Kereta Vs. Jusuf Kalla
Apa hubungan Jusuf Kalla dengan kereta? Memang sekilas terasa tak ada, tapi ini benar-benar berhubungan jika ingat kejadian kemarin sore di stasiun palmerah.
Kamu tau dong, kalo stasiun palmerah itu dekat dengan Manggala Wanabakti. Ceritanya dimulai dari waktu pulang kantor. Dengan semangat berkobar-kobar, seperti biasa, aku menaiki kopaja 86 yang super padat menuju stasiun. Sedikit heran juga stasiun sepi dari penumpang yang menunggu kereta. Asik… tampaknya aku kecepatan, jadi masih longgar.
Tapi kebanggaan itu tak bertahan lama. Pas mo beli tiket, kok tutup? Nanya informasi, katanya keretanya ANJLOK. Ya elah… nasib penumpang kereta.
“Anjlok di mana sih pak, kok sampe ga bisa jalan?”
“Itu neng, di jembatan kecil Permata Hijau…”
Permata Hijau memang hanya beberapa meter dari stasiun palmerah. So, wajar aja semua kereta jurusan serpong mandek.
Mmmm… Otakku berpikir keras, gimana caranya sampe rumah?
Angkot, stres di jalan.
Ojek, mahal banget.
Taksi apalagi.
Nebeng? Ide bagus tu, tapi siapa yang mau ditebeng?
Karena tak banyak pilihan, jadi juga naik angkot. Tapi kenapa jalan macet total begini ya. Celingak-celinguk, ga ada masalah kayaknya karena kirain ada kecelakaan di depan. Jalur satu arah nan lebar ini kok bisa macet. Ternyata banyak provos dan polantas di sepanjang jalan di depan Manggala yang men-stop semua kendaraan yang lalu lalang.
Gejala seperti ini menunjukkan ada pejabat tinggi yang mau lewat.
5 menit… 10 menit… 15 menit, gak muncul juga. Barisan kendaraan bertambah setiap detik. Provosnya mulai sal-ting dipandangi orang banyak yang gagal naik kereta dan sedang mencari alternatif kendaraan. Emosi rasanya sampai ubun-ubun karena udah ga bisa naik kereta ditambah lagi dengan macet total. Siapa sih pejabat yang betingkah begini? Jam pulang kerja lagi.
Dan pada menit ke-20, muncul jip provos dengan kecepatan tinggi dan bunyi nguing-nguing diiringi sederetan sedan berkilau dengan plat yang mencolok: RI 2. Oh…, si wapres Jusuf Kalla toh…
Semua orang kelihatan excited melihat rombongan itu. Aku sih masih mengkel aja memandang semuanya. Dan seperti layaknya seorang pemimpin yang bersahaja, Jusuf Kalla pun tersenyum dari balik kacanya. Tak sengaja (atau boleh lah kusebut tak sadar) aku ikut tersenyum membalas senyumnya. Dasar, pemimpin memang selalu punya kekuatan magis. Hehehe…
Di belakang RI 2 masih ada RI 12, RI 14, RI 22 dst. sampe panjang ke belakang. Akhirnya, lalu lintas bergerak kembali. Kopaja kesayanganku pun muncul, aku bisa melanjutkan perjalanan panjang menuju rumah. Macet tak terhindarkan. Berdiri berjam-jam pun kutempuh.
Setibanya di Arteri Pondok Indah, aku mengambil ancang-ancang turun. Kondekturnya langsung mengetok-ngetok kaca jendela sambil teriak:
“Wanita… wanita… bawa karung dan tilam…”
Seenaknya, tolong dong aku ga segede itu sampe harus disamakan dengan karung dan tilam.

