Ngeblog dari Brastagi
Setelah lelah mencari warnet di Kabanjahe, akhirnya kami menemukan warnet juga di Brastagi (nyasar).
Kangen menulis blog, akhirnya pencarian warnet sampai di Brastagi. Rasanya tangan udah gatal memegang keyboard dan menulis sesuatu di blog ini setelah hampir lebih seminggu berpisah dari koneksi internet. Hihihi…
Persiapan pernikahan hampir rampung, tapi kok rasanya nggak seperti ingin menikah ya
, karena semua biasa saja. Hari-hari berjalan seperti biasa diselingi beberapa perayaan natal dan kehidupan berjalan perlahan. Maklumlah terbiasa dengan kecepatan di Jakarta. ![]()
Menulis di sini seperti menemukan diriku kembali, karena selama persiapan pernikahan di sini cukup membuatku kehilangan jati diri (becanda). Mungkin sekitar dua minggu ke depan aku tetap nggak bisa intens menulis blog, tapi tunggu saja setelah itu, aku akan menulis kapan pun kusuka.
Sekarang, aku akan menceritakan keadaan Tanah Karo, Brastagi khususnya. Kenapa Brastagi? Karena perjuanganku tadi mendapatkan warnet yang tergolong lemot ini sangat berat (kurang bersyukur banget yak?). Setelah mencari di pelosok Kabanjahe, kami pun memutuskan pindah lokasi pencarian ke Brastagi. Sayang, hujan turun rintik tapi pasti di sepanjang perjalanan menuju Brastagi. Tanpa hujan pun, Brastagi sudah dingin, apalagi ditambah hujan. Tapi karena kami sangat kangen dengan koneksi internet, jadilah kami bertanya kesana kemari untuk mendapatkan warnet. Untunglah warnet ini ketemu. Fuih… Biasanya aku ke Brastagi untuk keperluan wisata tapi kali ini aku nggak peduli Gundaling yang sangat mempesonaku dulu itu demi warnet.
Brastagi di sore dan malam hari kondang dengan pasar kagetnya. Pasar kaget di gelar di sepanjang jalan utama kota ini. Kalau ingin menghilangkan rasa dingin, boleh mencoba bandrek susu atau makanan lain. Bertepatan dengan musim durian, maka pasar durian yang juga kagetan akan bermunculan di seberang pasar kaget tadi. Durian bisa menjadi alternatif lain untuk mengusir dingin, tapi jangan kebanyakan karena bisa menyebabkan mabok darat, ![]()
Sebenarnya aku kangen dengan kantorku, terlebih kamar kosku yang berukuran 3×2 itu. Kangen dengan pekerjaan yang setumpuk (sedikit aneh juga sih), dengan jam istirahat yang bisa dipakai berbelanja ke sogo jongkok dan kangen suhu Jakarta yang hangat (panas tepatnya), dengan kebiasaan tidur malam dan bangun super pagi, dengan lembur kantor yang asik, dengan teman-teman kantor yang heboh (apalagi kalau ada makanan). Di Kabanjahe, aku harus berjuang menyesuaikan diri dengan suhunya yang dingin, bersakit-sakit dahulu lalu senang kemudian. Sekarang setelah bisa beradaptasi, aku pun kemudian kembali ke Jakarta nan panas, berjuang memperebutkan oksigen dengan penduduknya yang padat.
Sigh… ya, gimanapun aku akan mensyukuri ini semua. Lagian sekarang kan aku pulang untuk mengubah status, mengikuti alur adat tanpa komplain dan belajar menjadi bagian adat tersebut mengingat aku adalah mahluk sosial yang tidak bisa dipisahkan dari adat.
Sebenarnya aku meragukan paragraf terakhirku di atas. ![]()
Paling tidak, kita kembali ke kenyataan di mana aku telah memuaskan rasa kangen menulis blog ini. Senang dan lega rasanya. Aku akan menulis lagi jika ada kesempatan.
NB. Teman-teman yang bisa datang ke pernikahanku datang ya… Khawatir juga nih tamu pernikahannya tamu ortu kami semua. Peace!
![]()

