Seputar Masa Lalu-PMK STAN
20 Januari 2006 aku menghadiri perhelatan yang diadakan PMK-KMK STAN di gedung G (Wahono) Kampus Bintaro. Meskipun sedikit pegal sepulang dari seminar di Tanjung Duren, aku jabanin juga nih menghadirinya. Demi sebuah kata “rendezvous”. Saking cintanya dan saking kangennya.
Kunikmati setiap sudut ruangan gedung yang sudah termasuk tua itu. Baunya juga masih sama, bau kayu yang bercampur debu (penilaian subjektif, jadi mungkin hanya aku saja yang beranggapan begitu). Sekujur tubuh terasa dingin berada di sana kembali. Sudah sekitar 3 tahun aku meninggalkan pemandangan serupa ini.
Wajah-wajah asing lebih banyak mengisi acara itu. Hanya sebagian kecil yang kukenal dengan baik. Tapi ternyata alumni memang tidak diundang, jadi aku termasuk tamu yang tidak diundang atau lebih halusnya “datang dengan kemauan sendiri”. Iya doong… salah siapa coba kami tak diundang?
Acaranya juga tidak banyak berubah dari waktu silam, 8 tahun yang lalu. Aku yang masih junior malu-malu menghadiri natal seadanya. Padahal pas masuk ruangan, kakak-kakak kelasku memakai baju yang glamour (baca: geeellamour). Halah, salah kostum deh.
Terbiasa menghadiri natal yang sederhana di kampung halaman membuatku tidak memfokuskan diri pada pakaian atau perayaan, tapi pada makna. Cailah…
Mari kita lewatkan natal itu…
Kita beralih pada kenanganku di kampus ini. Aku belajar banyak disini, membedah akuntansi yang katanya mudah itu, padahal… Yah, ga sulit-sulit amat sih. =)
Bagian yang sangat membekas dari kampusku adalah posko PMK. Hampir tiap hari aku mengunjunginya. Cintaku bersemi di sana juga, baik cinta pada Tuhan (tentu saja) maupun cinta pada lawan jenis (aku tersenyum jika ingat ini). Tuhan sungguh adil membuatku mengingatnya dengan perasaan senang, padahal sebenarnya ceritanya agak sedih.
Lanjuuut….
5 tahun di kampus ini membuatku sedikit bosan, mungkin karena 2 tahun terakhir teman-temanku beda generasi. Pembicaraan seputar anak-isteri-suami adalah hal lumrah di angkatanku, padahal kan usiaku pada saat itu pengennya ngomongin “kemana nih kita jalan-jalan?”.
Tapi aku juga punya cerita menyenangkan seputar beda generasi.
Tahun terakhir aku bergabung dalam tim bidang ibadah PMK. Orang-orangnya asik, kompak, unik dan meriah. Sebenarnya aku sangat banyak belajar dari mereka, dari gaya mereka berprilaku, cara mengikuti rapat (tolong yaaa…) atau cara mengekspresikan diri. Ada yang suka berlagak bak pengkhotbah ulung yang tenar, ada yang berbakat menjadi pemimpin, dewasa, kekanakan dan tentu saja ada yang pemberontak. Pemberontak dalam arti yang positif tentunya. Kami membangun rohani kami bersama-sama, belajar cara berorganisasi bersama, bahkan tanpa mereka, sejarah hidupku takkan lengkap. Thanks for all of you bro: Rere (the one and only), Frangky Situmorang, Andi Pardede, Hardi, Rudi Wicaksono, Johanes, Nando, dkk. Dan “my only sista” di ibadah: Risma.
(quote: “dewasa kali kau dek, salut aku”)
Roda berputar…
Waktu pun takkan berhenti di situ-situ saja. Aku meninggalkan semua itu, tapi aku tidak mau melupakannya.

