Seputar Pernikahan
Coba aku bisa menarik kembali perkataanku, akan kuhapus ingatan semua orang tentang “aku pengen banget menikah” itu.
Aku ingin menikah, itulah kata-kata yang selalu kuucapkan ketika orang menanyakan tentang pernikahan. Tapi setelah kupikir dalam-dalam, ada hal penting yang terlewatkan dalam kalimat itu. Sesuatu yang sangat penting untuk diungkapkan, tapi aku tidak punya cukup keberanian untuk itu. Sebenarnya, aku takut menikah, sangat takut.
Ketika aku harus mulai membelanjakan sejumlah banyak uang untuk membeli pakaian sekali pakai, ketika aku melewatkan waktu perawatan yang lama, membosankan dan sumpek, ketika aku harus kembali ke daerah asalku untuk menjalani prosesi pernikahan yang panjang, dan hal-hal itulah yang membuatku semakin undur dari semangatku semula.
Ketika aku harus menghadapi realita keluarga pasanganku, ketika aku harus menjadi penyambung lidah antar keluarga, ketika masalah yang sekarang ada, tidak akan selesai dengan pernikahan tapi malah bertambah, alasan inilah yang akhirnya melahirkan ketakutan yang luar biasa.
Bayang-bayang indah mendadak lenyap. Aku bahkan lupa motif awal kenapa aku ingin menikah. Semua jadi kabur, bingung dan pusing. Oh iya, apalagi kalo mengingat aku tidak bisa memasak, “anak gadis macam mana pula itu”… Argggghhh… what a big trouble…
Dulu kan aku mencari pasangan yang bisa menerimaku apa adanya, bukan keluarga pasangan yang bisa menerima apa adanya. Capek banget kalo sampe harus menyeleksi keluarga kan? Hiks… Apa mereka bisa menerimaku yang “macam mana” ini.
Aku sering disebut si trouble maker. Rasanya ga salah-salah banget sebutan itu, buktinya sekarang, di usia begini masih saja memikirkan hal-hal sepele, kata mereka. Tapi bagiku, masa sih itu dibilang sepele? Atau aku sedang mengalami strees pra nikah?
NB. sebenarnya bang, aku juga takut, sama seperti dirimu…
catatan. “macam mana” —-> ungkapan orang Medan

