Hari Terakhir
Sudah berapa harikah aku tidak menulis di blog ini? Hampir 10 hari. Itu rekor baru aku bisa menahan diri tidak menulis.
Hari ini adalah hari terakhirku masuk kantor sebelum pulang cuti menikah. Jadi mungkin selama aku pulang, aku tidak akan menulis. Apalagi mengingat kesibukan yang akan kuhadapi untuk persiapan menikah. I’m getting married.
Pernikahan memang baru bagiku, tapi tidak cukup membuatku excited. Mungkin karena terlalu kelelahan dengan persiapan tetek bengeknya. Hem, yang pasti hari ini aku akan pulang dan besok aku bertemu dengan keluargaku di Kabanjahe.
Di hari terakhirku, aku ingin sekali memberi ucapan terima kasih pada beberapa teman yang sudah membantuku dalam persiapanku menuju pernikahanku akhir bulan Desember ini.
1. Terima kasih untuk seluruh tim pembagi undangan.
Pertama, ada Brando yang siap antar kemana saja dan mendownpayment seluruh transaksi (
itu mah bukan DP namanya kalau seluruhnya), yang sudah menyumbangkan pikiran juga. Kutunggu kau di pernikahanku ya Bran bersama dengan suara emasmu.
Kedua, siapa lagi kalau bukan Nirwana. Di tengah-tengah kesibukan ujian, masih sempat membantuku membagikan undangan. Thanks Sis.
Ketiga adalah Lasmaria Diani Sari. Terima kasih atas segala bantuannya Bu, termasuk yang di luar undangan juga.
Keempat adalah Renaldy (last but not least). Adek yang satu ini terlihat bete beberapa hari ini, keceriaan hilang dari wajahnya. Aku tahu aku bersalah banyak padanya karena bertepatan ultahnya aku lupa dan mengucapkannya tidak pada saat pertama bertemu, maafkan aku kakakmu ini. Kado datang tar 7 Januari 2007, ditunggu ya Re. Jangan sedih gitu dong, atasanmu memang tidak bisa diandalkan.
2. Terima kasih untuk Masdiyan
Bantuanmu sudah sangat banyak padaku. Saking banyaknya aku tidak bisa menyebutkan apa-apa saja itu. Sejujurnya aku merasa tidak enak, tapi untunglah rasa tidak enak itu kalah dengan rasa lelah dan rasa haus bantuan.
Bagaimana mungkin aku membalas semua kebaikanmu? Ingin sekali-kali membantumu, tapi kesempatan itu selalu berbalik menjadi kesempatanmu berbuat baik padaku. Aku tahu kesempatan itu tidak datang sendiri, tapi harus diciptakan. Tapi aku tidak memiliki kemampuan untuk menciptakannya. Maka dari itu, mintalah bantuanku sesekali. Aku sangat berharap pada sebuah “kesempatan mengembalikan kebaikan”.
Kerelaanmu menunggu lembur kemaren itu lebih-lebih membuatku mimpi dan mengigau telah menganiayamu (gaya bahasa berlebihan). Tapi bagaimanapun, aku menghaturkan beribu, berjuta dan beratusjuta terimakasih.
Rasanya aku akan mendapat tanggapan dengan bunyi “Ga penting banget sih!” ![]()
3. Terima kasih untuk seluruh Petugas Subdit tempatku bekerja
Terima kasih atas pengertian kalian akan kesibukanku grabak-grubuk membuat undangan bagi seluruh dunia itu. Apalagi kalian menjanjikan untuk datang ke pernikahanku, padahal daerah terpencil gitu dan kalian pasti tidak tahu apa yang akan kalian hadapi di sana. Anyway, thanks a bounce.
Doakan ya pernikahan kita berjalan lancar.

