Stress Pra Nikah

Jangan pernah menikah karena merasa pernikahan itu indah, tapi menikahlah ketika kamu tahu bahwa pernikahan itu memiliki banyak sekali persoalan dan kamu siap untuk itu. Atau mungkin bisa berbunyi seperti ini: “Menikahlah ketika kamu merasa sudah dewasa”. Dengan begitu, ketika ada masalah perasaan dewasalah yang akan mengambil keputusan.

Aku merasa bersalah setiap kali pemikiran untuk mundur itu berkelebat. Sebulan sebelum menikah, tapi pikiran untuk mundur malah makin merajalela. Apakah aku salah?

Ketakutanku akan pernikahan terbukti sudah, masalah tidak akan bertambah sederhana tapi sebaliknya, semakin rumit. Aku bingung, “menjadi diri sendiri” malah salah di hadapan keluarga. Saran yang paling tepat untuk menjadi bagian keluarga adalah “jaim”. Bagaimana mungkin aku bisa jaim sekaligus merasa betah? That’s not me.

So, what should I do? Give Up? Do you think so?

Aku pernah bertemu dengan seorang wanita di acara keluarga, sepertinya masih lebih muda dariku tapi sudah menikah terlebih dahulu dengan salah seorang anggota keluarga. Dia cantik, tapi sering digunjingkan seperti “Ah, dia kan pelit” atau “Dia itu sering menghindari keluarga”. Yang kutangkap berbeda dengan mereka. “Jangan-jangan dia tidak merasa betah dengan komunitas ini sama seperti aku”. Apakah aku juga akan digunjingkan seperti dia sekarang? Atau aku akan berlatih jaim di depan semua orang, yang tentu saja akan membunuhku perlahan? Manatau suatu saat jaim itu bisa menjadi budaya baruku. Tapi tetap saja, aku tidak ingin budaya gosip dkk menjadi budayaku juga.

Terus, bagaimana dengan aku?
Aku mencintai orang ini, tapi dengan konsukensi aku juga harus mencintai keluarga besarnya sepaket dengan budaya tadi. Aku juga tidak ingin menjadi orang sok bijak mengajari mereka apa yang menurutku baik, yang mungkin juga, tidak baik bagi semua orang.

But, please forgive me if i do consider this cancelation for many times.

Coba waktu bisa berputar kembali dengan meminjam mesin waktu Doraemon, aku pasti akan… mmm, grrrrh. Sampai disini, aku pun tak tahu akan mengkoreksi tindakan yang mana. Semuanya terlihat begitu lancar sampai aku tiba ke kesimpulan “Aku belum siap mental dan terperangkap dengan keinginanku sendiri”

Coba kugambarkan perasaanku sekarang:
-galau
-stuck
-gelisah
-sendirian
-takut
-bingung
-kosong
- ow, please… Somebody please help!

Tangisan tentulah tidak membantu, tapi nyatanya aku menangis sendirian di depan laptop ini. Kenapa aku harus bergelut dengan hatiku sendirian?

Ada satu hal yang belum pernah kuceritakan di blog ini. Sebenarnya aku tidak siap menghadapi kenyataan yang dimiliki oleh “orang terkasih”-ku ini, dan lagi-lagi aku menyadarinya terlambat. Dilahirkan sebagai anak tunggal cowok di dalam keluarga membuat dia otomatis manja. Marantau ke Bandung membentuk bagian yang mandiri di dirinya. Hanya saja, aku tidak pernah berhasil memanjakannya karena aku sendiri pun terbiasa dimanja. Setiap kali kakak-adik perempuannya atau ibu-bapaknya datang, aku jengah menghadapai kenyataan bahwa aku tidak berarti apa-apa saat itu.

Akhir-akhir ini aku tak sengaja telah membuat suatu batas lingkaran untukku seorang, dimana aku bisa berpikir egois dan tidak memikirkan kepentingan siapapun yang lain. Tapi akibatnya, aku stress, karena kesendirian tidak menemukan solusi. Sekarang aku terlalu sukar membuka lingkarannya. “Ah, dengan menulis blog ini mungkin bisa membukakan solusi baru” pikirku. Semoga saja…

Related posts

Rp 70 juta/bulan dari bisnis di internet? Klik di sini dan temukan caranya!

20 Comments so far

Leave a comment Subscribe to Comments RSS Trackback this entry

  1. February 1, 2009 10:21 am

    @maysa:
    sepertinya meskipun ketika kita mengatakan batin sudah siap, menjelang pernikahan mendadak kita ingin meralat “batinku belum benar-benar siap”
    mungkin itulah yang disebut stress pra nikah.

  2. maysa

    January 31, 2009 11:07 am

    hi irene,

    why sindrom nikah itu slalu ada, Tahun ini plannng to get merid with Mr. Right (I hope ). honesty sy berlindung dibalik pernikahan coz lelah mengar kata “kpan nikah kapn nikah “, padahal batin belum siap nikah , only to make happy our family , fyi lucky nya saya 2 family sudah klop

  3. maysa

    January 31, 2009 10:50 am

    HI..irene,

    why sindrom nikah itu slalu ada, tahun ini planning to get merid with Mr. Right ( I hope ). kasusku sama kayak chuyen , lelah dengan gunjingan keluarga yang slalu bertanya ” kapan nikah kapan nikah “, terkadang aq berfikir apakah saya orang yg jahat yg ingin menang sendiri. berlindung dibalik pernikahan padahal secara batin belum siap nikah.fyi lucky nya saya 2 keluarga sudah sma klop.

  4. December 19, 2008 4:19 pm

    @pemakan mayat:
    Merinding ih baca namanya.~:>
    Siapa nih yang punya pengalaman serupa? cerita-cerita dong.

  5. pemakan_mayat

    December 17, 2008 2:00 pm

    eh ada yg lagi baca dan mirip kasusnya lho

  6. September 10, 2008 1:35 pm

    @arto:
    sepertinya arto juga beruntung sudah dikasi tunjuk sama Tuhan kalo dia bukan jodohnya arto

  7. arto

    September 10, 2008 8:36 am

    beruntung km yg bs dapetin km irene, mantan aku yg kena sindrom itu dan akhirnya jadi ma temen curhatannya.
    tp gw percaya itu yang terbaik buat kita :)>-

  8. July 22, 2008 7:24 pm

    @vega:
    salam kenal juga vega,
    aku menulis semua hal tentang pernikahanku di http://newlywed.in
    coba dilihat dulu aja, tar kalo ada butuh info, hubungi aja aku di blog ini atau di newlywed.in

    btw, jambur lige itu rame kan ya? pesan dari sekarang aja, biar jangan keduluan. Tahun lalu, tanggal 29 Desember 2007 itu ada 4 pasangan yang menikah di Kabanjahe, hehehe…
    Kita rebutan deh.

  9. July 22, 2008 5:59 pm

    salam kenal ya ren…….
    aku seneng bgt baca ttg stress pra nika yang kamu tulis, aku juga sedang merencanakan pernikahan dgn si abang,nti sekitar desember,,,,,
    aku pengen tau tentang persiapan apa saja yang kamu lakuin selama 6 bulan sebelum pernikahan kamu,,, mengingat aku juga bakal nikah di kaban jahe… pengennya di jambur lige juga….. he..

  10. June 16, 2008 6:14 pm

    Oh iya, aku belum banyak cerita tentang pernikahanku sekarang. Aku senang banget bisa punya suami yang sekarang, jadi punya teman berantem dan sharing tentang hal-hal yang selama ini kuputuskan sendiri. Tentu hasilnya lebih matang dibandingkan sebelumnya. Aku juga dulu dituntut oleh ortu menikah sebelum melanjutkan S2, tapi kuakui seringkali mereka benar tentang itu.

    Stres pasti ada menjelang pernikahan, ternyata itu NORMAL (sebelumnya aku nggak mau tahu kalo itu normal). Perbedaan semakin besar terlihat, karena ide-ide tentang detail acara pasti berbeda di antara dua orang (apalagi dua keluarga).

    Tentang teman curhat itu, sebaiknya jangan diteruskan (terlebih jika dia muncul di saat menjelang hari-H, karena hubungan begitu singkat, indah di awal-awal aja), karena dengan dia pun efril pun pasti menemukan perbedaan seperti dengan pasangan sekarang dan mungkin lebih besar lagi, kan efril lebih kenal dengan calon suami yang sekarang dibanding dengan dia. Cinta kan terbukti oleh waktu… jadi jangan mau terpikat oleh daya tarik singkat. Penelitian membuktikan kalo kita cewe suka tertarik pada teman curhat cowo, makanya cewe seringkali harus membatasi diri dalam memilih teman curhat (sebaiknya cewe).

Leave a Reply

:) :( :d :"> :(( *:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »