11 Januari 2007

Hari ini beberapa kali kata “tolol” berkelebat di telingaku.

Pertama tadi pagi,
saat menaiki motor menuju stasiun kereta Ranji, kami berpapasan dengan seorang lelaki yang naik motor dari arah berlawanan. Dia menyerobot jalur kami untuk melewati mobil di depannya. Spontan sopir mobil di depan kami kaget dan marah, “eit, jangan asal nyerobot dong”, karena hampir saja dia menabrak motor nekat itu. Yang terjadi malah si pengendara motor ini marah “Lu tau ga, gue juga harus dihargai, mentang-mentang lu itu mobil sedan gue motor, lu marah. Tolol banget lu! Tolol ga mau ngalah!”. Wah… orang ini kok aneh, kasar banget, kan jelas-jelas dia menyerobot, kok malah marah gitu.

Kedua,
setibanya di Stasiun Palmerah, penumpang turun berbondong-bondong dan langsung keluar mengejar angkutan masing-masing. Kopaja 86 dan 608 tidak kalah serunya di depan pintu keluar stasiun berebut penumpang. Maka teriakan “Tolol, bego, dan lain sebagainya” terdengar di mana-mana, baik antar supir kopaja maupun pengendara lainnya karena suasana itu membuat macet. Padahal dengan teriakan begitu suasana semakin kacau.

Aku jadi ikutan emosi kalo mendengar kata itu diucapkan berulang-ulang. Apa sih gunanya mengatakan kata itu? Ungkapan emosi saja? Atau demi kepuasan tertentu? Atau sudah menjadi kebiasaan masyarakat? Panas tau telinga mendengarnya.

Mungkin kita bisa belajar sedikit dari pengalaman kecil ini.
7 Januari 2007, kami ke ITC Roxy berkeliling mencari hape. Tau kan ITC itu rame minta ampiun, apalagi Hari Minggu. Semua orang berseliweran layaknya suasana di Stasiun Palmerah tadi. Aku bahkan tidak bisa maju selangkah pun karena arus pergerakan orang berlawanan. Yang ada aku ditubruk orang-orang sesuka hatinya tanpa rasa bersalah, padahal kan itu tempat umum, bukan lalu lintas satu arah. Bahuku terasa sakit sih… Tiba-tiba ada bule lewat sambil memandangku dan dia langsung beringsut sedikit supaya tidak menubruk dan bilang “sorry…” dengan simpatik.

Bukan karena dia bule makanya aku langsung interest, tapi perbedaan budaya kita dengan mereka yang membuatku terkesima. Katanya kita masyarakat ramah-tamah, tapi ternyata super duper cuek dan kadang malah kasar dengan kata-kata yang tidak layak diucapkan. Kita juga sering bilang kalo bule itu individualistis tapi ternyata…

Kata kasar itu sebaiknya dibuang jauh-jauh deh… Ga guna

Related posts

1 Comment so far

Leave a comment Subscribe to Comments RSS Trackback this entry

  1. erlnando van bagan

    March 4, 2007 5:38 pm

    kata2 kasar adalah bentuk kekesalan. apa yang diucapkan seseorang yang kesal hampir selalu sesuai dengan apa yang sedang terjadi.

    oke lihat contoh, misalkan diri kita di pagi hari ketika menunggu bis ke kantor, terciprat air kotor jalanan karena mobil yang melintas dengan kencang. lalu apakah kita akan mengucapkan: “Thanks!”, “Syukur!”, “Puji Tuhan”, “Ada sukacita di sini, Ameen??!!” khan aneh rasanya.

    kalau aq sendiri pasti jengkel dan mungkin akan mengatakan: “WHOY LONTONGLAH !!!!” he3x. cukup save khan? gimana?

Leave a Reply

:) :( :d :"> :(( *:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »