Tempo’s “Last Supper” Photo
Tertarik juga jadinya membahas ini. Mailing list penuh dengan perdebatan soal benar-salahnya keputusan redaksi Tempo memuat foto Last Supper versi mereka di halaman sampulnya. Menurut kalian bagaimana?
Aku tergelitik untuk membeli Tempo karena sampulnya itu (jujur saja), tapi sayang Tempo-nya keburu habis. Mungkin itulah tujuan mereka membuat sampul kontroversi ini, meningkatkan penjualan majalah, terlepas dari keinginan menghina atau tidak. Anehnya, mereka membuat sampul yang berbeda untuk Edisi berbahasa Inggris (English Edition). Apa ya maksudnya kira-kira?
Ketika pertama kali melihat majalah ini aku tersenyum simpul dan berpikir dalam hati “aneh-aneh aja idenya”. Tidak ada perasaan sakit hati, meskipun tersirat sedikit rasa “kenapa harus lukisan itu sih yang dicontoh, nggak ada lukisan lain?”.
Coba lamat-lamat kita pikirkan, itu hanya karya tangan seorang manusia Leonardo da Vinci yang memiliki imajinasi tentang “Perjamuan Terakhir” dan menjadi tenar di kalangan umum. Rasanya memang jadi aneh jika foto itu diekualkan dengan Pak Harto yang hanyalah seorang presiden. Bagaimana kalau aku pun melukis imajinasiku tentang Last Supper dan beberapa pihak memanipulasinya menjadi lelucon atau apa, tentulah tidak ada yang peduli. Hehehe… kalau ini mah bukanlah perbandingan yang pas.
Kupikir Tempo tidak bermaksud menghina pihak-pihak tertentu kok, tapi toh mereka telah meminta maaf atas kekhilafannya jika telah menyakiti masyarakat.
Tidak perlu sakit hati dengan foto sampul Tempo tersebut, karena kita tidak perlu membela, kan Dia (Yesus) juga sudah dihina dan dicaci dari dulu tapi tidak marah atau mendendam.

