Tertipu Aku

Apa aku terlalu lugu, polos atau naif?

Semalam temanku mengajak ketemuan di suatu tempat untuk membicarakan sesuatu yang “mengubah hidup” namun rahasia. Dari gaya berceritanya aku tangkap dia sangat bahagia dengan “sesuatu” itu. Coba tebak, hal pertama apa yang kupikirkan? Dalam umur yang segini, tentu saja aku menebak dia akan menikah dan ingin membicarakannya denganku. Apalagi yang bisa membuat orang bisa sebahagia itu? Lagian dia ga pernah mengajak ketemuan sebelumnya.

Pukul 7 malam, aku dan seorang korbanku-yang kuminta mengantarku ke tempat yang dimaksud-mengendarai motor membelah Jakarta yang macet, sumpek dan berasap. Aku juga tau korbanku belum makan dan kelelahan sehabis kerja, tapi karena aku telah menjelaskan apa kira-kira yang terjadi, dia pun mau dengan sangat terpaksa.

Setibanya di tempat itu, sedikit terkejut, agak konyol aku menyadari betapa polosnya aku. Tau ga itu pertemuan apa? Itu pertemuan presentasi sebuah bisnis sejenis MLM biner point system (atau apalah namanya). Aku tertipu dengan asumsi ku sendiri, rasanya dikibulin banget. Betapa anehnya saat itu. Buru-buru aku minta maaf pada teman yang udah mengantarku. Kulihat mukanya menjadi muram, aku jadi merasa sangat bersalah. Kasian dia punya teman yang sangat naif.

Konsep bisnisnya bagus, tapi ga baru bagiku. Aku pernah membaca buku tentang itu. Tapi terlepas dari sukses tidaknya masa depan bisnis ini, aku sendiri tidak terlalu tertarik untuk terlibat bisnis semacam MLM, karena aku merasa diarahkan untuk tujuan-tujuan tertentu yang bukan “aku”. Lagian aku bukan orang yang punya “feel bisnis” yang tajam, bisa dikatakan konservatif. Tapi ketika kulirik korbanku yang duduk di sebelah, kulihat muramnya sirna diganti dengan mata berbinar-binar, tertarik… nah lo..

Add. jadi ingat serial “Arisan”… motto MLM yang tak terlupakan “What is your dream?”