Kegilaan Bioskop Indonesia
Ketidaksukaanku akan film bergenre horor melahirkan tulisan ini.
Kenapa aku tidak menyukai film horor? Aku bukanlah tipe orang yang takut hantu atau gelap, meskipun jika berhadapan dengan binatang berantena seperti lipas dan kecoa aku bisa pucat pasi (traumatis). Yang tidak kusuka dari film horor adalah tidak adanya faedah yang bisa kupetik darinya. Memang beberapa orang akan mengatakan film ini meningkatkan adrenalin atau menghibur, tapi teori ini tak berlaku padaku. (Aduh, sori ya teman-teman yang suka horor)
Hobi menonton tapi juga berusaha menghindari pembajakan (:
) membuatku sering nongkrong di bioskop 21 atau di peminjaman VCD dan DVD original seperti Ultra Disc. Genre yang kupilih lebih pada action dan romantis (apalagi film animasi), sisanya kutonton karena keingintahuan atau ada desas-desus film itu bagus. Pernah sekali dua kali kucoba juga nonton film horor di bioskop atau TV di rumah, tapi tetap aku tidak bisa terkesan meskipun mungkin bayangan-bayangan hantu jelek itu masih berkelebat di kepala.
Tapi minggu terakhir ini aku terkesima melihat bioskop 21 terdekat, betapa tidak, lihatlah judul film yang ditayangkan:
Studio 1: Kuntilanak 2 (ck… ck… ck…)
Studio 2: Get Married (Boleh juga)
Studio 3: Pocong 3(Horor… oh horor)
Studio 4: Resident Evil: Extinction (Hm, cukup menarik)
Studio 5: Jelangkung 3 (Heh… apaan sih)
Apaaa? Tiga film horor sekaligus? Woi!
Aku bangga kalau film Indonesia-lah yang mendominasi bioskop kita akhir-akhir ini, tapi kenapa harus film horor? Aku tahu pasti film horor memang berbudget rendah dan diminati banyak orang, dengan kata lain sangat menguntungkan pihak produksi film, tapi apakah film ini gambaran bangsa kita yang suka mistis? Setujukah kita dikatakan demikian?
Didikan apakah yang dihasilkan film seperti ini?
Aku salut dengan film seperti Nagabonar (satu dan dua) atau Denias yang memiliki misi tertentu, ada semangat yang bisa ditanamkan. Ada yang bisa dibawa pulang selain sebagai hiburan.
Pasar memang menentukan film apa yang bertahan di bioskop, tapi kita sebagai pasar pintar-pintarlah memilah dan memilih film apa yang mendidik generasi kita terutama generasi muda. Karena pilihan kita menunjukkan siapa kita.

