Kerja Lagi

Inilah hari pertama bekerja setelah seminggu penuh berlibur dengan penuh kebahagiaan. Tapi ternyata cukup menyenangkan melihat kantorku dan kursi tercintaku setelah waktu yang lama.

Tadi pukul 6 pagi aku sudah meluncur ke stasiun kereta mengejar KRL pertama. Senangnya… Kereta pagi ini tidak sepadat biasanya, bahkan aku bisa memilih tempat berdiri yang enak (tapi tetep aja berdiri, :) ).

Kantor masih lengang waktu aku masuk, hanya beberapa satpam dengan senyum ramah tamah yang ga ilang-ilang, cleaning service yang langsung menyalami dan beberapa pegawai super rajin seperti aku. Melihat mesin absensi aja aku senang banget tah kenapa. Orang aneh…

Aku langsung menyalakan komputer untuk menulis post ini tanpa buang waktu. Dan kulakukan semuanya dengan senyum. Rasanya kok seperti masuk kuliah untuk pertama kali dulu ya, mendebarkan dan menyenangkan.

Gimana nih dengan teman-teman? Senang ga dengan hari pertama kerja ini? Jangan be-te ahh…

BTW, selamat lebaran buat teman-teman yang merayakan, it’s too late, but better than never, isn’t it?

Segelas Besar Susu

Cerita ini benar-benar menyentuhku pertama kali aku membacanya…

Suatu hari, seorang anak lelaki miskin yang hidup dari menjual asongan dari pintu ke pintu, menemukan bahwa di kantongnya hanya tersisa beberapa sen uangnya, dan dia sangat lapar.

Anak lelaki tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari rumah berikutnya. Akan tetapi anak itu kehilangan keberanian saat seorang wanita muda membuka pintu rumah. Anak itu tidak jadi meminta makanan, ia hanya berani meminta segelas air.

Wanita muda tersebut melihat, dan berpikir bahwa anak lelaki tersebut pastilah lapar, oleh karena itu ia membawakan segelas besar susu.

Anak lelaki itu meminumnya dengan lambat, dan kemudian bertanya, “berapa saya harus membayar untuk segelas besar susu ini ?” Wanita itu menjawab: “Kamu tidak perlu membayar apapun”. “Ibu kami mengajarkan untuk tidak menerima bayaran untuk kebaikan” kata wanita itu menambahkan. Read the rest of this entry »

Pita Kuning

Ikatkan Sehelai Pita Kuning Bagiku

Pada tahun 1971 surat kabar New York Post menulis kisah nyata tentang seorang pria yang hidup di sebuah kota kecil di White Oak, Georgia, Amerika. Pria ini menikahi seorang wanita yang cantik dan baik, sayangnya dia tidak pernah menghargai istrinya. Dia tidak menjadi seorang suami dan ayah yang baik. Dia sering pulang malam- malam dalam keadaan mabuk, lalu memukuli anak dan isterinya.

Satu malam dia memutuskan untuk mengadu nasib ke kota besar, New York. Dia mencuri uang tabungan isterinya, lalu dia naik bis menuju ke utara, ke kota besar, ke kehidupan yang baru. Bersama-sama beberapa temannya dia memulai bisnis baru. Untuk beberapa saat dia menikmati hidupnya. Sex, gambling, drug. Dia menikmati semuanya.

Bulan berlalu. Tahun berlalu. Bisnisnya gagal, dan ia mulai kekurangan uang. Lalu dia mulai terlibat dalam perbuatan kriminal. Ia menulis cek palsu dan menggunakannya untuk menipu uang orang. Akhirnya pada suatu saat naas, dia tertangkap. Polisi menjebloskannya ke dalam penjara, dan pengadilan menghukum dia tiga tahun penjara.

Menjelang akhir masa penjaranya, dia mulai merindukan rumahnya. Dia merindukan istrinya. Dia rindu keluarganya. Akhirnya dia memutuskan untuk menulis surat kepada istrinya, untuk menceritakan betapa menyesalnya dia. Bahwa dia masih mencintai isteri dan anak-anaknya. Read the rest of this entry »