Soeharto Mangkat
Judulnya seperti koran saja. Tapi sungguh hari ini, tidak ada koran yang tidak memuat tentang Soeharto di headline-nya. Sedikit muak dengan berita ini, aku berusaha mengubah channel tv ke musik atau iklan sekalipun. Apalagi ditambah si Abang yang ngomel “Nggak ada berita lain apa?”
Pagi ini aku berangkat naik KRL AC seperti biasanya. Penjaja koran berusaha mencari perhatian setiap orang yang mau naik ke kereta. Sebagian cuek tapi sebagian membelinya. Aku termasuk orang yang cuek, apalagi mengingat dapat dipastikan headline news -nya itu-itu lagi. Betapa berita itu tidak menarik untuk disimak. Kalau memang dia mangkat kenapa? Toh, kalau orang lain yang mangkat tidak pernah seheboh itu. Sepertinya kita terlalu menaruh perhatian pada Bapak yang satu ini. Yah, okelah dia Presiden kita yang kedua, tapi apakah jasa beliau dibanding bekas kepemimpinannya cukup membuat kita bangga menjadi orang Indonesia sekarang ini? Ney.
Ntah karena jasa baiknya atau karena dia pemimpin yang bertangan besi-lah yang membuat orang begitu terpikat dengan berita ini. Padahal isi beritanya itu-itu saja. Seorang anak yang memohon maaf atas kesalahan Bapaknya kepada rakyat, masa lalu yang gemilang dari sang Bapak, prosesi pemakaman, kehidupan keluarga, dan blah-blah-blah, menghiasi layar kaca, halaman terdepan koran dan perbincangan di kantor.
Apapun yang pernah diperbuatnya atas negeri ini, aku tidak terlalu peduli. Yang penting adalah bagaimana tindakan kita ke depannya. Negara ini sudah terlanjur di ambang kehancuran. Memaafkan dia? Atas apa? Jika memang dia koruptor, dia sudah berhadapan dengan Pihak yang harus mengampuninya sekarang, yaitu Tuhan. Biarlah Tuhan yang memperkarakan setiap tindakannya dan mengampuninya. Untuk kasus yang dapat diselesaikan di bumi Indonesia ini, marilah kita sama-sama mengawasi penyelesaiannya. Pak Presiden, tolong tegakkan hukum yang berlaku, karena kepastian hukumlah yang sangat diperlukan untuk menyelamatkan Indonesia ini dari lubang kehancuran. Maaf hanyalah dari hati yang tulus, usahlah dipaksakan. Maaf pun tidak cukup untuk menyelesaikan masalah. Kasus ini harus diperkarakan dengan adil, janganlah menjadi penyakit menahun yang semakin lama semakin kronis.

