Perempuan Punya Cerita
Akhir-akhir ini penyakit menonton bioskop kambuh. Sebagai penyakit kronis, menonton bioskop sangatlah menyita waktu dan uang tentunya. Tapi anggaplah itu sebuah cara untuk memperoleh hiburan. Dan, eng-ing-eng… bisa berbagi dengan kalian semua.
Setelah menonton film ini dua kali di bioskop yang berbeda, aku bisa menangkap detailnya dengan lebih baik.
Perempuan Punya Cerita adalah film unik yang terdiri atas 4 (empat) cerita, film omnibus (begitu blitzmegaplex menyebutnya–aku aja baru tahu). Disutradarai oleh 4 (empat) perempuan yaitu Nia Dinata, Upi, Lasja F. Susatyo, Fatimah T. Rony untuk masing-masing Cerita Pulau, Cerita Cibinong, Cerita Yogyakarta dan Cerita Jakarta.
CERITA PULAU
Sebagai seorang bidan, Sumantri (Rieke Dyah Pitaloka) pernah melakukan aborsi untuk menyelamatkan si ibu, tapi masyarakat malah menuduhnya kriminal. Wulan (Rachel Maryam) adalah anak keterbelakangan mental, tetangga Sumantri. Di tengah pergumulan kanker payudara yang sudah stadium tiga, dia juga berusaha memperjuangkan kasus perkosaan yang dialami Wulan (Rachel Maryam). Karena aborsi dulu, Sumantri tidak bisa berkutik sedikit pun untuk membela Wulan. Malahan polisi lepas tangan atas kasus itu.
Keistimewaan Cerita Pulau: Konflik ketika berhadapan dengan pelaku perkosaan yang menganggap bisa menghapus kesalahan dengan membayar sejumlah uang kepada Nini Wulan. Dan dia berhasil! Bagian cerita inilah yang paling mengesankanku. Betapa cerita ini menggambarkan keadaan masyarakat sekarang ini. Akting Rachel Maryam juga layak mendapat acungan jempol. Hebat pendalaman karakternya.
CERITA CIBINONG
Esi (Shanty) bekerja menjaga toilet di klub malam. Dia sangat tertarik menjadi penyanyi dangdut seperti Cicih (Sarah Sechan) yang sedang ngetop di klub malam itu. Anak Esi yang bernama Maesaroh (Ken Nala Amrytha) mengalami pelecehan seksual oleh kumpul kebo-an Esi yang sudah janda. Ketika hal itu diketahui oleh Esi, dia langsung membawa Saroh keluar jauh dari rumah itu. Petualangan bersama Cicih dimulai. Cicih yang juga tidak pernah puas dengan keadaannya. Cita-cita Cicih menjadi seperti Vety Vera (baca: Petti Pera) menjeremuskan dia ke dalam perdagangan anak perempuan dan bayi. Maesaroh ikut terseret atas pengaruh Cicih dan menikah dengan seorang laki-laki Taiwan.
Kekurangan Cerita Cibinong: Sarah sudah terlalu lekat dengan cap kocak, jadi ketika dia akting serius, yang ada aku tetap merasa dia lucu dan tidak bisa merasa sedih selayaknya pesan cerita ini di akhirnya.
CERITA YOGYAKARTA
Cerita Yogyakarta sempat membuatku syok. Apa benar “free sex” segitunya sekarang di Yogya? Atau cerita ini hanya hiperbola? Secara umum, bagian ketiga ini adalah cerita terkaku di antara yang lain, mungkin karena pemain-pemainnya yang masih muda. Safina (Kirana Larasati) terasa cocok dengan perannya, muda dan petualang. Dan aku sudah lama menunggu peran Fauzi Baadila sebagai lelaki yang rada-rada nakal karena memang penampilannya sangat menggambarkan itu,
. Sayang sekali peran pendukung malah membuat cerita ini jadi kaku.
CERITA JAKARTA
Dan cerita terakhir adalah cerita favoritku. Laksmi (Susan Bachtiar) dalam debut pertamanya berhasil membuatku menangis. Laksmi sebagai janda beranak satu selalu saja ditekan oleh mertuanya, dituduh penjangkit AIDS karena dia penderita AIDS yang sebenarnya didapat dari suaminya (yang telah meninggal). Konflik dalam cerita ini adalah ketika Laksmi harus memilih antara menyerahkan Belinda (Ranti Maria) anaknya atau bertahan bersamanya di tengah perjuangan melawan AIDS yang semakin akut. Karena terpaan masalah pekerjaan dan uang yang semakin menipis akhirnya Laksmi rela melepas Belinda. Babak akhir inilah yang sangat menyentuh.
Empat cerita di atas hanya pemaparan masalah-masalah yang terinspirasi kehidupan nyata dan tanpa penyelesaian. Masalah gender yang sudah sering terjadi. Kasus perkosaan yang lalu begitu saja, free sex kaum remaja, perdagangan anak perempuan dan terakhir AIDS.
Film ini adalah karya anak bangsa yang patut diacungi jempol karena berani memaparkan fakta. Tapi kecenderungan masyarakat ternyata masih lebih memilih film horor dan sejenisnya yang tak berisi dibanding film paparan seperti ini. Mungkin karena film ini tanpa penyelesaian, rasanya kurang lega menonton.
Menurutku film ini patut dikoleksi, apalagi oleh kaum perempuan, ibu dan bapak.

