Jika Aku Gubernur DKI Jakarta
Suatu keadaan politis yang sangat memberatkan. Tapi banyak yang iri tentunya.
Hal spontan yang terpikirkan adalah pembenahan Jakarta, bukan dari segi yang didengung-dengungkan calon gubernur yang sering kita dengar, tapi dari sudut pandangku sendiri. Pembenahan dalam bayanganku adalah kebersihan Jakarta. Coba bayangkan sekolah gratis, jalan bebas macet dan program lain yang rasanya kok jauh banget dan sedikit gombal untuk diwujudkan dalam jangka pendek. Lima tahun? Hmmm… masih perlu mikir.
Aku pengen banget di setiap sudut Jakarta itu dibuat tong sampah yang berasal dari potongan tong. Kenapa harus tong? Karena kalo tong sampah kebagusan, ntar banyak tangan jahil mencurinya.
Itu program yang akan kulaksanakan dalam satu dua bulan awal kepemimpinanku. Ironis banget jika sekarang Jakarta itu seperti tong sampah yang terpampang, siapapun berhak membuang sampah di mana dia suka. Kebiasaan itu pula yang membudaya sekarang, mau kaya-miskin tua-muda. Ibu kota yang katanya megah itu ternyata gak lebih dari tempat sampah.
Aku akan malu sekali jika ada tamu dari luar berkunjung ke kediaman Gubernur Jakarta dan menemui, “Betapa kotor kota ini”.
Program berikutnya: menurunkan tingkat kriminalitas di Jakarta. Mungkin butuh waktu yang cukup panjang, tapi harus dijalankan demi kenyamanan bermasyarakat. Aku tidak berjanji untuk menghapus kriminalitas tapi menurunkannya terlebih dahulu.
to be continued…
Bagaimana? Ada yang tertarik untuk memilihku menjadi gubernur wanita yang pertama di Jakarta ini?

