Hotel Bintaro: Not Recommended
Jumat, 15 Februari 2007 malam, aku harus menginap di Bintaro karena menghadiri rapat sampai larut malam. Aku punya banyak teman di Bintaro, tapi rasanya tidak enak memberatkan teman yang kebanyakan masih tinggal di kos itu. Akhirnya aku memilih menginap di hotel saja. Bintaro bukanlah daerah wisata yang penuh dengan hotel dan penginapan, jadi tidak heran kalau kita tidak menemukannya di tepi-tepi jalan.
Kakak iparku dulu pernah bercerita tentang Hotel Bintaro, katanya “Untuk singgah bolehlah, lainnya nggak usah”. Dari kata-katanya, aku ragu menginap di sana, tapi karena tidak ada pilihan lain apa boleh buat.
Pandangan pertama begitu mengesankan, pertama: lokasinya berada di kompleks ruko dan bank-bank, terselip di gedung-gedung perkantoran persis di depan Bintaro Plaza. Kedua: Bau rokok sangat kentara di dalam kamar (padahal) berAC. Ketiga: Nyamuk kok bisa-bisanya berkeliaran di dalam ruangan sedingin itu ya?
Aku dan suami berusaha tidur di ruangan sumpek tapi dingin itu. Saat itulah kami baru menyadari, ternyata kami tidak diberikan remote AC maupun TV. Bagaimana caranya tidur dalam kondisi dingin dan nyamuk-nyamuk iseng. Semoga saja nyamuk-nyamuknya jantan,
.
Malam itu rasanya lama banget, tapi untunglah pagi datang juga. TV masih menyala karena posisinya tinggi di atas dan sulit dijangkau. Aku kemudian membangunkan si Abang untuk pulang, nggak minat mandi dulu karena melihat kamar mandinya bisa buat berdiri satu orang doang, ditambah bau rokok yang pekat di sana.
Senang rasanya keluar dari kamar sumpek itu. Setelah check-out, kami meminta motor kami dilepas dari gembok gede yang dipasang untuk keamanan (katanya).
Si Abang berbisik “Mau dikasih uang parkir Dek?” dan aku mengangguk “Seribu Bang”.
Si Abang menyelipkan uang seribu ke tanganku. Tak mau buang waktu (sejujurnya aku nggak suka memberikan uang parkir liar begitu) kuberikan uangnya kepada Bapak yang sudah mematung menunggu kami.
Reaksinya sungguh tak diduga, dengan muka sedikit tersenyum sebelah bibir “Maaf Bu, di sini parkir sepuluh ribu”.
“Haaahhh? Apa???” Aku sama sekali tidak bisa menyembunyikan kekagetanku.
“Kalau ada bukti pembayarannya kami pasti bayar Pak, boleh saya lihat buktinya?” kataku lagi mengungkapkan kekesalan.
“Oh, nggak ada bukti-buktian Bu, karena kita bagi dua antara penjaga keamanan dan Ormas.”
“Ormas???” makin kaget dengan jawabannya.
“Buktinya aman kan Bu, nggak ada pencurian. Kalau nggak gitu bisa hilang motornya.”
Terdengar seperti sebuah ancaman. Kalau memang uang parkirnya sebagai uang takut, bilang dong dari tadi.
Setelah menarik napas dalam-dalam, aku jadi malas berdebat lebih lama dengan bapak ini.
“Jadi begini ya Hotel Bintaro…” ungkapku setelah lama tidak merespon “Lain kali kita tahu deh Pak, ternyata hotel ini tidak punya parkir, tapi malah mungut sepuluh ribu…”, emang dia doang yang bisa ngancam sambil kusodorkan sepuluh ribu yang diinginkannya.
“Oh, di sini banyak yang datang kok.” sedikit membela kalau perbuatannya itu biasa.
“Tahu gini, kan kita bisa titip di teman kampus.” gumamku pelan.
“Oh, anak kampus juga sering ke sini dua kali setahun.” masih saja menjawab.
Padahal tepat di depan hotel ini, di Bintaro Plaza, jika kita meninggalkan motor dikenakan maksimal Rp 5000 dan dijamin aman serta pakai bukti pembayaran.
Btw, ormas sekarang ternyata beralih fungsi menjadi preman ya?
Melalui postingan ini, aku ingin memberitahukan teman-teman, jika menginap di daerah Bintaro lebih baik menginap di rumah kerabat atau sedikit berkorban agak jauh berjalan keluar Bintaro. Hotel Bintaro sungguh-sungguh tidak kurekomendasikan mengingat aku sudah merasakan betapa hotel ini tidak menyenangkan.
Pictures were taken from http://capturedmoments.vox.com.

