Sensi Banget

Kenapa minggu ini menjadi minggu termoody sepanjang tahun 2008 ya? Padalah nggak PMS juga.

Kesibukan setelah cuti 5 (lima) hari membawa semangat dan pandangan baru. Hari Senin, 18 Februari 2008 kumulai minggu kerjaku. Senin itu lancar dan asik karena semua tugas dapat dilakukan dengan baik. Rasanya tenagaku berlebih. Lembur sampai malam tidak membuatku lemas atau kelelahan. Hari yang cerah.

Selasa pun tidak jauh beda, aku bisa menyelesaikan tugasku. Seperti biasa, aku tidak ingin melewatkan hari tanpa sesuatu yang istimewa. Aku menelepon si abang untuk pergi nonton sehabis jam kerja. Dia setuju, terjangkit penyakit menonton bioskopku. Malam itu, sepulang kantor kami menonton PS I Love You. Sebenarnya, kami tidak tertarik menontonnya semenjak awal premiere, tapi setelah membaca review Nirwana, temanku, aku jadi penasaran. (Pengalamanku nonton bisa dibaca di Movie Review di bawah).

Nah Rabu, aku mulai merasakan swing mood yang kuat. Apalagi ketika disalahkan atas tugas-tugas yang kulewatkan selama cuti. Loh, bukannya aku lagi cuti? Kalau salah, kenapa aku yang dipojokkan? Ditambah dengan mood jelek, aku kesulitan banget bisa hadapi masalah dengan baik. Ya, itu salahku.

Kuingat suatu kutipan percakapan yang masih kuingat dari PS I Love You.
“Sebenarnya, apa sih yang diinginkan cewek? Aku penasaran” Tokoh Daniel bertanya.
Holly spontan menjawab: “Sini kubisikkan rahasianya, tapi jangan katakan ini pada siapa pun. Cewek sendiri tidak pernah tahu apa yang diinginkannya”. Owh… sometimes that’s so right.

Kamis, aku malah tambah sensi. Pagi-pagi, tanpa sarapan, kasiku menyuruhku menyelesaikan suatu pekerjaan. Berhubung dia akan mutasi dan resmi pindah sore itu. Oke, aku tidak keberatan meskipun perutku ngomel. Di tengah kesibukan yang membabi buta itu, seorang kasi lain menghampiri meja dan lemariku yang super sempit ini. Lalu ikutan ngomel heboh
“Ini kertas-kertas kalau ngggak dipakai, dibersihin dong. Terus ini lagi printer, kalau nggak dipakai jangan di taruh di sini. Kok berantakan banget? Kalau surat-surat begini jangan digeletakin begini”
Aku berusaha tarik napas, melawan emosi yang tak tentu.
“Coba kamu rapiin kenapa?”
“Pak, saya nggak pernah kan ngurusin meja bapak bersih apa nggak? So, bapak nggak usah ngurusin meja saya”

Upsss… Wrong answer.

Aku sadar sepenuhnya itu jawaban yang salah, tapi kenapa tindakanku tidak mengikuti otak dan logika. Mulutku masih saja terus berkicau: “Lagian, printer itu masih baru tapi belum ada tempat, kalau Bapak terganggu buang saja. Apa nggak bisa nanti saja ributnya, sekarang aku lagi sibuk”. Aku juga sumpek dengan printer besar itu, tapi masa masih baru ditaruh di gudang atau dibuang. Tapi mau apa lagi, printer itu tidak berguna dan nggak user friendly.

Ah, lupakan masalah printer dan kertas itu. Pokoknya aku menyesal telah menjawab dengan bodoh.

Kembali ke dunia kebijaksanaan. Aku menerima telepon bahwa sore itu kami akan rapat. Glegh, aku takut akan jatuh korban tambahan. Tapi aku sendiri yang lupa kalau Kamis sore memang udah janji rapat.

Pulang kantor aku nebeng teman menuju Bintaro dan turun di tempat makanku dulu waktu kos di Bintaro. Hmmm… perasaan tenang mulai menyelimutiku ketika bertemu Ibu Numani dan bersenda gurau. Meskipun mata berat dan badan lelah, aku menuju tempat rapat padahal masih sejam lagi. Kucoba merenung ‘ada apa denganku’ di emperan gedung menunggu mulai rapat. Belum sejam, hujan turun deras, untunglah tempatku duduk terlindung dari air tetesannya. Dari arah Timur (cie… kayak tahu mata angin saja), seorang anak sekolah mingguku, yang termasuk anak teraktif -kamu pasti mengerti maksudku-, menghampiriku diiringi suara keras tapi kurang jelas.

“Kenapa Dek, mau duduk sama Kakak?”
Dia menanggapiku dengan menarik-narik tasku. Berdasarkan pengalamanku, setelah menarik dia akan melempar tasku. Antisipatif, kuambil kembali tasku dari tangannya. Dia marah. Owhhh, tolonglah pahami aku. Tapi apalah, dia masih anak-anak dan tidak mengerti apa-apa. Jadi kuberikan Aqua gelas yang masih tertutup. Pasti dia nggak bisa buka, pikirku. Wow, dia bisa membukanya dan dengan sengaja menumpahkannya di bajunya. Kalau aku nggak salah, dia terlihat baru mandi dan memakai baju baru. Habislah aku!

Anak ini memang pencari perhatian teraktif. Ketika perhatian didapatkannya, dia ingin lebih lagi sampai perhatian kita penuh padanya. Tapi setelah itu, jangan tanya, dia akan melakukan tindakan-tindakan yang membahayakan dirinya. Kupandang dia dan dia membalas pandanganku… fokus. Eh, dia nggak pernah bisa membalas pandangan begitu. Terus dia bicara perlahan meski tetap nggak jelas.

Karena nggak ngerti, aku menatapnya saja. Dia berlari meninggalkanku. Ahha, mungkin dia tahu aku nggak ngerti. Sekarang aku sendiri lagi, mencoba menenangkan diri.

Gubrak, dia datang lagi, kali ini dengan krayon dan kertas HVS putih. Ternyata dia memintaku menemaninya mewarnai. Kugambar rangka-rangka mobil dan rumah untuknya. Dia mengambil warna secara acak, mulai mewarnai. Hahahaha… dasar anak-anak, dia malah menutupi rangkanya dan mencoretnya. Terbentuklah dua bulatan tanpa bentuk, penuh coretan di atas rangka mobil dan rumah tadi.

Dengan sedikit geli kutanya “Ini gambar apa?”
Dia menatapku dan dengan yakin menjawab “Ini mobil, ini rumah” sembari menunjuk dua bulatan itu.
Hahahahaha… Cape deh

Waw, I strated to laugh. That’s a good point.

Hujan belum berhenti juga. Si Adek menarikku, mengambil krayon dan mulai mencoret dinding. Kambuh lagi deh penyakit cari perhatiannya. Tentu saja aku kalang kabut, dindingnya putih banget gitu dicoret krayon.
“Aduh, dinding bukan tempat gambar ya…” tapi tetap diteruskannya mencoret. Setiap kali kucoba mencegah, dia semakin merajalela. Hm, aku ingat! Kalau aku tidak memperhatikannya, dia akan mencoba sesuatu yang baru untuk menarik perhatianku. Jadi aku pergi meninggalkannya dan masuk ruangan rapat.

Tebakanku benar. Si Adek kemudian mengejarku tapi tetap mencoret dinding di sekitarku. Aku berpikir keras. Kubiarkan dia mencoret dinding, pura-pura nggak peduli. Kulihat hujan dari pintu. Dia menarik-narik bajuku, memukul dan berlari sambil teriak. Aku kasihan sebenarnya, tapi apa boleh buat. Untuglah Bapaknya datang dan menggendongnya pulang.

Teman-teman peserta rapat mulai berdatangan. Pertama satu, kemudian dua dan kemudian banyak. Hey, aku sudah bisa lupa rasa sensi yang menggelayutiku dari tadi. Sekarang aku tahu apa yang harus kubuat, aku pengen rapat dan menyelesaikan hari ini dengan baik, that’s all.

God, you know me deeply. You give me the best way to be recovered before I can describe what had happened.

Related posts

12 Comments so far

Leave a comment Subscribe to Comments RSS Trackback this entry

  1. bobby

    February 24, 2008 3:41 am

    keren…
    kamu benar benar keren deh,ren..
    kasinya umurnya sebaya dengan kamu?
    santai aja..ga usah dipikirkan..
    kalo sebaya gitu paling yang ia pikirkan lagi ngobrol sama teman..

    setahuku kalo lagi jenuh gitu ya ngobrol sama teman dekatlah ya..
    ngumpul2..
    atau kamu datangi temanmu yang swasta atau dinas di tempat lain..
    dengarin cerita cerita mereka..

    atau main ke UGD..
    liat liat aja sebentar..
    keluar dari UGD kukira udah fresh lagi pikiran kita yang tadinya jenuh..

    aku juga dulu pernah dibilangin kayak gitu tahun 2000. aku diam aja..gak tahunya besok pagi sebelum aku datang ke kantor malah kasiku yang beresin mejaku..disortirnya dan dimasukkan berkas-berkasku ke map2 yang udah ditulisnya sesuai kategori..

    tapi kalo mejamu suka berantakan berarti kita satu tipe dong..suka berantakin meja..
    pak Ali Wardhana yang mantan menteri itu juga suka berantakan mejanya

  2. February 24, 2008 7:20 am

    Smg pertanyaan ter-ga penting ini ga bikin rusak mood mu:

    “anak siapa sih,Ren?kok badung amat!”
    ^^

    kalo lg mood ga bener,which is I almost have, mending diam deh.narik napas dalam2. Soalnya omongan yg keluar suka ga bener juga…hurts people around and somehow it hurts us back…^^
    SEMANGAT!

  3. February 24, 2008 10:06 pm

    gitu donk …. :D

  4. Pahala Panjaitan

    February 25, 2008 11:55 am

    Kalau benar komunikasi antara atasan dan bawahan seperti itu yahhhhh………. masih jiwa muda. Sory banget yah

  5. February 25, 2008 2:15 pm

    :d Bang Pahala, tak apalah itu
    kami para perempuan baik yang berjiwa tua maupun yang berjiwa muda sering merasakan itu, mungkin bedanya, apakah dia keceplosan apa tidak, seperti yang kulakukan.

    :-? mungkin karena aku memang masih muda, :)) (dibilang tua rasanya nggak enak, becanda). Tapi mending gitu Bang, keceplosan daripada ngedumel dan menjelek2kan di belakang. Karena banyak wanita “berjiwa tua” melakukannya di kantor.

    Sepertinya maksud Bang Pahala bukan itu ;) Inilah disebut mekanisme pembelaan diri :-" (pura-pura tidak paham) :))

  6. February 25, 2008 2:26 pm

    @mas bobby: usianya udah hampir dua kali lipat mas, tapi jiwanya muda (jadi terpengaruh bahasa bang Pahala). Btw, tu surat-surat berantakan sejatinya bukan punyaku. Sebagai sekretaris, mereka teman sesubdit, merasa mejaku adalah portal semua pekerjaan. Tapi, aku tahu kok aku salah :">

    @akoe.bukan.malau: aku adalah anak ibu-bapakku yang baik hati, anaknya aja yang badung. Kasi dilawan, bisa-bisa terancam karier nih, :) Becanda ih

  7. marycha

    February 27, 2008 8:06 am

    wah kak irene berani bener ngomong kayak gitu ke kasinya.
    cool…..kadang2 kita harus meluapkan emosi kita juga, jangan dia aja.

  8. February 27, 2008 9:46 am

    Girl Power!!! =d>

    Tapi bener kok Cha, aku juga merasa bersalah.

  9. 3

    February 27, 2008 6:40 pm

    :( gak ngeti

  10. February 28, 2008 7:22 am

    Biar kutebak, yang bernama “3″ di atas pasti cowok… :)>-

  11. Pahala Panjaitan

    March 1, 2008 10:11 am

    - Karier tidak akan terancam dan yang menentukan bukan si Kasi karena dia hanya eselon IV saja
    yang sebentar lagi akan pensiun atau dipindahkan ketempat lain.
    - Meja berantakan biasa saja itu tandanya kegiatan kita sehari-hari selalu ada saya senndiri juga begitu, toh juga besok pagi saya kerjakan lagi.
    - Perhatikan ada rasa tidak enak / iri diantara sesama ini perlu diantisipasi. Biasa kalau bekerja dimana saja pun
    - Sorry banget lho………

  12. March 3, 2008 7:09 am

    Hiks (Jadi terharu), baiklah Bang Pahala… :d

Leave a Reply

:) :( :d :"> :(( *:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »