High Heel dan Kereta Listrik
Mencari tantangan baru atau sekedar berusaha melawan sifatku yang tidak terlalu feminin, hari ini aku pergi ke kantor dengan high heel (5 cm). Kali ini tidak tanggung-tanggung, aku naik kereta listrik disambung dengan angkutan kota yang padat. Berhubung karena KRL AC Ekonomi Ciujung sudah berangkat, tanpa memilih lagi aku menaiki KRL ekonomi, non AC tentunya. Suasana padat tidak menggangguku sama sekali karena aku duduk di tempat yang nyaman sampai tertidur segala.
Sesekali kepala terantuk sudut jendela karena tidur di tempat yang tidak seharusnya. Aku tidak terbiasa tidur di atas kereta ekonomi karena rawan copet, tapi kali ini aku tidak mampu menahan kantuk karena sakit kepala alias puyeng yang membuat tidurku kurang enak dua hari belakangan. Tapi untung saja di Stasiun Palmerah aku bisa membuka mataku dengan lebar.
Dengan High heel, aku berlari dan melompat keluar dari kereta. Sakit terasa ketika kaki menjejak ke tanah, barulah aku sadar high heel nya sudah melukai kulit kakiku. Dengan muka yang diusahakan setegar mungkin aku berjalan mencari angkutan kota. Berjalan dengan kaki terluka tidaklah mudah, apalagi ditambah dengan drama “bahwa aku tidak apa-apa” itu. Sesekali dalam hati aku menertawakan diri sendiri, kenapa sih nggak jadi diri sendiri saja? High heel bukanlah suatu jalan untuk menghilangkan sisi tomboy dalam diriku. Lagian buat apa sih aku menghilangkan sisi itu? Ide gila memang kadang muncul mendadak di kepalaku.
Tantangan menuju kantor tidak sampai di situ saja, masih ada angkutan kota yang padat dan jembatan penyeberangan yang terlihat sangat panjang. Tapi lihatlah, sekarang aku sudah di depan komputerku dan merasakan kelegaan luar biasa. Paling tidak ada hikmah “bersakit-sakit dahulu, lega kemudian” kan?
Hmmm… tunggu saja jam pulang kantor, penderitaan selanjutnya akan datang. Mungkin sebaiknya aku beli sepatu olahraga jam istirahat ini.
.

