Dulu Jadi Sekretaris… :)

Tulisan ini kutulis awal Januari 2007, ketika aku masih di kantorku yang lama… Perlu digarisbawahi, aku menulisnya dengan penuh emosi. Jadi penilaian yang terkandung dalam cerita ini subjektif, tidak untuk dipercaya sepenuhnya.

Ternyata menjadi sekretaris itu tidak semudah dugaanku.

Pertama mengetahui jadi sekreteris, aku agak kecewa, ga bisa dibilang agak saja sih, tapi sebenarnya aku kecewa berat. Kubayangkan pekerjaan yang aku sama sekali tidak tertarik atasnya.

Sebelumnya aku memang bersekolah di sekolah akuntansi yang bersahaja, tapi sekolah itu pun tidak punya niatan menjadikan mahasiswa atau mahasiswinya seorang sekretaris. So, how could this happen to me? You won’t be understood.

But let me explain…

Setamatku dari sekolahku yang notabene diploma IV, aku ditempatkan oleh lembaga yang membawahi sekolah itu. Jakarta, ibu kota yang kejam tapi memikat adalah tempat bekerjaku untuk masa-masa yang akan datang. Aku, jujur sangat senang.

Hari pertama bekerja langsung meninggalkan bekas yang tak mengenakkan. Aku dicuekin abis. Disuruh pulang sih awalnya. Besok-besoknya, aku diberikan pekerjaan yang membingungkan, pertama mengetik surat, setelah itu memfotocopy dokumen yang dibutuhkan oleh pegawai lain. Untung juga aku tidak disuruh membuatkan kopi atau membelikan makan siang. Bisa mati kebingungan aku.

Kupikir, itu adalah akhir keanehan pekerjaanku.
Sebulan penempatan di sana, beberapa pegawai baru masuk. Ntah ide brilian siapa, aku dan pegawai baru itu dirolling untuk mengetahui seisi kantor katanya. Kenapa ga dari awal bekerja aku dirolling? Ntahlah…

Tapi usaha itu sia-sia, aku bahkan tak sempat mengenal orang-orang sekantor, aku langsung dipanggil pendidikan selama 4 bulan oleh lembaga. Empat bulan termasuk PKL (Praktek Kerja Lapangan) dengan tujuan yang sama dengan tujuan rollingku. Terang aja, aku bosan dengan program itu-itu lagi. Berbesar hati adalah misi awal berikutnya.

Empat bulan lewat…
Aku kembali ke kantorku. Aku kembali digantung tanpa pekerjaan yang jelas, back to the typewriter.

Ide brilian lainnya muncul saat semua pegawai di kantor ini tidak mau diangkat oleh kepala kantor menjadi seorang sekretaris. Alasannya macem-macem, ada yang punya anak kecil di rumah, ada yang takut kehilangan kebebasan untuk belanja, gossip dan banyak lagi. Memang sih, kepala kantorku ini tenar dengan cerewetisme dan kedisiplinannya. Dia seorang ibu dengan latar belakang pendidikan tinggi yang wah. Off course si ibu sangat disegani, em… ditakuti tepatnya.

Nah, yang kumaksud dengan ide brilian itu adalah memilihku menjadi sekretarisnya dia. Aku sebenarnya tidak takut menghadapi ibu yang satu ini. Tapi aku takut menghadapi kebosanan. Aku sangat mudah bosanan apalagi terhadap sesuatu yang bukan bidangku.

Hari ini, hampir 2 tahun sudah aku menjadi sekretaris di bawah pemerintahan orang yang sama. Tak meleset, kebosanan tidak bisa kuelakkan meskipun segala usaha sudah dibuat termasuk memasang nomor CDMA untuk line internet. Usaha yang ditempuh sangat beragam, mulai dari membawa buku-buku bacaan, MP4 player dengan headset yang asik punya dan memasang speaker dengan bass yang besar sampai ya itu tadi, line internet. Semuanya gagal total.

Love her… Love her not…
Hate her… Hate her not…

Orangnya sanggat moody, sangat sulit menghadapi swingnya. Dia punya banyak cara dan syarat untuk disebut sebagai good performance. Aku membuat daftar hal-hal yang disuka dan tidak, tapi prediksi selalu dibutuhkan. Seringkali prediksi-prediksi itu meleset, dan benar saja, aku pasti kena marah atau paling sedikit muka cemberut dan sinis.

