Marah = Jahat ?
Terlahir sebagai suku batak yang terbiasa terbuka dan to the point, aku sering dianggap pemarah dalam pergaulan. Aku sangat terheran-heran dengan anggapan itu.
Beberapa bulan lalu, atasanku, seorang ibu kepala seksi, membuat penilaian tentang kepribadianku untuk melengkapi dokumen lamaran strata dua. Sambil mengisi form lamaran itu, dia nyeletuk “emosi tidak stabil nih… kurang bisa menahan emosi, suka marah-marah, hehe”. Hah? Masa sih? Aku merasa ga pernah marah tu di sini, buat apa gitu? Tapi kubiarkan saja komentar itu berlalu, mungkin saja atasanku ini ga sadar ucapannya.
Gimana kalo aku benar-benar marah ya? Pingsan kali yeee…
Lama-lama aku penasaran, apa sih dasar pendapat itu. Pernah aku berbincang dengan ibuku ini, aku menyelipkan pertanyaan itu.
Beginilah jawabannya
“Kamu itu ngomong selalu dengan suara tinggi (batak… oh batak, red). Apa-apa kamu marah. Kadang orang tidak suka diterusterangin, tapi kamu suka banget ngomong terus-terang. Coba kamu bisa sedikit menahan emosi.”
Sebenarnya aku sangat ingin menanyakan apa arti “emosi” menurutnya, tapi mengingat perbincangan ini lintas budaya aku pun mengurungkan niat.
Aku hanya menjelaskan kalo sebenarnya aku tidak ada maksud marah sedikitpun di nada suaraku. Emang batak itu suaranya 8 oktaf, dan yang sering dipake oktaf tertinggi (maklum BTL, ngerti dong). Tar dilatih deh turunin nada suara. Mohon pengertiannya.
Kalo soal terus terang, maaf… menurutku itu sesuatu yang positif jadi ga bisa diubah. Yang bisa diubah hanya cara penyampaiannya. Dari pada jadi busuk di hati atau ngomong di belakang mending terus terang.
Tadi tu…
Barusan banget, seorang korlak di kantor mampir di ruangan dan bercerita panjang lebar tentang atasan2nya dulu. Dia mulai membandingkan antara satu dengan yang lainnya. Tiba pada kesimpulan kalau dia pernah punya atasan “paling baik sedunia”.
Langsung kusambar (lupa menghilangkan kebatakan di nada suaraku, hehe) “Apa mas udah kenal seluruh dunia makanya bilang paling baik sedunia?” setengah becanda sih.
Dijawab “Habis, dia ga pernah marah sih, makanya dia bapak paling baik sedunia yang pernah kukenal”. Mengingat ini juga perbincangan lintas budaya, aku hanya terkesima.
Wow…
Kesimpulan yang sangat mematahkan semangat. Jadi selama ini para teman lintas budaya ini menganggap aku jahat, gitu?

