My Bro Alexander Bukit

Tuhan sangat baik…
Surabaya, 6 Nov 2006, abangku menikah. Ini pernikahan kedua setelah setahun lebih isteri pertamanya meninggal dunia. Aku terharu melihatnya bahagia.
Kuingat jelas di kepalaku saat sedih itu. Aku tidak tahu harus bicara apa, hanya memeluknya dan menangis.
Dea, anak yang ditinggal setelah lahir beberapa hari, terlihat sangat cantik dan penurut. Tuhan ingin kami mengingat ibunya, jadi anak itu mirip sekali dengan ibunya.
Setiap mengingat ini, aku pasti merinding dan kerap aku menangis. Kuputuskan untuk tidak memikirkannya lagi.
Aku memang tidak terlalu dekat dengan abangku ini, tapi ikatan antara kami telah semakin erat setelah kejadian itu.
6 Nov 2006, Tuhan membuktikan bahwa dia punya rencana indah di balik kedukaan kami. Ibuku terlihat sangat terharu dan aku tahu ibu bahagia. Sudah setahun lebih sejak ibu bapak berangkat ke Manokwari untuk menengok kelahiran Dea. Tapi ternyata tidak hanya kelahiran Dea yang didapati, tapi juga kepergian kakak tercinta. Dia meninggal beberapa hari setelah Dea lahir akibat gagal ginjal kronis yang dideritanya. Ginjalnya tidak kuat menerima transfusi darah untuk mengganti darah yang keluar setelah melahirkan.
Terobati sudah…
Hilang sudah kesedihan itu…
Sirna sudah…
6 Nov 2006, kami sekeluarga resmi berbesan dengan suku Jawa. Hahaha, lucu rasanya dan tak pernah terbayang. Aku tak mau ketinggalan. Kuhadiri seluruh acara adatnya meskipun kurang mengerti bahasa pengantarnya. Aku mengikuti lamaran, siraman sampai selesai resepsi. Sebenarnya acaranya banyak, tapi aku belum hafal namanya. Tapi tunggu saja, aku pasti mempelajarinya, hehe.
Terima kasih, Tuhan.

