Dedicated to Frengky Situmorang

Aku benar-benar tidak menyangka bakal begini.

Aku tahu sangat sakit mengetahui orang-orang terdekat tidak ada di samping saat berduka. Jangankan berada di samping, menunjukkan simpati pun tidak, sekedar sms atau telepon pun tidak. Pasti sangat menyakitkan.

Aku telah menyakiti seseorang dengan keegoisanku.

Hari itu aku tahu orangtua seorang temanku meninggal dunia. Aku kaget dan mulai berpikir bagaimana cara menyampaikan ucapan bela sungkawa kepadanya. Jujur sulit untuk mengucapkannya, apalagi aku hanya sanggup mengungkapkannya dalam sebaris kata SMS. Setelah berpikir lama, kuketik kata demi kata mengharap kata itu mewakiliku di hatinya dan dia terhibur, ya… mungkin sedikit, at least dia merasa ada yang peduli padanya. Harapanku besar pada satu sms itu.

Harus menyalahkan siapa kalo ternyata sms itu tidak memenuhi harapanku yang tinggi. Boro-boro menghibur, aku malah membuat temanku itu sedih dan kecewa, bukan karena isi sms-ku. SMS itu bahkan ga sampai ke tangan orangnya.

Aku mendengar kabar ini dari Rere. Dia chat dengan sahabat kami itu. Dan aku tahu dari chat mereka, dia sangat kecewa. Aku pun kalau berada di posisinya pasti merasakan hal yang sama, jadi aku mengerti meskipun tidak sepenuhnya.

Tepat pada saat aku mendengar berita ini aku berpikir, betapa piciknya aku. Apakah mungkin Tuhan ingin menegurku? Dan hati kecilku mengiyakan dengan segenap hati. Aku merasa tertohok luarbiasa. You’re not that perfect Irene. You’re such a liar. Don’t be too proud of what you’re are now.

Aku menyalahkan hapeku yang suka eror, aku menyalahkan phonebook yang kepenuhan dan ga update lagi. Aku menyalahkan pulsa yang pada saat itu menipis yang membuatku hanya bisa mengirim SMS. Aku menyalahkan dia sahabatku yang seharusnya tidak langsung menjudge bahwa AKU TIDAK PEDULI.

Tapi sebenarnya, aku seharusnya menyalahkan diriku yang MEMANG kurang peduli. Coba saja aku lebih peduli, pastilah aku membeli pulsa yang mencukupi untuk bertelepon. Seandainya pun nomor yang kuhubungi sudah diganti, pastilah aku tahu dan bisa menanyakan ke teman lain.

Dan kenapa aku hanya bisa menangis sekarang? Tak adakah yang bisa kulakukan?

What should I do now, God? Forgive me…

Aku tidak sehebat yang kukira. Maafkanlah aku Freng. Aku tidak ingin membuatmu kecewa. Kalau aku bisa, aku pasti memilih menjadi kakak yang dekat denganmu, mengusahakan yang terbaik di antara kita. Atau aku lebih memilih menjadi orang yang memang dari dulu tidak dekat denganmu agar kau tidak kecewa seperti ini dibanding dengan situasi sekarang.

Ini telah terjadi dan aku menyesal.
Maafkanlah aku Freng… Sudah merusak harapanmu dan menorehkan luka di hatimu, menambah dukamu. Aku ingin sekali menghiburmu bukannya melukaimu. Dan aku tahu pasti Tuhan pun pasti sudah menghiburmu melebihi semua.

(Ampuni aku Tuhan tidak menjaga kepercayaan ini)

Related posts

7 Comments so far

Leave a comment Subscribe to Comments RSS Trackback this entry

  1. August 31, 2007 1:12 pm

    teleponlah dia sekarang dek… gak ada kata terlambat untuk minta maaf… yang penting kita tulus…

  2. August 31, 2007 4:07 pm

    kok jadi begini ka…

    maafin aku ya, kalo aku menjadi trigger masalah ini…
    sungguh aku nggak ada maksud begitu loh ka…

  3. September 4, 2007 1:50 pm

    Gpp kok re… Aku jadi sadar dan belajar.

  4. aku adalah aku

    September 4, 2007 3:11 pm

    Terlambat lebih baik dari pada tidak sama sekali
    Segala sesuatu ada penjelasannya kok
    Met mencoba :)>-

  5. si rerere minta traktir

    September 11, 2007 2:10 am

    kiranya bang freng udah baca penjelasan disini

  6. dogel

    September 11, 2007 7:29 pm

    kenal

  7. September 16, 2007 4:45 pm

    Frengky Situmorang? koq kaya nama abg saya ya :)

Leave a Reply

:) :( :d :"> :(( *:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »