The Grief

Aku punya cerita…

Kemarin, sepulang dari menjemput ibu dan kakak aku menerima telepon dari Andi. Lamat-lamat dia menyampaikan berita duka, Pendi teman kami telah meninggal dunia. Cara meninggalnya pun terasa tidak wajar dan mengenaskan. Meninggal di usia muda.

Sejurus kemudian, detik-detik pembicaraan di telepon ini terasa lambat bergulir. Semua berputar kembali, kenangan yang pernah kutanam dalam hatiku, kututup buku dan kubasuh setiap saat agar tidak menimbulkan penyakit dan irisan baru, mengiang.

*****

“Maafkanlah aku, berikan kesempatan sekali lagi…”
“kesekian kalinya?”
“iyaa…”
“Gak! Cukup sudah!”

Itu pertemuan terakhir aku dan David bulan Januari 2002.

*****

Kenanganku indah bersamanya. Pacar pertamaku, melewati masa-masa remaja dengan baik dan tidak bercela. Kami saling mengajari, berantem dan menyelesaikan masalah dengan gaya kanak-kanak. Kebandelan kami satu-satunya yang sering kami lakukan dan membuat ortu uring-uringan adalah mengendarai motor di medan yang berbahaya. Sebenarnya aku juga takut, tapi setelah mengenal dia, ketakutanku hilang begitu saja. Sering kami terjatuh dari motor dan luka, lecet sana-sini. Setelah itu lupa kalau kami pernah kecelakaan.

Hobi positifnya adalah main band. Dia berbakat main gitar. Aku senang luar biasa berada di sampingnya, hanya memandang tangannya memainkan gitar sambil bernyanyi, atau menonton show-show mereka yang berkesan.

Keluarga besar sangat mendukung hubungan kami. Aku pun optimis. “Betapa mudah menemukan seseorang yang cocok di usia muda”. Tapi itu kesimpulan yang terlalu cepat.

Sekarang kalau dihitung-hitung sudah 5 tahun lebih. Bagaimana kami berpisah sungguhlah di luar dugaan. Desember 2001 setelah memutuskan hubungan sebelumnya, kami bertemu kembali di Kabanjahe. Aku mencari alamat temanku untuk reuni, tapi malah kesasar. Di tengah kebingungan dan badanku yang mulai menghangat karena alergi penyesuaian suhu, kulihat bayangannya mendekat dan memekik girang “Ireeeennn…”. Dari matanya kutangkap cinta yang masih sama besar dengan dulu sebelum kami putus.

Aku kangen dia dan pasti raut mukaku tidak mampu berbohong. Dia tahu aku juga kangen.

“Mau kemana Ren?”
“Tadinya pengen ke rumah Mega, sekarang nyasar”
“Kamu demam lagi ya? Baru pulang dari Jakarta?” aku mengangguk, dia benar-benar mengenalku.
“Kuantar pulang ya” sekali lagi aku mengangguk tak berdaya, padahal kutahu kalau sebenarnya kebersamaan kami bisa mengundang masalah baru.

Di atas mobilnya kami terdiam sampai suara cerianya memecah keheningan.
“Ren, gimana kabar?” melontarkan senyum dan sederet gigi putihnya.
“Baik”
“Halah, biasanya juga sakit dulu kalau sampai di Kabanjahe”
—aku senang mendapatkan perhatian besar ini—

Aku turun di rumah keluarga dekatku yang malam itu merayakan Natal Bersama. Dia melambaikan tangannya. Kami berjanji bertemu kembali bulan itu meskipun syarat yang kubuat berat, aku akan membawa teman saat bertemu. Dia menyanggupinya.

Pertemuan kami di cafe sore itu kaku setengah mati. Teman yang kubawa adalah teman dekat kami berdua, Rini. Kami mulai mengenang masa-masa remaja bersama kami, lucu juga. Tapi pembicaraan itu tidak berujung dimana-mana, hanya lucu-lucuan saja.

Sepulang dari sana David mengatakan sesuatu yang masih kuingat sampai sekarang.

“Maafkanlah aku, berikan kesempatan sekali lagi…”
“kesekian kalinya?”
“iyaa…”
“Gak! Cukup sudah!”

“Kalau begitu teleponlah aku, aku mau bicara” katanya lemah.

Aku meninggalkannya dengan perasaan sangat galau, sedih tak terlukiskan. Harus kulakukan karena sudah cukup lama aku tersiksa dengan perasaan sayangku padanya. Mulai dari kegilaannya balap motor, merokok sampai terjebak kasus narkoba (meskipun dia sebenarnya hanya berkunjung dan tak terbukti memakai), tapi dia sempat dibogem juga sampai lebam. Dia juga tidak pernah mau meneruskan pendidikan kuliahnya dengan alasan tidak ada yang dibahagiakan dengan itu. Dia lupa aku. Aku akan bahagia jika dia sungguh menjalani kuliahnya.

Kuhapus dia dari ingatan Januari 2002 itu, meskipun sekembalinya aku ke Jakarta kucoba menelepon ke rumahnya dan papanya bilang dia tidak di rumah dan menyarankan untuk menelepon kembali. Aku tidak meneleponnya lagi.

Beberapa minggu berlalu…

“Reeeeennn, ada telepon…” teman sekost teriak sekencang-kencangnya. Kulempar buku-buku di sekitarku, berlari menuju telepon di ruang tamu.
“Hallooooww, siapa nih?”
“Rini, Ren”
“Eeeeh, Rini apa kabar?” kaget juga dapat telepon dari teman lama
“Baik. Lagi ngapain Ren?”
“Belajar, lagi UTS nih” sambil cengar-cengir, tidak lupa membawa buku untuk dibaca. Sambil menyelam minum air, sambil telepon baca buku.
“Ren, sori ya… Boleh duduk dulu nggak?” Perlahan aku duduk, bingung kenapa aku harus disuruh duduk, dan kenapa dia tahu aku belum duduk? Mendengar suaranya yang terpotong-potong aku mulai deg-degan ada apa gerangan.
“Rin, ada apa sih?”
“Ini tentang David”
“Kenapa dia?”
“Dia sudah dipanggil Tuhan”
“Dipanggil? Maksudnya?” Aku mengginggil. Aku gak butuh penjelasan lebih lanjut. Aku tahu maksudnya apa, hanya saja otakku tidak mampu mencernanya dengan baik. Otakku sibuk memerintahkan badanku untuk tidak bereaksi.
“Kenapa…” tanyaku lagi
“Kecelakan lalu lintas…” Kosong, aku benar-benar tidak bisa mendengar ucapan-ucapan Rini selanjutnya.

“Ren, masih disitu?”
“Masih, udah dulu ya…” kututup teleponnya.

Kusandarkan kepalaku ke kursi berusaha tidak memikirkan apa pun. Bertahun-tahun aku mendapat berita buruk dari David dan kali ini dia berhasil memberikanku berita terburuk sepanjang hidup. Sedih, penyesalan, kaget, pilu, kesal menyatu. Aku ingat dia pernah bilang ingin mati muda. Tapi itukah yang kau cita-citakan Vid? Kenapa faktorku selalu kau lupakan dalam hidupmu? Ibumu memang meninggal beberapa waktu lalu, tapi tak jadi alasan untuk hidup hancur. Aku selalu menopangmu, tapi kau tak pernah peduli. Kau hancurkan hidupmu perlahan tanpa ampun. Dimana aku di hatimu? Semua ruang di hatimu kau tutupi dengan kekecewaan dan akar pahit.

Tak setetes air matapun yang jatuh. Aku terduduk dalam diam. Sedih luar biasa kurasakan. Pertama kali dalam kehidupanku, orang terdekat meninggalkanku di dunia ini. Hatiku belum terlatih. Kebiasaan menaiki motor di medan berbahaya telah merenggut nyawanya.

Tangisku pecah ketika Retta, temanku mampir untuk menjenguk dan menanyakan kabar. Perih itu mengalir keluar. Rasanya lega luar biasa. Apalagi ketika kami berdoa, semuanya berpindah ke tangan Tuhan.

Aku rasanya tidak membutuhkan jawaban atas pertanyaan “Kenapa pertemuan terakhir kami begitu?” atau “Kenapa dia meninggal di saat-saat seperti ini?”

******

Sekarang, ketika berita duka ini kudengar, semua diputar kembali di kepalaku. Pendi temanku dan teman David juga, meninggal di usia muda, meninggalkan anak perempuan dan isterinya. Kenapa ini bisa terjadi? Hanya Tuhan yang tahu.

Related posts

Rp 70 juta/bulan dari bisnis di internet? Klik di sini dan temukan caranya!

Leave a Reply

:) :( :d :"> :(( *:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »