Ego II
Kupandang dirimu di kejauhan, hatiku miris, perih dan aku kalah.
Aku kalah dengan perasaanku sendiri. Sejujurnya, air mata tak berarti apa-apa, melegakan pun tidak, tapi hanya sekedar simbol kekalahanku.
Itu awal 2003.
Kutemui kembali dirimu Natal itu dengan perasaan gamang luar biasa. Tak kuasa menahan isi hati yang sudah kututup rapat hampir setahun. Menahan nafas dan mencoba tersenyum. Sulit menyembunyikan luka lama.
AKHIR TAHUN 2003.
Kupaksakan diri melupakan perasaanku. Aku tahu aku berhasil, tapi luka itu masih membekaskan noda hitam. Trauma kecil kubawa serta. Ketakutan-ketakutan menghantuiku,
“Apakah aku akan kehilangan lagi?”,
“Apakah aku cukup berharga?”,
“Mungkinkah aku bahagia?”
“Berhakkah aku memiliki kasih sayang dari seseorang sepenuhnya?”
Kamu tidak bersalah. Akulah yang gagal mengelola emosi dan egoku.
TAHUN 2004
Kutangkap sekilas bayangmu di tengah kerumunan orang. Sesaat ada semangat mengucapkan selamat atas keberhasilanmu, tapi langsung hilang setelah bayangmu melesat pergi. Ada rasa mengatakan kamu menghindariku. Kuurungkan niatku yang sebenarnya tulus tanpa luka, tanpa noda, tanpa air mata…
Senang rasanya melihatmu berhasil. Senang punya pengalaman bersama yang mengajarkanku banyak hal dulu. Aku belajar, butuh kekuatan untuk menghadapi masa lalu. Aku belajar, aku takkan pernah bisa melupakanmu karena kau bagian dari hidupku dulu.
Seorang membuat kata-kata ini di friendster nya:
“Hanya butuh…
Satu menit untuk menyakiti seseorang,
Satu jam untuk menyukai seseorang,
Satu hari untuk mencintai seseorang,
tetapi butuh waktu…
seumur hidup untuk dapat melupakan seseorang!”
Kata-kata yang sudah biasa kudengar, tapi aku setuju sepenuhnya dengan tiap kalimatnya. Ketika kupaksa kulupakan semua, yang ada aku makin mengingatnya. Now, I Let it go…
24 JUNI 2007
Selamat atas keberhasilanmu,
Selamat menempuh hidup yang telah kau pilih.
Terima kasih telah menjadi teman dan abang yang baik.
Related: Ego

