Gemes Deh…
Aku mulai meragukan negara ini akan bisa berubah tanpa sebuah titik balik yang disebut mujizat.
Siang ini aku mengurus kartu TASPEN-ku ke PT TASPEN (Persero) di Jalan Letjen Suprapto, Cempaka Putih. Sebelum berangkat aku sudah mempersiapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan.
Aku meminta informasi dari line bebas pulsa PT TASPEN sendiri 08001222333. Kata salah seorang operatornya, pengurusan kartu ini menghabiskan waktu sekitar 15 - 30 menit, atau paling lama sejam. Senang banget kan mendengarnya? Tidak perlu berlama-lama di sana. Keterangan tambahan mengatakan tidak dipungut biaya karena pelayanan prima yang sudah digalakkan, sampai ada kabar kalo satpam pun tidak menerima uang terima kasih parkir. Saluuuut…
Setelah pamit dengan atasanku, meminta waktu sekitar 4 jam, 3 jam perjalanan dan sejam disana, akupun langsung pergi. Tapi malang benar sesampai di sana aku kebingungan, tidak ada papan petunjuk apa-apa, aku harus kemana dulu dan bagaimana.
Akhirnya setelah cengak-cengok lama, aku dan Fajri temanku memilih duduk di kursi setengah lingkaran di sudut ruangan. Ada dua pegawai melayani di sana. Suara pegawai itu terdengar keras dan kurang enak, tapi aku cuek aja. Dan tidak beberapa lama kami berkesempatan menyela kesibukan mereka untuk menanya kemana harus pergi untuk mengurus kartu baru. Si ibu pun langsung menunjuk loket 7.
Di setiap loket tidak ada tulisan apa-apa kecuali loket 8. Kecil dan rapat tertulis di situ untuk pengurusan kartu janda dsb.
Fajri dan aku pun langsung mengambil tempat duduk terdepan karena memang tak ada antrian sama sekali. Sayang, loket7 tidak ada pegawainya. Karena melihat kami melongo, pegawai di loket8 menanya kami dari tempat duduknya “Mau ngurus apa?”.
“Ini bu, ngurus kartu taspen baru”
“Kartu baru? Kartu baru apaan?”
“Kartu taspen baru bu…” aku mengeraskan suaraku
“Kartu baru apaan? Ga kedengaran” suaranya terdengar ketus
Akhirnya kami duduk di depannya, pindah loket.
“Kartu apaan?” sambil meneliti dokumenku dia langsung paham.
“Kolektif?”
“PNS pajak ya?” tanyanya lagi, menyelidik.
mang kenapa gitu ya kalau anak pajak
“Pajak mana?” dengan lebih menyebalkan lagi. Ga guna banget tau.
“Palmerah bu…” jawabku ogah
“Datang lagi aja Rabu” mendengarnya kami bingung setengah ampun.
“Bu, nggak ada tanda terima dokumen?”
“Ga ada, ga perlu. Kamu Rabu datang lagi, bilang Nama dan NIP, udah.” Tampaknya dia mulai bosan melihatku
“Ibu namanya ibu siapa?”
“Ibu Endang”
“Trima Kasih Bu Endang”
Kami berdua bengong lagi. Dua hari? Serius nih? Boong dong semua berita yang kuperoleh termasuk line bebas pulsa itu? Kenapa harus dua hari, toh hanya nge-print format dan tanda tangan. Hanya itu tapi 2 hari?
Rasanya tak puas dengan semua perlakuan itu, aku menyuruh sopir kantor memberi tips kepada SATPAM yang katanya “tak terima uang terima kasih”. Dengan muka malu-malu, Satpam itu tersenyum dan langsung menyembunyikan uang itu. Hah? Fuih… kenapa sebelumnya aku yakin betul dengan “kebersihan” kerja mereka.
Beberapa hari sebelum aku, Fajri sudah mengurus Taspen ini via jasa kurir yang menarik biaya 50 ribu rupiah setiap nama. Sehari setelah penyerahan dokumen dan uang, kartu Taspen sudah di tangan mereka masing-masing. Kolektif sih memang. Tapi, bukankah kolektif prosesnya harusnya lebih lama?
Apa karena aku tidak melampirkan amplop 50 ribuan?
Kembali ke aku sebagai PNS, aku malu setengah mati pada diriku sendiri. Apa aku juga begitu? Sesakit inikah dipermainkan seperti itu? Aku ingat iklan salah satu rokok yang mengatakan “jalan pintas dianggap pantas”.
Indonesia, kapankah kau berubah? Mungkinkah kau berubah jika hanya segelintir orang yang menyadari bahwa kau akan segera hancur? Hancur lebur terbawa arus kebobrokan moral yang sangat sulit diubah?
Tapi aku masih percaya kekuatan doa. Jadi aku ga mau berhenti di kesedihan ini.
Let’s pray…

