Korban Tembok Yerikho
22 September 2007
09.05 WIB
GKI Bintaro Utama
“Halo Net, kita jadi kan buat alat peraga hari ini?”
“Jadi kok Kak, aku lagi dalam perjalanan ke sana.”
“Oke!”
Sebelum kata oke terucap, hape jelek ini udah mati duluan, error.
Natty dan Hanson datang membawa 4 potongan sterefoam putih ke lantai dua tempat kami Sekolah Minggu. Tanpa pikir panjang, kami langsung mengecat sterefoam itu dengan warna coklat bata. Rencananya sterefoam ini dibentuk menjadi bangunan Tembok Yerikho. Besok kami mau menceritakan kisah Yosua dan Bangsa Israel yang mengelilingi Tembok Yerikho.
Sambil tertawa dan bercerita, kami mengecat dan memberi degradasi warna dengan tangan. Satu-dua sisi sterofoam terselesaikan dengan baik. Hasilnya juga lumayan, persis seperti tembok rumah dari bata yang belum diberi semen. Ketika sterofoam ketiga, tangan sudah mulai terasa perih. “Ah, tar juga hilang kok perihnya…” pikirku.

“Kak, tangannya gak perih ya?”
“Sedikit sih…” kupandangi jari jemariku.
Perlahan kubersihkan, dan sepertinya ada warna yang tidak mau bersih. Kugosok, lagi dan lagi. Makin perih aja. Ternyata kulit jariku menipis dan terasa perih banget. Aku berhenti. Hanson mulai mengolok-olok kulitku yang memerah dan memang tipis banget ini.
“Jangan-jangan kalau nyuci, kulitnya langsung lepas…”
Ayo… olok-olok terus deh…
Akhirnya Tembok Yerikho berdiri dengan gagah. Belum sempat melihat puas, greeettt… seorang anak kecil berlari dan menarik satu menaranya dan… patah. Kami hanya bisa tercekat, memandang anak itu dengan perasaan capek, sebel campur gak tega pengen nyubit, hehehe.
Dengan bantuan lidi kecil, menara itu bisa disambung kembali. Syukurlah…
22 September 2007
16.00 WIB
Kos-kosan
Aduuuh… nggak nahan banget perihnya. Tiga jari berwarna merah kuplester satu-satu. Terasa baikan.
23 September 2007
07.30 WIB
GKI Bintaro Utama
Kami mulai bermain drama bersama anak-anak. Pada hari keenam, putaran keenam, anak-anak mulai terlihat lunglai kelelahan mengelilingi Tembok Yerikho. Hari ketujuh pun dipersingkat jadi 5 kali putaran saja. Kasian anak-anaknya sampe lupa teriakan “Haleluya”-nya. Maka Tembok Yerikho pun runtuh…
Hasil karya kami diobrak-abrik, tapi untunglah masih ada sisa-sisa perjuangan yang bisa disimpan, selain sterofoam2 utuh, ada tangan yang perih juga. Memandang jari ini, aku bisa senyum-senyum sendiri.
Sepulang Sekolah Minggu dan Gereja, kami makan di ayam bakar. Lupa tanganku perih, aku mencoel sambal sesuka hati dan jadilah panas luar biasa ini di atas kulit yang menipis. Hehehe… teledor amat.

