Retta
Bingung sih memulai kategori “friends of my life” ini. Tapi hatiku tertambat pada nama yang satu ini, Retta Sumihar Berliana Sitorus
. Nama dan wajahnya berkelebat begitu saja pas mandi sore kemarin. Abis dia juga ga punya friendster untuk dikasi testimoni sih… jadilah aku memberinya testi di sini.
Kalo kalian kenal aku waktu kuliah, tentu saja kenal dia, cantik-itulah kesan pertama saat melihatnya- mempesona, tinggi langsing (bak model), ribut, rajin dan pintar. Mmm, apa yang kurang darinya? Walah, jangan langsung bilang dia bidadari, karena Retta juga manusia, bukan bidadari atau malaikat dari sorga. Ribut, itulah ciri negatif yang paling mencolok. Tentu saja darah batak yang mengalir membuat dia bersuara keras, tapi mengapa kami yang batak-batak ini juga merasa dia terlalu ber-power?
(maap Ta..)
Tingkat satu STAN kukenal dia tapi g dekat, tau nama dan tampang doang, tapi jelas banget kalo dia langsung menarik perhatian kalo berdiri di keramaian, mungkin karena cantik dan putih tinggi kali ya…
Tingkat dua ternyata kami sekelas, senang sih akhirnya bisa mengenal si cantik ini, siapa sih ga senang berteman orang cantik. Tapi, ya ampun…ini diluar bayanganku yang terlalu indah. Bortus, begitu aku memanggilnya, suka terlambat masuk kelas, duduk di kursi terdepan, mengeluarkan kipasnya dan mulai gelisah kepanasan. Anehnya dosen-dosen sangat menyayanginya, jadi no problemo. Nilainya begitu baik saat itu, padahal aku hampir tenggelam di lautan mahasiswa DO. Aku tau dia memperolehnya dengan kerja keras dan aku kagum dengan usahanya itu
Tingkat tiga aku berdoa, Tuhan tolong kali ini berikan teman lain, biar wawasan luas gitu. Doa tidak dikabulkan. Ternyata Tuhan tau aku harus tetap bersama Retta agar aku bisa lebih sayang padanya. Perjuangan tingkat tiga kami jalani dengan lebih matang. Semangat juangnya sedikit mengalir padaku, terima kasih Ta.
Tingkat empat, nasib memisahkan kami di kelas yang berbeda, tapi ntah Tuhan mau apa, kelas kami selalu digabung selama satu semester. Aku ga tau apa yang terjadi sebelumnya, nilai-nilai Retta memburuk, dan ternyata dia sedang menghadapi masalah besar. Masalah ini pula yang sekarang membawa dia ke tingkat kedewasan lebih baik dan tentu saja menikah dengan suaminya sekarang. Selamat ya… Selamat menunggu Retta junior juga…
Jika mengingatmu Ta, ga bakal habis deh ceritanya…
Tuhan menciptakannya sangat unik, sulit dilupakan…
Tuhan menciptakannya untuk menjadi teman dan sahabat…
Aku tau kami sama punya banyak kekurangan, namanya juga manusia.