Hari ini 9 Januari 2007 buktinya.
Tadi pagi dia masuk ke dalam ruangan dengan muka berseri-seri dan mengucapkan selamat pagi yang sangat ringan. Ooo.. cuaca cerah rupanya.

Sekitar jam 8 dia mengeluarkan perintah bahwa tar jam 10.30 akan diadakan rapat RUU di kantor, jadi harus beli kue dan makan siang. Aku dan temanku berusaha memenuhi permintaannya sepenuh hati. Kami bertanya secara detil apa-apa yang dibutuhkan, dia bilang beli bebek goreng aja. Tolong garis bawahi kata “aja” disini, karena faktor kata ini sangat penting.

Dengan pikiran lurus, kami memesan bebek goreng yang dimaksud. Makanan itu datang tepat waktu, yang tidak tepat adalah isi pesanan itu. Ibu kami merasa itu tidak sesuai dengan keinginannya. “mana tahu tempenya?” matanya melotot ke arahku. Aku sumpah, bingung banget. Apa aku terlalu polos?

Yang lebih hebatnya si Ibu menanya lagi “buah yang saya suruh beli, sudah?”. Sontak aku kaget. “Kamu ga dengarin saya tadi?” Wah… Aku terkagum-kagum saking herannya. Matanya sudah mau keluar kelihatannya, jadi langsung kupotong “tadi saya tidak dengar apa-apa bu, tapi kalo mo dibeli saya beli sekarang”. Dia pun mengeluarkan nada sinisnya “jadi gitu, kan saya sudah bilang… blah…” Setelah itu aku ga dengar apa-apa lagi, karena keburu mengangkat telepon dari luar.

Tidak berhenti di sana.

Karena aku tidak punya uang cukup, aku meminjam dari sub bagian umum di kantor. Mereka hanya meminjamkan 100 ribu rupiah. Dengan alasan terburu-buru, aku tidak komplain untuk uang yang lebih banyak lagi. Jadi deh, buahnya hanya 2 jenis, jeruk dan lengkeng ditambah satu plastic kacang asin.

Itu pun ujungnya kemarahan beliau. “Masa cuma segini?”

“Kalo orangnya lima, terus kamu kasih jeruk 5 buah itu ga sopan namanya” suaranya tajam dan sinisnya belum hilang.

Dalam hati aku menjawab “coba ibu kasi duitnya tadi bu…”

Abis ga cukup duitnya mo gimana lagi. Aku mematung saja, tanpa sepatah katapun, karena biasanya dalam keadaan begini membuat pembelaan, sama saja mendapat omelan berikutnya.

Dalam diam itu si Ibu mengeluarkan kata pamungkasnya
“kamu ga tau apa-apa ya dalam melayani orang?”

“padahal kamu kan cewe”
(blassssss…)

Saya belajar untuk bekerja sebaik-baiknya.
Saya tau kapasitas saya minim untuk hal begini (sekretaris maksudnya)
Saya sudah berusaha, jikalau dia tidak puas saya mau gimana lagi.
Saya bukannya berpangku tangan menunggu bisa, toh saya berusaha maksimal…

Sebentar aku membuat pembelaan itu di hatiku…
Kuingat aku tak pernah sekolah sekretaris, aku belajar otodidak bagaimana menghadapi orang seperti pimpinanku, klien dan tamu lainnya. Aku bahkan belajar sendiri sopan-santun mengangkat telepon, berpenampilan sekretaris (yang ga gw banget itu), menanggapi atasan, menaruh minuman di meja tanpa bunyi tak-tik-tuk, menghandle segala keinginan bos. Semuanya otodidak! Dia tidak pernah sekalipun mengajariku untuk melakukan hal-hal itu, tapi dia selalu mengkritik cara-caraku tanpa sedikit pun dia melakukan pelatihan. Kuanggap kritikan itu sebagai pelajaran.

Begitulah caraku belajar sampai sekarang. Aku bohong jika kukatakan aku tidak dapat apa-apa dari cara itu. Aku banyak belajar di bawah tekanan seperti itu. Tapi menurutku aku tidak bekerja di bawah kondisi yang sehat.

Related posts

17 Comments so far

Leave a comment Subscribe to Comments RSS Trackback this entry

  1. pipit

    July 4, 2007 10:41 am

    Being a secretary is the hardest job in the world!!! Especially for IRENE SANTI!!!!
    hehehehehehehe :)

  2. July 4, 2007 12:22 pm

    You know me Pit… :(
    Ajaibnya, sekarang di kantor baru ini pun aku masih jadi sekretaris merangkap pelaksana yang super sibuk, [-(

  3. loebis

    July 4, 2007 4:28 pm

    Memang tidak nyaman sih menghadapi atasan seperti itu, BUT you must be stronger. menurutku pokok permasalahannya bukan karena pekerjaan as sekretaris tetapi (menurutku) karena environmentnya.

    Ada baiknya coba belajar tentang Managing Emotional…. belajar mengendalikan diri, belajar mengenal lebih jauh karakter orang dan beradaptasi dengan mereka. I know exactly it’s not easy, please keep your mind positively. :)>-

  4. July 5, 2007 8:54 am

    wuih, telat baca, harusnya ngasih komen pertama nih, ya udah sabar aja dek… semua ada hikmahnya, segala sesuatu indah pada waktunya…

    lihat aja sekarang, lagi2 dapat bos yang “gak bisa mendidik”, kan gak kaget lagi hehehe…

  5. Bobby

    July 7, 2007 7:48 am

    Wah,apakah bossmu mengidap darah tinggi?
    Ato bossnya udah nikah belum,ren?
    Memang banyak kok tipe-tipe orang seperti itu
    Dan hal itu tidak bisa kita ubah…
    Yang kita bisa ubah adalah cara kita menyikapinya..
    Aku pernah baca artikel motivasi di intisari
    Tentang seseorang yang punya boss dan masalah yang ruwet di kantor…
    Tapi tiap hari dia jalani dengan santai…
    Caranya sebelum pulang, dia menghampiri tanaman kesayangannya di depan rumahnya dan berbicara tentang kejadian-kejadian di kantornya hari itu..
    Dia tinggalkan beban-beban dikantornya pada tanaman itu..
    Jadi ketika dia memasuki rumah dan bertemu anak-istrinya, sudah hilang beban yang dipikulnya..
    Jadi anak istrinya tidak lantas jadi sasaran pelampiasan…
    O ya…Kalo bisa cari buku tentang politik kantor ya..
    Kalo udah modern kan udah jelas job descriptionnya…

  6. anton

    July 8, 2007 10:35 pm

    Aduh irene, kacian bener ya kamu itu:((, aku gak ngira kl seorang alumni D4 ada yg jd sekretaris, terus gmn dunk ilmu kamu, jd gak kepake..

  7. July 9, 2007 9:16 am

    Soal ilmu, aku sih dapat ilmu yang lain mas. Memang di dunia ini ga mungkin semua ilmu yang didapat akan dipakai…

  8. July 19, 2007 10:50 am

    kalo bisa sih jangan di-edit posting ini dek, toh gak melebihkan atau mengurangi kenyataan yang ada, kalo kata orang ini membunuh karakter ya biarin ajalah… pendapat dia ya pendapat dia, pendapat adek ya pendapat adek, harus saling menghargai kan? :)>-

  9. July 19, 2007 2:25 pm

    Tulisanku ini sedikit kontroversial, aku minta maaf jika ada teman yang merasa ga enak dan ada teman juga yang menyebut unsur “pembunuhan karakter” atasanku. Sebenarnya aku menulis pada saat momen itu baru selesai terjadi, unsur emosi ikut dalam tulisan ini. Lagipula, itu bukan gambaran atasanku sepenuhnya. Dia adalah atasan yang keras, tangguh dan cermat, tentu sesekali konflik bisa terjadi di tengah gaya kepemimpinannya.

    NB.Gimana mas Koko?

  10. DanT1e

    November 2, 2007 1:42 pm

    kayaknya kamu harus nonton ‘The Devil Wears Prada’ deh .. soalnya bos yg satu itu, mungkin melebihi ke’hebat’an dari bos-mu yg sekarang… dan coba deh liat juga klo diluar sana, masih banyak pekerjaan yg lebih berat dari itu, dulu jg mungkin aku ngerasa sama kayak kamu, berada di bawah tekanan fisik dan psikis :((
    karna kebetulan jg aku kerja jd ‘broker uangnya org kaya’ .. beban yg aku rasain selain kerja 20 jam per hari ( walaupun tdk terpaksa dan dipaksa ), pada saat yang ga nguntungin dalam waktu sekejap bisa kehilangan uang puluhan juta rupiah.

    So, i think u have to be patient, strong and stop fitching.

    ok, girl… semua kerjaan pasti ada resiko, dan resiko itulah yg bikin kita tambah dewasa … gud luck …. :d:x

  11. November 2, 2007 2:36 pm

    Aku udah nonton film itu, dan memang benar aku merasa film itu sama banget denganku sampai pada titik tertentu jadi terharu. Film itu bahkan sangat menghiburku.

    Ada kata-kata bijak seperti ini:
    “Try to work for someone who will challenge your powers, you learn more in a year than 4 years of college.”

    Setuju banget…

    Terima kasih ya buat penguatannya.^:)^

  12. febriana

    November 12, 2007 6:01 pm

    hehehehe…emg kynya gt pkrjnnya dech kl jd skrtris…wlpn gw blm krja tp gw da ngrti bgd pa yg lw rasakan….scra kmpus gw tuh jg tugas kulnya berat bgd…awlnya gw jg ga mw jd calon skrtris tp ma2 gw nyruh yd gw msk slh 1 akademi skrtris yg sngt trknl di Indonesia (ktnya c…tp gw g tw jls)gw c mw cpt2 klr dr kmpus tu…kl gw tw jd skrtris tu tugasnya bnyk bgd & berat gw g mw jd skrtris….uda byrn kul gw mahal bgd & nt kl da krja gajinya sedikit, ga sbanding dengan uang byrn gw slma 3thn,ugh…BT…yd enjoy u’r life yach…gbu

  13. December 13, 2007 8:35 am

    iih.. bener banget, but the only thing u must do is to be patient and always keep go on.. aku jg punya bos yg aneh.. dan kadang2 aku disalahin untuk hal2 yg bukan menjadi tanggung jawab aku. tepatnya fitnah. yah, gitu deh kalo harus jadi bawahan. /:)

  14. Melianti

    April 14, 2008 8:02 pm

    emmm…gw simpatik jg dgn cerita lw.Tp mau gmn lg ya setau gw krj dan resiko sekretaris ya kyk gt.
    Gw jg skrg kerja di salah satu KAP ya jd junior sekretaris gt,deh..and apa yg gw alami ya hampir sama dengan yg lw hadapi dkntr lw.tapi lw masih untung dgn latar belakang diploma IV,nahh..kl gw dgn latar belakang smu and gw jg banyak belajar dikntr gw nih.mungkin beda nya lw gak tertarik dgn pekerjaan sekretaris kalo gw malaqh sangat tertarik dgn pekerjaan ni…heheheee[-x~X(

  15. April 17, 2008 6:43 pm

    @Melianti:
    Selamat berjuang menjadi sekretaris. Ada kok yang memang berbakat jadi sekretaris, manatau Meli juga berbakat… Amiiin :d

  16. dewi ratih

    August 15, 2008 10:16 am

    Hallo…
    rada telat jg sih baca curhat kamu ini… tapi gpp dech, yg penting sy bisa ikutan nimbrung…
    Memang begitu berat ya jg sekretaris??? Sy jg ngalamin sich, pas awal-awalnya gitu.. Berat…bgt, apalagi ga sesuai dgn bidang studi yg sy ambil semasa kul. Sy ambil hukum loh.. tp nyasarnya di Sekretaris. Tp..semuanya sih bisa dilewatin dgn baik. Managerku tahu kalo ini bidang baru, so… beliau selalu kasih motivasi, semangat, dan pengetahuan2 yg baru ttg dunia ini… istilahnya belajar sambil bekerja dech.. Yg bisa diucapkan sekarang ini… Jadi Sekretaris emang seruu,,banget.. Banyak pengalaman2 yg bisa buat kita tambah pintar.. selain itu jg itung2 bisa wisata gratis loh… Saat Managerku ada meeting diluar kota, pihak penyelenggara kota setempat selalu milih hotel tempat kita meeting yg deket ama tempat wisata.. alhasil kita bisa kerja sekaligus jalan-jalan gratis.. Manager emang kadang-kadang banyak maunya yg semua2 harus bisa jalan dan jadi hari ini… Tapi kita kan gak punya tongkat sihirnya harry potter yang sesaat bisa langsung jadi.. So..semuanya sih tergantung kita.. Pekerjaan kita adalah pengalaman dan guru terbaik buat kita…cie.. :)

  17. August 15, 2008 11:54 am

    @dewi ratih:
    asik dong bisa jalan-jalan. Aku dulu ga bisa kemana-mana. Pas jumatan,malah harus nemenin dia di kantor. Tapi sekarang sih, aku senyam-senyum mengingatnya.

    Pengalaman yang berharga loh jadi sekretaris itu. Jadi, jangan sia-siakan kesempatan ini. :)>-

Leave a Reply

:) :( :d :"> :(( *:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »