“Apes” Day

Yang kumaksud bukan Apes=monyet, tapi apes dalam arti sebenar-benarnya (=malang, sedih, tidak beruntung, kasihan, terpojok, tertindas, tidak dapat dipercaya dan ntah apalagi).

Kejadian ini sebulan lalu, Jumat, 28 September 2007 adalah hari apes bagiku. Sebenarnya aku juga tidak ingin menobatkannya sebagai hari apes.

07.00 WIB
Tiba di kantor

08.00 WIB
Membuat lamaran S2 ke Luar Negeri. Cek punya cek, ternyata masih ada yang kurang, transkrip dan ijasah legalisir.

11.00 WIB
Setelah membaca sekitar 10 kali persyaratan S2 tersebut, barulah aku sadar ternyata aku tidak memenuhi syarat. Padahal program beasiswa ini pernah kulamar tahun lalu, tapi nggak lolos karena kurang 7 hari kerja, eh… tahun ini masih juga kurang 7 hari. Persyaratannya ternyata ditambah. Maksud mereka mungkin baik, tidak ingin pegawai-pegawai muda mendahului yang tua. PNS oh PNS. Padahal aku sudah mengerjakan semuanya sendiri, karena bagian umum di kantor sibuk dan tidak menyanggupi pembuatan surat-menyurat untuk S2.

12.00 WIB
Kesal juga sih dengan tambahan persyaratan itu. Apalagi setelah konfirmasi ke sumber dana beasiswa, mereka tidak menghitung hari kerja seperti yang departemen ini lakukan. Seandainya aku langsung mendaftar di pusat penerimaan, tentulah aku lolos secara administrasi. Tapi apalah daya, itu hal yang tidak mungkin.

12.15 WIB
Aku meluncur ke Bintaro, awalnya sih pengen legalisir tapi urung karena persyaratan yang tidak bisa kupenuhi. Kuputuskan tetap pergi untuk mengurus rekening BNI yang bermasalah.

13.20 WIB
BNI oh BNI, PNS oh PNS, kenapa sama saja. Antrian panjang dan pelayanan yang kurang memuaskan adalah ciri-ciri bank milik bangsa. Sekali basah mandi sekalian, kecebur antrian panjang. Ketika mendapat nomor antrian, kupandang papan antrian menunjukkan nomor 283, dan aku shock melihat angka tercetak di kertas di genggamanku, 351…
Waktu berjalan perlahan, bahkan sangat perlahan. Menunggu memang pekerjaan paling membosankan di muka bumi ini.

Singkat kata, singkat cerita…

15.00 WIB
Ketika pintu BNI sudah ditutup, kami belum juga sampai di antrian terdepan. Tapi untunglah beberapa nomor di skip dengan cepat. Masalah selesai, tagihan kartu kredit terbayar sudah.

15.45 WIB
Kantor lagi
Aku sadar telah kehilangan kunci rumah dan kunci laci-lemari di kantor. “Ahhh… pelupa, dimanakah gerangan kunci itu berada”

Biarkanlah… dipasrahin aja dulu. Ada feeling mengatakan kunci itu tidak hilang.

16.30 WIB
Kalah S2 sebelum waktunya, badan penat-penat, kunci hilang. Pulang kantor terasa hampa. Di atas bis jemputan aku mencoba tidur, tapi posisi duduk memaksaku terus membuka mata karena kurang nyaman. Bis berangkat setelah semua anak-anak terkumpul dari seluruh penjuru kantor.

Jalanan macet. Kami tiba di Bintaro 18.30 WIB dengan hati yang lelah, ada yang kelaparan karena buka terlambat, ada pula yang bosan.

18.45 WIB
Lampu kost an gelap. Nasib kehilangan kunci sementara mati lampu, sulit dilukiskan rasanya. Berusaha menghibur diri, kulangkahkan kaki ke kedai indomie “Mamat” yang sarat pengunjung dan perokok. Air mata hampir menitik memikirkan hari ini. Apa salah dosaku ya?

Untunglah hari segera berakhir dan untung juga aku menemukan kunci yang hilang itu sekarang.

Related posts

1 Comment so far

Leave a comment Subscribe to Comments RSS Trackback this entry

  1. Pahala

    November 4, 2007 2:10 pm

    Kalau begitu syukur dah

Leave a Reply

:) :( :d :"> :(( *:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »