Menikah
Masih terasa janggal membayangkan bahwa aku akan menikah. Teman-teman GSM sebagian mengatakan “Moso sih kak Irene menikah, masih kayak anak-anak gitu”. Aku aja geli memikirkannya, apalagi orang lain. Kebiasaanku yang masih kanak-kanak mempengaruhi pandangan orang kalau aku memang terlalu cepat menikah. Aku masih suka pake ransel dengan celana sepertiga dan kaos oblong, berseliweran kesana-kemari, ketawa ngakak tanpa unsur jaim sedikit pun.
Pergaulanku dengan anak-anak membuat semuanya semakin kental. Menjadi anak-anak sangat menyenangkan. Maksudku bukan kembali ke masa kanak-kanak, tapi berpikir seperti anak-anak akan membuat kita mudah tertawa dan berpikir simpel.
Menikah bukanlah sesuatu yang mengerikan, ya kan? (Kok jadi ragu sih? Hah, ini akibat dari cerita-cerita pasangan bercerai di tv nih) Jadi kenapa aku harus takut, geli atau ragu?
Memang menikah akan membuatku kehilangan saat-saat nikmat tidur sendiri dengan posisi sekenanya, kaki di bantal kepala dan guling terlempar ke dasar tempat tidur. Tapi aku yakin, tidur berdua akan lebih baik, dan semoga saja pasanganku tidak akan mengalami nasib sama dengan gulingku.
Aku juga akan kehilangan masa kesendirian yang sering kujalani tanpa beban, menangis menonton film romantis di depan tv atau mengambil saat teduh tanpa gangguan.
Rasanya, pemikiran itu terlalu simpel untuk mengatakan pernikahan itu mengerikan atau tidak. Tapi biarlah pemikiran lain tetap menjadi misteri yang bisa membuat penasaran menunggu saat itu tiba. Kan kalau nggak ada rasa penasaran nggak seru, ya nggak?
Lagipula usiaku nggak terlalu muda untuk menikah, lha wong sudah 26 tahun, kok masih dibilang anak-anak. Hehehehe.

