Flashback-Tigabinanga
1981-1989
Lahir di tengah-tengah keluarga sederhana, berkecukupan. Anak kelima dan yang terakhir membuatku sedikit manja dan kurang mandiri (hehe, sama saja). Aku tumbuh di kota kecil Tigabinanga. Teman-temanku di Jakarta sering becanda “Dimana itu Tigabinanga, tidak ada dalam peta”. Aku dan anak-anak sekompleks suka main di kuburan belakang tanpa rasa takut, manjat pohon mangga tetangga sampe kena marah dan manjat pohon kelapa untuk diminum.
Hobiku nonton tv yang kebetulan sudah eksis saat itu. Mungkin karena itu pulalah aku punya keinginan besar keluar dari Tigabinanga. Sering aku melamun “Suatu hari nanti, aku tahu aku tidak akan di sini lagi. Aku akan menginjak kota-kota yang ada di tv”. Tau deh impian anak-anak. Bukan karena aku tidak mencintai kotaku, tapi aku sungguh punya keinginan keliling dunia.
Hal unik lain adalah perjalanan ke sekolah. Ibuku adalah guruku, dan ibuku terkenal dengan kegalakannya. Benar saja, kelas satu SD aku diajar sekaligus dihajar untuk belajar, tapi tidak secara fisik hanya pada kata-kata. Ibuku sangat berperan besar dalam pendidikanku. (Eh, biasanya aku memanggilnya Mamak dan bukan Ibu).
Kembali ke perjalanan sekolah. Kami biasanya berjalan kaki sejauh 3 km untuk sampai ke sekolah (Aku, Mamak dan Abangku Alex). Setiap kali kami membujuk Mamak naik angkutan, pasti ada dalihnya, ya penuhlah, ya kosonglah (tar diputer2in atau bahaya), atau udah dekatlah, hehehe. Kami selalu terlambat tiba di sekolah. Sekarang baru tau deh kenapa Mamak melakukan itu. Jadi terharu.
Masa di Tigabinanga sudah lama berlalu. Aku bahkan ga pernah ke sana lagi 10 tahun belakangan. Kalo saja ada temanku dulu bersama di sana, hubungi aku ya, di blog ini juga bisa.

