Tempo’s “Last Supper” Photo

Tertarik juga jadinya membahas ini. Mailing list penuh dengan perdebatan soal benar-salahnya keputusan redaksi Tempo memuat foto Last Supper versi mereka di halaman sampulnya. Menurut kalian bagaimana?

Aku tergelitik untuk membeli Tempo karena sampulnya itu (jujur saja), tapi sayang Tempo-nya keburu habis. Mungkin itulah tujuan mereka membuat sampul kontroversi ini, meningkatkan penjualan majalah, terlepas dari keinginan menghina atau tidak. Anehnya, mereka membuat sampul yang berbeda untuk Edisi berbahasa Inggris (English Edition). Apa ya maksudnya kira-kira?

Ketika pertama kali melihat majalah ini aku tersenyum simpul dan berpikir dalam hati “aneh-aneh aja idenya”. Tidak ada perasaan sakit hati, meskipun tersirat sedikit rasa “kenapa harus lukisan itu sih yang dicontoh, nggak ada lukisan lain?”.

Coba lamat-lamat kita pikirkan, itu hanya karya tangan seorang manusia Leonardo da Vinci yang memiliki imajinasi tentang “Perjamuan Terakhir” dan menjadi tenar di kalangan umum. Rasanya memang jadi aneh jika foto itu diekualkan dengan Pak Harto yang hanyalah seorang presiden. Bagaimana kalau aku pun melukis imajinasiku tentang Last Supper dan beberapa pihak memanipulasinya menjadi lelucon atau apa, tentulah tidak ada yang peduli. Hehehe… kalau ini mah bukanlah perbandingan yang pas.

Kupikir Tempo tidak bermaksud menghina pihak-pihak tertentu kok, tapi toh mereka telah meminta maaf atas kekhilafannya jika telah menyakiti masyarakat.

Tidak perlu sakit hati dengan foto sampul Tempo tersebut, karena kita tidak perlu membela, kan Dia (Yesus) juga sudah dihina dan dicaci dari dulu tapi tidak marah atau mendendam.

Related posts

4 Comments so far

Leave a comment Subscribe to Comments RSS Trackback this entry

  1. raja p simbolon

    February 8, 2008 6:16 pm

    Saya membuka sebuah situs yang juga membahas soal tindakan mahasiswa di Jakarta yang melaporkan masalah ini ke Mapolda Metro Jaya. Sialnya, ada orang-orang tak bertanggung jawab (tepatnya tak berotak)yang justeru membuat komentar tak pantas dengan menyebut: dasar minoritas brengsek.
    Saya pribadi tak setuju dengan tindakan mahasiswa yang melaporkan masalah itu. Soalnya saya sependapat, berdosa atau tidaknya yang membuat cover itu, semuanya urusan Tuhan. Jangan-jangan Tuhan sudah memaafkan, kita malah terus sewot.
    Lagi pula kita jangan pernah lupa, salah satu ajaran utama Yesus Kristus adalah, agar kita selalu memaafkan orang yang bersalah kepada kita, bahkan mengasihinya juga.

  2. Bobby

    February 9, 2008 9:18 am

    seniman dan wartawan adalah profesi yang bebas merdeka. jadi banyak yang gondrong rambutnya..di kantormu ada yang gondrong gak rambutnya,ren?
    temanku pindahan dari gresik dulu cerita rambutnya gondrong sampai punggung. Tamu2 yang datang pada nanyain kamu karyawan ya? Jawabnya dia cleaning service atau honorer..

    tapi kalo karikatur terutama tentang tokoh agama sebaiknya hati-hati..

    karena efek ke depannya menghabiskan waktu dan sia sia dan lebih merepotkan karena menyangkut SARA..

    Aku udah liat sampulnya di Sta. Turi,SBY…mau beli tapi malah beli intisari..ntar kalo ada beli ah…

  3. February 12, 2008 2:45 pm

    we have a great HIM, greater than just a pic…
    :)>-

  4. masge_yk

    February 16, 2008 7:01 pm

    Hallo,saya tertarik untuk gabung juga.
    Tapi terus terang, tanpa ikut gabung pun sebenarnya sudah jelas pendapat saya tdk jauh berbeda dengan kalian. Apalagi masalah sudah selesai dan pihak yang terlibat sudah minta maaf. Tapi toh saya sempat mengandaikan bila masalah tersebut terjadi di pihak lain tentu masalahnya tidak sesederhana itu. Bahkan akibatnya bisa meluas dan berlarut-larut.
    Tapi biarlah, marilah kita belajar menjadi besar dari hal yang kecil-kecil. Juga bila peristiwa serupa terjadi lagi kelak.
    Syaloom ….

Leave a Reply

:) :( :d :"> :(( *:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »