10:03 pm

    dekat smpn 2 brastagi
    (ga persis di kabanjahe ya?)

  7. March 7, 2008 11:02 am

    tapi rumahku juga dekat ke brastagi kok. Pertengahan gitu…

  8. alex

    March 10, 2008 2:19 pm

    jadi pendorong buat lebih bersemangat dihari2 mendatang.:)

  9. March 10, 2008 2:51 pm

    @alex bukit
    :d Gua e bang? Ja nari datndu alamat blog ku enda? :)>-

  10. alex

    March 11, 2008 2:53 pm

    Arah google..

    Oke.. Selamat berkreasi. Tetap Semangat…!
    :)>-

Leave a Reply

:) :( :d :"> :(( *:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »