Egois
Sepertinya aku memang egois kronis. Seperti salah satu komentator di blog ini pernah berkata kalau aku itu “egois banget”.
Aku absen selama tiga hari menulis di sini bukan karena kehabisan cerita tentang hari-hariku, tapi karena banyak kerjaan di kantor dan persiapan pernikahan tentunya.
Kesadaran akan egosentris yang kumiliki mulai sangat terasa ketika aku membaca kembali tulisan-tulisanku yang “aku banget” di sini. Memang blog ini dibuat untuk membahas tema “aku banget”, tapi malah membuat semua semakin jelas, aku dan keegoanku yang besar.
Contoh sifat buruk yang kumiliki adalah bosenan dan manja. Sifat ini selalu mengarah pada sifat pementingan diri sendiri. Contoh dua hari belakangan ini. Ketika si Abang harus bertemu dengan Ortunya alias Camerku, aku diminta menemaninya. Aku ogah karena sedang menjalani diet ketat. Bayangkan kalau aku ikut dia sedangkan Camer membawa oleh-oleh seabreg dan aku tidak bisa memakannya? Bisa mati berdiri penasaran aku memandang makanan enak itu. Tapi akhirnya aku mengalah demi dia. Mati berdiri memang tidak terjadi, tapi aku malah menemukan diriku terasing di sana. Fuih, betapa egoisnya aku.
Sore ini terjadi lagi,
Aku minta dijemput si Abang ke rumah Calon Kakak Ipar di mana Camer menginap. Tapi dengan cepat dia mengatakan “Nggak bisa Dek, di luar hujan lebat”. Memang Jakarta hujan terus belakangan ini. Tapi dengan senjata “Ya udahlah kalau begitu”, aku pun menutup teleponnya. Itu adalah senjata yang bisa membuat orang merasa sangat bersalah. Iya kan? Cobalah kata-kata itu sebagai penuntas sebuah masalah, orang normal pasti akan merasa bersalah menerimanya.
Kenapa kulakukan itu? Karena aku egois!
Oh, apakah aku bisa tertolong?
Aku harus melawan diriku… Harus, harus, harus…
Bawaanku sebagai anak bungsu sangat mendukung ego ini. Tapi hmmm… aku tidak ingin membenarkan diri dengan posisi bungsuku. Aku akan berjuang! Fight!

