Retta

Bingung sih memulai kategori “friends of my life” ini. Tapi hatiku tertambat pada nama yang satu ini, Retta Sumihar Berliana Sitorus :) . Nama dan wajahnya berkelebat begitu saja pas mandi sore kemarin. Abis dia juga ga punya friendster untuk dikasi testimoni sih… jadilah aku memberinya testi di sini.

Kalo kalian kenal aku waktu kuliah, tentu saja kenal dia, cantik-itulah kesan pertama saat melihatnya- mempesona, tinggi langsing (bak model), ribut, rajin dan pintar. Mmm, apa yang kurang darinya? Walah, jangan langsung bilang dia bidadari, karena Retta juga manusia, bukan bidadari atau malaikat dari sorga. Ribut, itulah ciri negatif yang paling mencolok. Tentu saja darah batak yang mengalir membuat dia bersuara keras, tapi mengapa kami yang batak-batak ini juga merasa dia terlalu ber-power? :)) (maap Ta..) Read the rest of this entry »

Ironi

Ada apa dengan Indonesia-ku? Ada apa dengan Tanah Air ini? Mengapa Tuhan mengizinkan ini terjadi atas negara ini? Pasti ada maksud-maksud tertentu… Coba kita melihat kembali diri kita masing-masing, ada apa sebenarnya.

Dua hal kecil yang mungkin saja menjadi kesalahan kita masing-masing… Read the rest of this entry »

Ketemu Gindo

Aku & Nirwana Akhir-akhir ini, aku tidak banyak belajar dari kehidupanku, padahal tentu saja, aku bisa memetik banyak hal darinya.

5 Juli malam, kami berempat ngumpul. Gindo datang dan mengajak kami (Da-Tar, Nir, aku) syukuran kelulusannya masuk ekstensi UGM.

Da-Tar & Gindo Kami makan bareng di Pizza HUT Bintaro Plaza.

Ah, senang banget dia kembali, apalagi dulu kirain dia akan tetap berada di Sorong untuk seterusnya (lebih kejam lagi … untuk selamanya, hehe).

Setelah becanda sana-sini, aku baru menyadari beberapa hal:

  1. Aku sudah cukup tua sekarang, hiks, meskipun mereka merasa sangat lucu membayangkan aku menikah dan hamil, kemudian punya anak. (Apanya sih yang lucu?). Kesadaran itu muncul, ketika kami mulai menghitung “berapa lama kami sudah berpisah?”, atau “siapa aja nih, teman kita yang udah menikah?”
  2. Banyak hal yang kulewatkan dalam hidupku. Misalnya belajar menerima kekuranganku atau lebih tepatnya lagi, berdamai dengan diri sendiri. Share seputar pekerjaan di antara kami menyadarkanku bahwa aku punya banyak kekurangan. Tapi pembicaraan itu juga tiba di kesimpulan kalau aku tidak akan berhenti di situ-situ saja
  3. Oh ya, aku juga sadar kalau ternyata kami masih seperti anak-anak, dengan badan orang dewasa, hek. Tapi, ga gitu-gitu amat kok, aku becanda. Soalnya, kami masih suka saling ledek, hina dia-hina kamu (apa coba?), seruduk sana sini, bahkan cubitan maut (alah nirwana ni…).

Reuni Kami

Tak seperti yang direncanakan dan tak seindah yang dibayangkan.

Tapi, paling tidak kami sudah berkumpul dan menemukan diri kami telah banyak berubah.

Reuni Kami di Cendrawasih VI

Dulu, kami masih polos. (Ehm…) Read the rest of this entry »