Malam Natal
Kenapa ketika bertemu anak-anak, hatiku langsung senang ya? Aku bertemu mereka minimal sekali seminggu yaitu di hari Minggu. Lainnya paling-paling melihat anak orang di jalan, kereta atau dimana-mana. Itulah yang membuatku semakin keukeuh di sekolah minggu. Memandang dan memperhatikan mereka membuatku merasa kecil kembali. Tanpa beban dan tanpa kebohongan apa-apa.

Natal di gerejaku GKI Bintaro Utama diadakan awal Desember 2006, mengingat banyaknya jemaat berasal dari STAN yang akan liburan tengah Desember. Sekolah Minggu tidak menyiapkan apa-apa untuk dipersembahkan, karena kami merasa anak-anak akan mengantuk jam-jam itu.

Karena kakak Guru Sekolah Minggu sangat ingin mempersembahkan sesuatu kami pun latihan menyanyi sebisanya. Rencananya kami akan menyanyikan lagu “Seribu Lilin” diikuti dengan lagu “Kami puji dengan riang”.
Ide ini datang belakangan, pas hari H. Kami mulai mengumpulkan anak-anak Sekolah Minggu yang datang malam natal itu, yang belum tidur tentunya untuk diajak menyanyi bersama. Kebetulan anak Sekolah Minggu kami menghapal lagu “Seribu Lilin” karena dipakai dalam drama natal kami sendiri.
Setiap anak diberikan sebuah lilin dengan tatakannya dan dihidupkan. Lampu pun dimatikan saat lagu “Seribu Lilin” dinyanyikan. Yang kurasakan sangat berbeda. Aku terharu…
Seribu lilin nyalakan
Di tengah dunia
Biar sinarmu menyatakan
Kemuliaan surga
Hai bintang indah Betlehem
Betapa sinarmu
Bawa harapan dan damai
Bahagia di kalbu
Aku semestinya berterima kasih pada anak-anak itu karena telah menyumbangkan banyak hal indah di hidupku. Sudah hampir 5 tahun aku melayani di sana meskipun tersedat-sendat, tetap memberi banyak hal untuk direnungkan.
Kembali ke panggilan ini, syukur pada Tuhan. Pertama kali aku menginjakkan kaki di sini karena Tuhan mengirim seorang anak-anak untuk mengajakku. Dia meneleponku supaya jadi Guru Sekolah Minggu. Dengan ogah aku datang dan tak menyangka bakal lengket di sini.
Terima Kasih Tuhan

