Feb
20
Sutradara: Tim Hill
Pemain: JASON LEE, CAMERON RICHARDSON, JANE LYNCH, DAVID CROSS, JUSTIN LONG
Film anak-anak terakhir yang kutonton, sebuah film ringan yang boleh ditonton semua umur (SU).
Film ini mengangkat kembali kartun yang sudah lama tidak muncul di TV, film kartun 1980-an dengan judul yang sama. Tiga tokoh tupai yang terlibat di sana adalah Alvin, Simon dan Theodore yang menggemaskan. Alvin diberi pakaian merah dengan huruf A kapital, Simon mengenakan kaca mata minus dan baju berwarna biru, sedangkan Theodore diberi baju sweater hijau. Coba lihat warna sweater mereka cocok dengan warna matanya. Dan tentu saja mereka masih trio penyanyi yang hebat.
Film langsung dibuka dengan suara mereka menyanyikan lagu “Bad Day” yang dipopulerkan oleh Daniel Powter untuk American Idol. Pembukaan yang sangat menarik.
Pohon yang dijadikan tempat penyimpanan makanan mereka, ditebang untuk pohon natal. Pohon itu kemudian dibawa ke tengah gedung perkantoran mewah. Disanalah mereka bertemu dengan seorang pencipta lagu, Dave Seville yang putus asa. Pertemuan mereka merupakan awal dari semua bencana di hidup Dave. Ketiga tupai ini sangat heboh, nakal dan merepotkan Dave. Baca selengkapnya »
Feb
19
Akhir-akhir ini penyakit menonton bioskop kambuh. Sebagai penyakit kronis, menonton bioskop sangatlah menyita waktu dan uang tentunya. Tapi anggaplah itu sebuah cara untuk memperoleh hiburan. Dan, eng-ing-eng… bisa berbagi dengan kalian semua.
Setelah menonton film ini dua kali di bioskop yang berbeda, aku bisa menangkap detailnya dengan lebih baik.
Perempuan Punya Cerita adalah film unik yang terdiri atas 4 (empat) cerita, film omnibus (begitu blitzmegaplex menyebutnya–aku aja baru tahu). Disutradarai oleh 4 (empat) perempuan yaitu Nia Dinata, Upi, Lasja F. Susatyo, Fatimah T. Rony untuk masing-masing Cerita Pulau, Cerita Cibinong, Cerita Yogyakarta dan Cerita Jakarta.
CERITA PULAU
Sebagai seorang bidan, Sumantri (Rieke Dyah Pitaloka) pernah melakukan aborsi untuk menyelamatkan si ibu, tapi masyarakat malah menuduhnya kriminal. Wulan (Rachel Maryam) adalah anak keterbelakangan mental, tetangga Sumantri. Di tengah pergumulan kanker payudara yang sudah stadium tiga, dia juga berusaha memperjuangkan kasus perkosaan yang dialami Wulan (Rachel Maryam). Karena aborsi dulu, Sumantri tidak bisa berkutik sedikit pun untuk membela Wulan. Malahan polisi lepas tangan atas kasus itu. Baca selengkapnya »
Feb
18
Cerita ini terpicu oleh berita mutasi kepala seksiku di kantor.
Ntah kenapa, berita itu membuatku sejenak terdiam agak sedih, ehm… sedih banget sebenarnya, dan merasa ditinggalkan. Biasanya akulah yang meninggalkan orang-orang dan menuju ke tempat baru, meninggalkan mereka dalam kehilangan mereka, tapi kali ini beda. Akulah yang merasa kehilangan. Betapa tidak enaknya ditinggalkan. Masalahnya di sini adalah, kenapa aku sebegitu sedih padahal kebersamaan kami tidak penuh setahun.
Bapak Dany Hamdan Karim (aku nggak punya fotonya, kalaupun ada mungkin aku tidak dapat ijin memuatnya di sini)
Awalnya, aku merasa enggan menjadi bawahannya apalagi karena melalui pengaruhnya pula aku menjadi sekretaris (yang nggak Irene banget itu). Kita lewatkan bagian hari demi hari yang kami lewati. Bagian yang paling kuingat ketika aku menjadi bawahannya adalah konflik kerja yang ternyata (di luar dugaan), kami bisa lalui dengan baik. Aku menyebutnya di luar dugaan karena semula aku tidak pernah mendapat pandangan itu dari bos-bos ku sebelumnya. Baca selengkapnya »
Feb
18
Jumat, 15 Februari 2007 malam, aku harus menginap di Bintaro karena menghadiri rapat sampai larut malam. Aku punya banyak teman di Bintaro, tapi rasanya tidak enak memberatkan teman yang kebanyakan masih tinggal di kos itu. Akhirnya aku memilih menginap di hotel saja. Bintaro bukanlah daerah wisata yang penuh dengan hotel dan penginapan, jadi tidak heran kalau kita tidak menemukannya di tepi-tepi jalan.
Kakak iparku dulu pernah bercerita tentang Hotel Bintaro, katanya “Untuk singgah bolehlah, lainnya nggak usah”. Dari kata-katanya, aku ragu menginap di sana, tapi karena tidak ada pilihan lain apa boleh buat.
Pandangan pertama begitu mengesankan, pertama: lokasinya berada di kompleks ruko dan bank-bank, terselip di gedung-gedung perkantoran persis di depan Bintaro Plaza. Kedua: Bau rokok sangat kentara di dalam kamar (padahal) berAC. Ketiga: Nyamuk kok bisa-bisanya berkeliaran di dalam ruangan sedingin itu ya? Baca lagi lanjutannya
Feb
6
Tertarik juga jadinya membahas ini. Mailing list penuh dengan perdebatan soal benar-salahnya keputusan redaksi Tempo memuat foto Last Supper versi mereka di halaman sampulnya. Menurut kalian bagaimana?
Aku tergelitik untuk membeli Tempo karena sampulnya itu (jujur saja), tapi sayang Tempo-nya keburu habis. Mungkin itulah tujuan mereka membuat sampul kontroversi ini, meningkatkan penjualan majalah, terlepas dari keinginan menghina atau tidak. Anehnya, mereka membuat sampul yang berbeda untuk Edisi berbahasa Inggris (English Edition). Apa ya maksudnya kira-kira? Baca selengkapnya »